Runtuhnya Pagar Keraton, Doa Tetesing Luh ing Kartasura Menggema

oleh
Keraton Kartasura
Keraton Kartasura gelar doa bersama Tetesing Luh ing Kartasura atas rusaknya pagar keraton, Sukoharjo, (23/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SUKOHARJO, MettaNEWS – Runtuhnya pagar Keraton Kartasura merupakan kesedihan panjang. Menjadi sebuah peringatan bagi warga yang berbudaya. Selayaknya peninggalan cagar budaya yang memiliki sejarah dan peranan penting bagi kehidupan di masa kini dapat terus dijaga. Rasa prihatin yang dialami warga sekitar Keraton Kartasura diwujudkan dalam bentuk doa bersama.

Tetesing Luh ing Kartasura, acara doa yang diinisiasi para pemerhati, pelaku, pecinta dan pegiat budaya digelar di Keraton Surakarta, Sabtu (23/4/2022). Dihadiri pegiat budaya dari berbagai darerah tidak hanya warga sekitar, doa dan lantunan tembang menggema.

Inisiator Tetesing Luh ing Kartasura, Agung Bakar mengatakan acara ini digelar untuk mengingatkan kepada semua masyarakat Indonesia, tidak hanya di Kartasura.

“Dengan doa lah yang bisa kita lakukan bersama-sama komunitas pegiat budaya di Solo dan sekitarnya. Semoga dengan ini semua akan mengantarkan kita untuk merawat dan menjaga cagar budaya yang tersisa,” ujar Agung saat ditemui usai acara, Sabtu (23/4/2022).

Merasakan keprihatinan yang sama, Komunitas pegiat dan pecinta dari Yogyakarta juga ikut menjadi salah satu bagian dari 70 komunitas yang ada.

“Ini adalah bukti dari kecintaan kawan komunitas. Mereka masih mencintai negeri ini berupa bangunan cagar budaya peninggalan situs sejarah masa lalu yang sangat berarti dan kita dudukan pada posisi yang mulia,” terangnya.

Setelah acara tersebut, pihaknya akan mengawal proses hukum yang berwajib bersama bagian pengadaan barang dan kasa (BPBJ) Jawa Tengah.

“Monggo nanti yang terbaik yang seperti apa itu menjadi kewenangan dari pihak berwajib. Besar harapan kami untuk kedepannya bisa menjaga situs peninggalan cagar budaya lainnya yang ada di Sukoharjo ini. Semoga dari Kartasura ini menjadi cambuk dan peringatan bersama untuk nguri-uri budaya,” harapnya.

Sebuah peninggalan Kerajaan Mataram Yogyakarta dan Solo, Keraton Kartasura menjadi cikal bakal jadi peradaban Mataram. Pastinya peninggalan ini sudah sepatutnya ditempatkan pada posisi yang penting.

“Meskipun orang lihatnya hanya gundukan batu bata tapi memiliki sejarah masa laku yang mahal sekali bagi kami. Masih ada puing-puing sejarah. Jangan sampai ini musnah dan hanya jadi tersirat itu mungkin akan menjadi hal yang menjijikan bagi generasi mendatang,” tegasnya.