AKITO Global Group Gandeng KADIN Surakarta Solo Disiapkan Jadi Tuan Rumah Global Business Forum Juni 2027

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Surakarta menyambut antusias kunjungan AKITO Global Group of Companies yang membawa tawaran kerja sama strategis di bidang investasi, perdagangan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga jejaring bisnis internasional. Salah satu agenda utama yang dibahas adalah rencana penyelenggaraan Global Business Forum di Kota Solo pada 3–6 Juni 2027, bertepatan dengan momentum perayaan Tahun Baru Jawa atau 1 Suro.

Pertemuan berlangsung di Kantor KADIN Kota Surakarta, Sabtu (7/11/2026), dengan dihadiri Founder AKITO Global Group & Companies, K.R.A. Albert Cheng Ming Hua Condronagoro, bersama rombongan, di antaranya Simon Hong, Allen Tang, Takao Kusunoki, serta sejumlah pelaku usaha dan perwakilan lembaga terkait.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal penjajakan kolaborasi antara KADIN Surakarta dan AKITO Global Group untuk membuka peluang investasi, perdagangan, pemasaran, pengembangan jaringan usaha, serta kerja sama bisnis di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Pengurus KADIN Surakarta Farid Sunarto dalam prakata pembuka menyampaikan bahwa KADIN Surakarta menyambut baik kunjungan dan gagasan kerja sama yang ditawarkan AKITO Global Group. Menurutnya, pertemuan ini menjadi kesempatan untuk membangun peluang kolaborasi strategis, termasuk rencana penyelenggaraan Business Networking and Forum.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah yang mempertemukan pelaku usaha, investor, dan mitra potensial dari berbagai negara sekaligus memperluas akses pasar dan investasi bagi dunia usaha di Solo Raya.

Febri Hapsari: Solo Dipilih karena Budaya dan Potensi Bisnis

Wakil Ketua KADIN Surakarta, Febri Hapsari Dipokusumo, mengungkapkan bahwa sebelum mengunjungi KADIN, rombongan AKITO Global Group telah bertemu dengan Wali Kota Surakarta Respati Ardi untuk menyampaikan maksud kedatangan dan rencana kerja sama mereka.

Febri menyampaikan dari pertemuan tersebut, Wali Kota Surakarta menyambut baik gagasan tersebut dan siap menghubungkan jejaring bisnis global AKITO dengan pengusaha lokal, UMKM, serta perguruan tinggi di Surakarta.

Febri mengatakan, salah satu hal menarik dari kunjungan tersebut adalah alasan AKITO memilih Solo sebagai lokasi pengembangan jejaring bisnis internasional.

“Saya juga tanya, ‘Why you choose Solo?’ Dia bilang, ‘Jakarta is too busy and Bali is too crazy’,” ungkap Febri, mengutip alasan yang disampaikan pihak AKITO.

Febri menjelaskan, ketertarikan AKITO terhadap Solo tidak hanya didasarkan pada peluang ekonomi, tetapi juga kekayaan budaya dan karakter masyarakat Jawa yang dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat internasional.

Rombongan AKITO sebelumnya juga telah mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta. Mereka juga mengunjungi Museum Batik dan sejumlah destinasi budaya lainnya.

Febri menyebutkan, rencana Global Business Forum akan berlangsung pada 3–6 Juni 2027. Pemilihan waktu tersebut berkaitan dengan keinginan rombongan AKITO untuk menyaksikan secara langsung rangkaian tradisi 1 Suro di Solo.

“Jadi nanti bulan Juni, antara tanggal 3 sampai 6 mereka akan mengadakan Global Business Forum. Kenapa memilih Juni? Ingin menghadiri Upacara 1 Suro,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, AKITO menargetkan kehadiran sekitar 40 hingga 60 pengusaha dan investor dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Jepang, China, serta negara-negara dalam kelompok BRICS.

Selain forum bisnis, kegiatan tersebut juga direncanakan menghadirkan booth promosi bagi produk dan usaha lokal agar dapat diperkenalkan langsung kepada calon mitra internasional.

Febri juga mengungkapkan adanya peluang promosi produk batik Solo ke pasar Malaysia. Dalam pertemuan sebelumnya, telah muncul pembicaraan awal mengenai pemesanan seragam batik untuk sekitar 20 sekolah di Malaysia melalui Batik Kauman.

“Jadi kemarin Mas Ketum sudah ada sedikit kesepakatan dengan Batik Kauman. Mungkin nanti teman-teman yang lain bisa menawarkan. Di Malaysia itu setiap hari Kamis adalah hari batik. Setiap Kamis pakai batik. Jadi ini peluang,” katanya.

