SORAK RIUH ambata rubuh, sisa-sisa Kurawa yang belum terbantai di Perang Bharatayudha, kembali bersemangat. Harapan bisa menang perang kembali muncul ketika Prabu Salya, mertua Duryudana raja Hastina, menyatakan kesediaannya untuk memimpin pertempuran sebagai senapati di pihak Kurawa.
Begitulah pentas itu dimulai, Sabtu (7/5/2022) malam. Pergelaran opera wayang orang kolosal di halaman Balai Kota Solo, mengambil lakon Jamus Kalimasada Mbrasta Memala, dipentaskan oleh sejumlah seniman kenamaan di Solo.
Panggungnya megah di tengah halaman Balai Kota, penonton luar biasa sabar menunggu pentas yang dimulai terlambat 1,5 jam karena hujan lebat. Musiknya keren, seperangkat gamelan yang dipadukan dengan instrumen musik modern seperti terompet, saxophone, biola dan drum.
Namanya saja opera, jelas ini bukan pentas wayang orang tradisional. Dialog yang sebagian dikemas dalam lagu –khas opera—disajikan dalam bahasa Indonesia. Maka, penggemar wayang mungkin merasakan kehilangan sesuatu yang penting, yakni kekuatan bahasa Jawa yang mewarnai dan menghidupkan lakon dalam setiap janturan, pocapan, suluk, antawecana dan seterusnya.
“Tontonan ini untuk warga Solo, menyemarakkan libur di hari raya Lebaran, sekaligus obat kangen pada event-event budaya yang selama dua tahun ini terhenti karena pandemi Covid-19,” tutur Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo, Aryo Widyandoko yang bersama Wakil Wali Kota Teguh Prakosa ikut menonton pentas, bersama ribuan penonton di halaman berumput yang basah sehabis hujan.
Lakon Jamus Kalimasada Mbrasta Memala diangkat dari naskah karya Bodot Budi Riyanto, pentolan teater di Solo dan disutradai Agung Kusuma. Didukung Dedek Wahyudi dan Gregorian Kris sebagai penata musik serta Dorothea Quin dan Wijanarko sebagai penata tari, maka sudah jelas seberapa serius dan berkelasnya pentas ini.
Greget pementasan terasa di awal, ketika mulut licik Patih Sengkuni berhasil menyudutkan Prabu Salya dengan tuduhan telah berkhianat. Lalu kebanalan kolektif para Kurawa digambarkan dengan riuh celometan, berjoget seronok suka ria padahal keberhasilan masih jauh dari tercapai.
Adegan demi adegan berkelebat dalam garapan yang apik, hingga Prabu Salya tersungkur karena ajian Candrabirawa nan sakti, kali ini terkalahkan oleh ajimat Jamus Kalimasada yang menaungi pembarep Pandawa, Prabu Dharmakusuma yang tampak lemah dan tak mampu berperang.
Penonton bersorak, bertepuk tangan. Tak beranjak hingga pentas berakhir menjelang tengah malam. Maka, bisa diketahui, pentas ini tampaknya benar-benar mampu menghibur dan mengobati kerinduan Wong Solo pada pentas kesenian.








