SALATIGA, MettaNEWS – PituRooms, berawal dari keterbatasan. Sebagai arsitek yang sering membuat bangunan dengan lahan yang luas, Ary Indra mendapat tantangan untuk membuat hunian pada lahan sempit. Dengan lebar muka hanya 2.8 meter, perlu orang yang tidak biasa untuk berani bertaruh untuk mewujudkan sesuatu yang belum pernah ada.
Ary Indra adalah Architect,Co-Founder of Aboday,Founder of SahabatSelojene dan Founder of PituRooms. Pebisnis lain mungkin menyebut imajinasi dan ide Ary cukup gila. Berani mempertaruhkan investasi pada lahan yang tidak laku-laku saat dijual karena sangat sempit.
“Awalnya lahan ini tidak laku-laku pas dijual. Lha gimana, lebar depannya Cuma 2.8 meter bahkan kalah lebar dengan gang sebelah ini. Buat ruko atau garasi mobil aja ga bisa. Ini perlu orang yang tidak biasa untuk berani bertaruh. Teman-teman saya ada yang tertarik dan ikut membantu. Kita buat sesuatu yang belum pernah ada. Bahkan saya cek di Guinness World Records belum ada neh ‘sesuatu’ yang akan kita buat ini,” kata Ary saat berbincang santai dengan mettanews.id di PituRooms Salatiga, Kamis (3/8/2023).
Terpikir ide ‘ajaib’ yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh pebisnis atau orang lain. Membuat dengan luasan yang harus pas dengan lahan yang ada’ lebar 2.5 meter, panjang 9,5 meter tinggi 17 meter dan hanya cukup 7 lantai.
“Nama hotel ini muncul dari guyonan khas Salatiga. Tiap ketemu dengan orang dari kota lain selalu muncul lelucon ini. Orang mana? Salatiga, dapat 7 dong. Nah kita abadikan jadi nama hotel ini PituRooms, lantai 7 dengan 7 kamar. Tapi PituRooms ini adalah brand yang akan kita kembangkan dalam bisnis yang lain,” paparnya.
PituRooms hotel lahir dari pandemi
Imajinasi konsep hotel tertipis di dunia ini lahir dari pandemi. Ary mengungkapkan saat pandemi banyak waktu bebas dan slow activity yang malah melahirkan produk ini.
“Ini produk pandemi. Lahan kita beli 2017 namun karena kesibukan saya lupa. Sampai pada saat pandemi banyak waktu bebas jadi baru terpikirkan. Awal 2020 saya kebut, mulai dari perizinan saya kerjakan sendiri. Persiapan konstruksi pada Mei 2021 dan setahun selesai,” ujar Ary.
Lahan, perizinan, konstruksi selesai bukan berarti tidak ada kendala. Ary menuturkan paling rumit dan lama pada proyek ini adalah pengerjaan interior serta sirkulasi udara yang baik.
“Ini bangunan tinggi dan kenyaman itu penting. Orang merasa Salatiga itu sejuk, tidak panas, bagaimana mengatur udara tiap ruangan yang mungil. Akhirnya Utama Bintang Erkonpersada (UBE) membantu kami. Tidak mudah lho mengatur dan peletakan AC untuk lahan yang kecil tapi tinggi. Apalagi saya yang cerewet soal estetika bangunan. UBE itu cepat dan rapi kerjanya, sehingga ruangan dan kamar kami terkenal sebagai kamar paling homy.
Banyak hal-hal yang tak terprediksi. Ary menceritakan pengalaman seru tiga hari sebelum launching PituRooms yang datang tiba-tiba.
“Saya sangat organik sekali jadi tidak ada gambaran akan seperti apa. Kita desain sambil jalan, ini yang paling lama. Hanya kita punya target 2022 Desember ini harus launching dan langsung terima tamu. Karena pertimbangan kita itu waktu yang tepat, pas dengan peak season,” jelasnya.
Tepat pada Desember 2022, PituRooms siap menerima tamu dengan buka 5 kamar untuk mengawali debut dalam industri perhotelan.
“Bangunan kecil ini tantangannya banyak. Mulai dari mekanikal, bed, toilet, semuanya kecil. Yang unik adalah trial eror nya saat sudah buka. Sprti air, listrik mati, flow nya jadi kelihatan di situ. Orang berpikir membuat bangunan kecil itu mudah. Padahal tantangannya lebih banyak karena space terbatas. Mulai dari logistic, struktur harus lebih teliti. Bahkan memasukan springbed jadi tantangan tersendiri bagi kami,” jelas Ary sambil tertawa mengingat masa-masa pre opening proyek sulapannya itu.
Masterpiece Salatiga Pride
Sebagai putra asli daerah, Ary ingin membuat masterpiece bagi Kota Salatiga, kota nan mungil, tenang, sejuk dan nyaman di tengah hiruk pikuk Indonesia.
“PituRooms adalah wujud generator ekonomi bagi Salatiga. Selain itu saya juga ingin ada sesuatu yang membuat saya ingin selalu kembali ke sini. Tempat ini untuk memulai perjalanan-perjalanan baru di tempat lain. PituRooms Salatiga menjadi masterplan yang akan kita duplikat ke daerah lain di Indonesia. Tidak harus hotel yang tipis lagi, tapi tetap konsepnya harus ekstrim. Misalnya lahan pinggir tebing, tengah laut dan lainnya. Untuk challenge bagi kami dan memberi pengalaman yang baru bagi customer,” tukasnya.
Dengan idealismenya, Ary ingin menghadirkan hunian menginap yang tidak generik seperti umumnya. Begitu memasuki lobi hotel yang terbuka nan mungil, customer akan melihat PituRooms yang sangat intim. Tampak karya seniman yang sangat unik mulai dari dokar, tumpang koyor yang menjadi kuliner khas kota ini, yang terangkum dalam Salatiga Pride. Ada lukisan Rawa Pening dan narasi untuk setiap kamar, dan beberapa dinding ruangan.
“PituRooms ini sesuatu dengan konteks spesifik. Keterbatasan ini yang kita jual. Di mana lagi kita bisa makan di tempat yang intim, tidur nyaman di tempat yang cozy. Keterbatasan jadi challenge dan jadi kelebihan kita,” tukasnya.
Sebagai hotel baru, digital marketing PituRooms melesat paling tinggi dan membuat penasaran warganet.
“Kami tidak ingin tamu ke sini karena penasaran. Tapi harus mendapat pengalaman. Kami menjual hal-hal yang selayaknya tidak dimiliki oleh hotel lain di Salatiga. Kembali lagi sebagus apapun desainnya yang dicari orang adalah menginap di hotel adalah kenyamanan, itu yang tetap jadi perhatian kami,” ungkapnya.
Dari satu masterpiece dengan keunikan dan kemegahannya, Ary mempunyai mimpi lagi untuk menyulap dan menduplikat ke daerah lain.
“Punya hotel itu membanggakan tapi ada catatannya tidak selalu menyenangkan. Setahun dari sekarang kami memperlancar operate PituRooms dan kita duplikasi di kota-kota lain menyesuaikan keunikan masing-masing kota tersebut,” pungkasnya.