Menurut Febri, peluang kerja sama tersebut bahkan berpotensi mencakup pembelian kain sekaligus proses penjahitan di Solo.

Tidak hanya itu, AKITO juga merencanakan kunjungan enam influencer asal Jepang pada Februari 2027 untuk membantu mempromosikan potensi Solo dan produk-produk lokal.

Febri menilai berbagai rencana tersebut dapat menjadi peluang baru bagi pengusaha dan pelaku UMKM di Surakarta.

Ia juga menyampaikan gagasan pengembangan potensi Javanese wellness atau wisata kebugaran berbasis budaya Jawa. Hal itu sejalan dengan peluang yang sebelumnya diperoleh dalam kegiatan Sales Mission Kementerian Pariwisata di Sentul.

“Mas Wali juga menekankan Javanese wellness, terutama nanti pada saat Juni, bulan Juni, Javanese New Year,” ujarnya.

Febri berharap kerja sama ini dapat memberikan angin segar bagi perekonomian daerah sekaligus memperkuat posisi Solo sebagai destinasi budaya, wellness, dan bisnis internasional.

Ferry Indrianto: Solo Raya Harus Kembali Menjadi Pintu Gerbang Ekonomi ASEAN

Ketua KADIN Surakarta, Ferry S. Indrianto, menegaskan bahwa kerja sama dengan AKITO harus diarahkan pada upaya menciptakan nilai tambah ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan menghubungkan potensi industri Solo Raya dengan rantai pasok global.

Menurut Ferry, Solo Raya memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kawasan industri tekstil yang kuat di ASEAN. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki kualitas sumber daya manusia, kompetensi, dan karakter yang dapat menjadi modal penting dalam membangun kembali kekuatan ekonomi kawasan.

“KADIN adalah organisasi yang bergerak di dunia usaha, menggerakkan ekonomi. Menggerakkan ekonomi tentunya adalah kata kuncinya menciptakan nilai tambah,” kata Ferry.

Ia berharap kerja sama dengan AKITO dapat mendorong terbentuknya kawasan ekonomi yang lebih produktif, baik dalam pengembangan produk maupun jasa.

“Kalau bisa, harapan saya juga bisa kita sambung dengan rantai pasok global, new global order. Kita tidak bisa berdiri sendiri. Pasti kita mengikuti prasyarat apa saja yang harus dipenuhi supaya produktivitas di Solo Raya ini layak kembali menjadi pintu gerbang ASEAN,” ujarnya.

Ferry menilai pasar Indonesia yang besar harus menjadi peluang bagi pengembangan kawasan industri dan produk unggulan Solo Raya.

Ia juga menyoroti keunggulan sumber daya manusia di Solo Raya yang menurutnya memiliki potensi besar untuk mendukung perkembangan industri, bahkan dibandingkan sejumlah kawasan industri di Pulau Jawa.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Ferry menyebut setidaknya ada tiga aspek utama yang perlu diperkuat, yakni kualitas SDM, kepastian hukum, dan ketersediaan modal.

Pertama, pengembangan SDM harus disesuaikan dengan kebutuhan rantai pasok global melalui penguatan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Ferry memberikan apresiasi terhadap Malaysia yang dinilainya berhasil mendorong transformasi pendidikan menuju bidang STEM melalui kebijakan dan pemberian insentif.

“Saya sangat terkejut juga dengan Malaysia. Malaysia telah mengonversi sumber daya manusianya itu ke STEM, yang mana awalnya mahasiswa mungkin mengambil hukum, didorong untuk mengambil STEM, kemudian diberi insentif,” ungkapnya.

Ia berharap kerja sama dengan AKITO dapat membuka kesempatan bagi Solo Raya untuk mengembangkan ekosistem STEM melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan, tenaga ahli, serta lembaga berakreditasi internasional.

Ferry menyebut sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Slamet Riyadi (UNISRI), serta lembaga pendidikan vokasi memiliki potensi untuk dikonsolidasikan dalam pengembangan SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Kami siap untuk mengawal. Apakah nanti ekosistem STEM perlu dilekatkan dengan ekosistem STEM yang di Malaysia? Ayo. Perlu kita datang dengan tenaga ahli dari luar yang berakreditasi internasional untuk STEM? Ayo, kita siap,” tegasnya.

Aspek kedua adalah kepastian hukum dan regulasi. Ferry menilai sinergi antardaerah sangat diperlukan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Dalam konteks tersebut, KADIN Surakarta telah mendorong kerja sama aglomerasi Solo Raya yang melibatkan tujuh wilayah daerah.

