SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengingatkan generasi muda agar lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal, penggunaan paylater yang tidak terkendali, hingga judi online.
Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan MES Surakarta dan ASBISINDO Goes to School bertema Gaya Hidup Halal Gen-Z di aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Surakarta, Sabtu (31/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Astrid mengajak para pelajar menerapkan nilai-nilai halal dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, gaya hidup halal tidak hanya berkaitan dengan pemilihan makanan dan minuman, tetapi juga menyangkut pergaulan, kesehatan mental, penggunaan teknologi, hingga pengelolaan keuangan.
Astrid yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta menegaskan, gaya hidup halal merupakan bagian dari pembentukan karakter generasi muda agar mampu mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Gaya hidup halal bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan anak muda. Banyak keputusan yang dibuat Gen Z setiap hari, mulai dari apa yang dikonsumsi, bagaimana mengelola uang, menjaga kesehatan mental, sampai bagaimana menggunakan teknologi, berkaitan dengan pilihan hidup yang baik dan bertanggung jawab,” kata Astrid.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya literasi keuangan syariah sejak dini. Kemudahan akses layanan keuangan digital, menurutnya, harus diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko serta kemampuan mengendalikan perilaku konsumtif.
Astrid menilai generasi muda saat ini memiliki kecakapan dalam memanfaatkan teknologi. Namun, kemampuan tersebut perlu diikuti kecerdasan dalam mengelola keuangan agar tidak terjebak pada berbagai tawaran layanan finansial yang berisiko.
“Saya menilai anak-anak muda sekarang, Gen Z, sudah cerdas, tidak hanya dalam mengelola diri dan bijak dalam bermedia sosial, tetapi juga harus cerdas dalam pengelolaan keuangan,” ujarnya.
Pentingnya edukasi keuangan syariah juga tercermin dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Dalam survei tersebut, indeks literasi keuangan syariah Indonesia tercatat sebesar 43,07 persen. Sementara indeks inklusi keuangan syariah baru mencapai 13,24 persen.
Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara tingkat pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah dengan pemanfaatan produk dan layanan keuangan syariah.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat sebanyak 76 persen Generasi Z mempelajari keuangan pribadi melalui media sosial. Namun, 83 persen di antaranya mengaku pernah terpapar informasi keuangan yang keliru.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri karena generasi muda membutuhkan kemampuan untuk memilah informasi, memahami risiko, serta mengambil keputusan finansial secara tepat.
Kegiatan MES Surakarta dan ASBISINDO Goes to School dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai penerapan prinsip syariah dalam berbagai aspek kehidupan generasi muda.
Materi yang diberikan tidak hanya membahas pemilihan makanan halal, tetapi juga busana, pergaulan sehat, kesehatan mental, perencanaan keuangan, hingga persiapan pernikahan.
Sejumlah narasumber turut dihadirkan untuk memberikan perspektif dari berbagai bidang. Mereka yakni Ketua KPMI Korwil Solo Dedhy Prihtiantoro, perwakilan OJK Widiyansyah Maulana, Psikiater RS UNS dr. Halim Tazer Kusuma, serta Direktur BPRS Insan Mulia Rusmiati.
Melalui kegiatan tersebut, MES Surakarta bersama ASBISINDO DPW Solo Raya berharap pemahaman generasi muda mengenai ekonomi dan gaya hidup halal semakin meningkat.
Edukasi sejak bangku sekolah diharapkan dapat menjadi bekal bagi Gen Z untuk membangun kebiasaan positif, menjaga diri, serta lebih cermat dan bertanggung jawab dalam menentukan pilihan di tengah pesatnya perkembangan era digital.








