Ruang Terbuka Hijau di Solo Masih Kurang 352 Hektare, Pemkot Manfaatkan Teknik Ini

oleh
oleh
Giat penanaman 1000 bibit pohon di bantaran sungai Danukusuman oleh Walikota Gibran dan Rotary Club Solo Kartini | Metta News / Puspita

SOLO, Metta NEWS – Pada kegiatan Penyerahan 1000 Bibit & Peresmian Kebun Agro Rotary, Walikota Solo Gibran Rakabuming menyebut kebutuhan ruang terbuka hijau di Solo masih sangat kurang. 

Gibran menjelaskan secara aturan luasan ruang terbuka hijau (RTH) publik adalah 20% dari luasnya kota. Namun pemenuhan RTH tersebut cukup terhambat mengingat Solo adalah kota yang kecil dan merupakan kota yang sudah lama terbangun. 

“Masih kurang untuk ruang terbuka hijaunya, nanti kita kejar lagi ya. Masih jauh dari target, yang jelas kurang banyak, nanti kita tambah,” tegasnya. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta Gatot Sutanto  menambahkan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Solo baru berada di posisi 12.45% sehingga bila disesuaikan aturan masih kurang 7.55% atau seluas 352.64 hektare. 

Menurut Gatot, langkah untuk memenuhi luasan RTH tersebut adalah dengan membeli lahan, namun hal tersebut juga sulit untuk dilakukan. 

“Kalau secara aturan ya harus beli lahan sekitar 352 Ha. Tapi kan di Solo banyak kendala, kalaupun punya uang untuk membeli lahan seluas itu apa ada yang lahannya mau dibeli seluas itu,” tandas Gatot ketika dihubungi melalui pesan WA, Rabu (20/4/2022).

Menyiasati kondisi tersebut Gatot mengatakan Pemerintah Kota mencoba mensubstitusi fungsi dari RTH tersebut lewat beberapa cara. 

“Fungsi ekologis yang kita upayakan tetap menjadi rujukan seperti pohon yang mempunyai fungsi untuk keteduhan, menghasilkan oksigen, mengurangi peningkatan suhu lingkungan mikro, menyerap polusi, ini yang kita upayakan,” paparnya. 

Mengupayakan lahan sempit dengan banyak pepohonan yang menaungi ruas jalan menjadi salah satu cara untuk mensubstitusi fungsi RTH yang belum bisa terpenuhi ini. 

“Lahannya sempit tapi ada banyak pohon yang daunnya menaungi ruas jalan, ada tanaman merambat. walau luas lahannya sempit tapi dedaunannya meluas sehingga fungsi ekologisnya relatif banyak,” ungkapnya. 

Selain dari pohon, Gatot menambahkan fungsi lahan sebagai resapan air salah satunya dengan memperbanyak sumur-sumur resapan. 

“Sehingga dengan lahan yang sempit bisa menampung run off yang banyak bahkan bisa melebihi luasan lahan hijau yang biasa,” pungkasnya.