Ia mengingatkan bahwa secara historis Surakarta memiliki wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan Kota Surakarta saat ini.

“Makanya dalam konteks tadi tentang kita mendorong bagaimana bisa menciptakan kawasan berbarengan dengan AKITO, monggo. Apakah nanti ekosistem STEM perlu dilekatkan dengan ekosistem STEM yang di Malaysia? Kita siap,” katanya.

Aspek ketiga adalah permodalan. Ferry menilai investasi asing atau foreign direct investment (FDI) sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan industri dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Ia menyoroti perbedaan biaya pendanaan di sejumlah negara yang menurutnya menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing investasi.

“Jepang kalau FDI itu satu persen per tahun kira-kira. Kalau sekarang di Vietnam 4,5 persen per tahun, Malaysia juga 4 persen per tahun, Singapura 2 persen per tahun. Indonesia hari ini 11,75 persen per tahun. Artinya kurang kompetitif dan ini menjadi peluang untuk AKITO, bagaimana caranya bisa menggandeng modal tadi,” jelas Ferry.

Menurutnya, kehadiran AKITO dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan kebutuhan investasi di Solo Raya dengan sumber pendanaan dan jaringan bisnis internasional.

Ferry juga menilai budaya komunikasi dan kolaborasi bisnis antarnegara ASEAN masih perlu diperkuat.

“Kalau di negara Barat, antarnegara Barat itu selalu bicara komplementer. Apa yang Anda butuhkan, apa yang bisa saya produksi untuk tempat Anda? Itu saling melengkapi. Nah, budaya saling melengkapi ini memang kurang di ASEAN,” ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia dan Solo Raya membutuhkan FDI karena kemampuan fiskal dan moneter dalam negeri masih memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan investasi.

“Indonesia, Solo Raya, membutuhkan FDI, foreign direct investment. Kita lihat dari kacamata fiskal dan moneter, kita sangat-sangat terbatas di Indonesia. Mau dari pajak, mau dari uang berputar, mau dari nilai ekonomi yang sangat-sangat kecil. Mau enggak mau kalau ingin mudah, ya tarik FDI,” katanya.

Ferry juga menyoroti perubahan kebutuhan industri seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Karena itu, menurutnya, pengembangan SDM harus benar-benar disesuaikan dengan perubahan kebutuhan dunia usaha.

Ia berharap penyelenggaraan Global Business Forum pada Juni 2027 dapat menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut sekaligus membuka jalan bagi masuknya investasi ke Solo Raya.

“Kita juga pasti akan mengusahakan, kalau bicara Solo jangan hanya Kota Surakarta. Kota Surakarta itu the whole of Solo Raya. Itu namanya baru kembali kepada kita, kembali kepada definisi awalnya, Surakarta awal,” tegasnya.

Albert Cheng: Budaya Jawa Menjadi Jendela Memperkenalkan Solo kepada Dunia

Founder AKITO Global Group & Companies Japan, China, USA, dan Malaysia, K.R.A. Albert Cheng Ming Hua Condronagoro, menyampaikan bahwa salah satu tujuan utama kunjungannya adalah membangun hubungan bisnis internasional dengan memanfaatkan kekuatan budaya dan karakter masyarakat Solo.

Dalam paparannya, Albert mengangkat empat agenda utama, yakni perkembangan ekonomi global menuju 2050, posisi strategis Surakarta, peluang pengembangan bisnis, serta proposal kerja sama melalui penyelenggaraan Global Business Conference atau Global Business Forum.

Albert menilai budaya merupakan pintu masuk paling efektif untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dan pelaku usaha internasional.

“Program yang tadi, saya rasa memang bagus kalau kita ada satu program untuk global business conference, business forum supaya lebih ramai orang-orang luar, orang asing, businessman atau investor-investor yang mengenali Indonesia lebih mendalam,” kata Albert.

Menurutnya, kekayaan budaya Solo dapat menjadi jendela bagi masyarakat asing untuk memahami Indonesia, sebelum kemudian melihat berbagai peluang bisnis yang dapat dikembangkan.

“Budaya adalah satu window, satu jendela yang paling senang untuk kita tunjukkan kepada orang-orang asing. Dari situ, mereka akan memahami. Macam orang Jepang memahami apa kaitan Jepang dengan Solo, orang Tiongkok dengan Solo, dan mereka akan memahami dan akan cuba fikirkan bisnis,” jelasnya.

Albert juga menyampaikan prinsip yang selama ini menjadi landasan dalam membangun hubungan bisnis internasional.

“So, I always believe that friends make business, instead of business make friends,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa hubungan pertemanan dan kepercayaan harus dibangun terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kerja sama bisnis.

