SOLO, Metta NEWS – Musisi sekaligus Aktivis Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) dan salah satu Pimpinan Pusat Pagar Nusa yang purna menembus dimensi spiritual pada lagu-lagu dan musiknya, Gus Sastro Adi dengan didukung beberapa musisi lainnya akan menggelar konser mini Musyahadah Cinta.
Lewat Suluk Musyahadah Cinta dengan tajuk Seni Mencintai dan Bertauhid Kepada Sang Pencipta, Gus Sastro Adi ingin mengajak masyarakat menempatkan musik tidak hanya sebagai sumber kesenangan belaka.
Pada pers conference Suluk Musyahadah Cinta yang diadakan di Studio Rekaman Lokananta, Selasa (26/4/2022) Gus Sastro Adi mengatakan hanya sedikit yang menyadari bahwa musik sebagai sesuatu yang amat sakral dari segala bentuk kesenian.
“Lihat saja, sesuatu yang tak bisa dinyatakan pelukis, bisa dijelaskan oleh penyair melalui rangkaian kata. Sesuatu yang sulit dinyatakan penyair, ternyata bisa dijelaskan secara gamblang oleh musisi dengan lagu dan musiknya,” kata Gus Sastro Adi dihadapan awak media.
Gus Sastro Adi memaparkan, sudah masyhur di kalangan para sufi, bahwa musik tidak semata bunyi-bunyian.
“Ia adalah ekspresi keharmonisan yang melimpah ruah dari seluruh alam semesta. Hal inilah kemudian menjadi rahasia dan kekuatan bagaimana musik mampu menyentuh kalbu pendengarnya menuju satu tujuan, Sang Pencipta,” ungkapnya.
Suluk Musyahadah dan Cinta Gus Sastro Adi adalah konser dan bentuk apresiasi kecil terhadap mahakarya yang bertumpu pada rasa cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad.
“Suluk ada awalan, jalan menuju acara yang lebih besar di Jakarta,” kata Gus Sastro Adi.

Tajuk konser yang akan digelar pada Rabu, 27 April 2022 di Taman Sunan Jogo Kali Surakarta ini diambil dari salah satu lagu Gus Sastro Adi; Musyahadah Cinta.
“Musyahadah cinta sejatinya adalah kisah perjalanan tauhid seorang hamba menuju Tuhan-nya. Sebuah keniscayaan dalam mencari Tuhan, sebelum ia mengenal jati diri dalam fitrah sesungguhnya, barulah ia akan menemukan begitu dekatnya Tuhan, bahkan melebihi cinta dan hidup itu sendiri. Sebagaimana digambarkan pada permulaan lirik lagu, Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu,” tuturnya.
Kata Musyahadah sendiri serumpun dengan kata Syahada, syahida yang berarti bersaksi, melihat, menghadiri.
“Lantas apa yang disaksikan atau dilihat? tidak lain adalah kasih sayangnya Allah, alam semesta yang tergelar ini, nafas, detak jantung apapun yang kita dengar, lihat dan rasakan, sejatinya menunjukkan bahwa segalanya diadakan dan dipelihara oleh Allah. Lantas apa yang menjadikan kita terhijab-terhalangi akan kebenaran sejati? Bisa jadi ke-Aku-an kitalah yang menjadi penghalang terbesar menuju Allah, lagu Musyahadah Cinta ini seolah menjadi cermin mawas diri bahwa kita itu nothing,” tegas Gus Sastro Adi.
Suluk Musyahadah Cinta juga akan dimeriahkan oleh Wafiq Azizah, Ega HQ, Abdullah Wong, Ki Ardhi Poerboantono, Dadang W Saputra dan NU Light Orchestra.
Wafiq Azizah (lahir 4 Mei 1987) adalah penyanyi lagu-lagu religi dan shalawat Nabi di Indonesia. Ia juga tercatat pernah menjuarai lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) cabang Qari’ah Tingkat ASEAN.
Pada Suluk Musyahadah Cinta, Wafiq akan membawakan lagu musisi legendaris Alm Didi Kempot. Lagu Sewu Kutho milik maestro campursari itu akan dinyanyikan dalam bahasa arab dengan aransemen berbeda.
“Ada lagu religi, ada lagu dengan bahasa Arab. Dari lagu-lagu ini saya berharap para santri dan masyarakat bisa familiar dan mendalami bahasa Arab lewat lagu,” pungkas Wafiq.