“Disebabkan dengan Bapak, saya sekarang ini sudah teman, jadi saya akan fikirkan apa bisnis yang saya akan buat bersama. Bukannya sudah bisnis jadi kawan. Kita berkawan dulu, berteman-teman baru bisnis. Itu yang saya harap kita boleh kerja sama dengan KADIN,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai alasan memilih Solo, Albert kembali menegaskan bahwa dirinya mencari kota yang memiliki suasana lebih harmonis dan nyaman untuk membangun hubungan bisnis jangka panjang.

“I don’t want to be too tense like Jakarta, and too crazy like Bali. Kadang-kadang kita pergi Jakarta bagus, Bali oke, relax, bagus, tapi bukan setiap hari,” ungkapnya.

Selain suasana kota, Albert mengaku terkesan dengan keharmonisan kehidupan masyarakat Jawa Tengah yang dinilainya memiliki keunikan tersendiri.

Ia melihat masyarakat dengan latar belakang agama, kepercayaan, budaya, dan etnis berbeda dapat hidup berdampingan dengan baik.

“Yang sangat penting adalah keharmonisan di Jawa Tengah. Di sini saya pun surprise, agama, semua boleh bergaul bersama. Kalau dibandingkan dengan Malaysia, ada beberapa hal yang tidak mudah dilakukan. Tapi di sini ada Mataram, Javanese. Yang ini saya rasa memang sesuatu yang sangat unik,” tuturnya.

Pengalaman mengunjungi Museum Batik juga memberikan kesan tersendiri bagi Albert. Ia melihat batik sebagai bagian dari identitas dan DNA budaya Indonesia yang mencerminkan keharmonisan.

“Jadi saya boleh lihat Indonesia ini DNA-nya memang keharmonisan. Semua orang yang tinggal di sini, Jepang, apa saja, etnis, dan semua orang Indonesia. Ini memang kalau saya di Malaysia, memang susah kita mahu dapat yang DNA ini,” katanya.

Albert juga memiliki gagasan untuk memperkenalkan budaya Jawa secara lebih luas melalui konsep International Javanese Day atau Hari Jawa Internasional.

Gagasan tersebut dilandasi keyakinannya bahwa budaya Jawa memiliki potensi besar untuk dikenal masyarakat dunia dan menjadi kekuatan diplomasi budaya sekaligus pintu masuk pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata.

Terkait rencana Global Business Forum pada Juni 2027, Albert berharap kegiatan tersebut dapat mendatangkan lebih banyak pengusaha dan investor asing ke Solo sekaligus membuka kesempatan bagi pengusaha lokal untuk mengembangkan bisnis ke luar negeri.

“Yang diharapkan kalau Juni ini ada lebih ramai yang datang mengenali Indonesia dan juga ada kesempatan untuk orang-orang, businessman, pengusaha lokal untuk cari kesempatan untuk keluar. Itu yang saya mahu lihat,” jelasnya.

Untuk tahap awal, AKITO menargetkan kehadiran sekitar 40 hingga 60 peserta dari berbagai negara melalui jaringan bisnis yang dimiliki para mitranya.

“Jadi mungkin Kapitan Simon bisa bawa dari Malaysian Chinese, Allen dari Tiongkok, dari apa, Pak Takao dari Jepang. Jadi saya fikirkan kalau ada 40 atau 60 orang, itu adalah satu yang paling baik, target pertama,” ungkap Albert.

Peluang Baru bagi Ekonomi dan Promosi Internasional Solo

Rencana kolaborasi KADIN Surakarta dan AKITO Global Group diharapkan tidak berhenti pada pertemuan penjajakan, tetapi berlanjut menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi pelaku usaha daerah.

Sejumlah peluang yang mengemuka meliputi pengembangan investasi asing, promosi produk UMKM, kerja sama industri tekstil dan batik, penguatan pendidikan vokasi dan STEM, pengembangan SDM, perdagangan internasional, serta promosi budaya dan pariwisata berbasis wellness.

Bagi KADIN Surakarta, kerja sama tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi Solo Raya sebagai kawasan yang memiliki daya saing industri, kualitas SDM, serta konektivitas investasi internasional.

Sementara bagi AKITO, Solo bukan hanya menjadi tempat penyelenggaraan forum bisnis, tetapi juga representasi kekayaan budaya dan keharmonisan masyarakat Jawa yang dapat diperkenalkan kepada dunia.

Pertemuan ini pun membuka harapan baru agar kekuatan budaya, pendidikan, dan ekonomi Solo dapat berjalan beriringan dalam membangun jejaring bisnis internasional yang lebih luas.