SOLO, MettaNEWS – Sebanyak 1.356 siswa SMKN 7 Solo mengikuti pemungutan suara pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Kamis (15/10/2026). Pemilihan yang melibatkan empat kandidat dan digelar di 30 tempat pemungutan suara (TPS) tersebut menjadi sarana pembelajaran demokrasi bagi para siswa.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surakarta turut hadir dalam puncak rangkaian kegiatan kokurikuler itu. Ketua KPU Kota Surakarta, Yustinus Arya Artheswara, bersama tim Partisipasi Masyarakat (Parmas) hadir di Aula SMKN 7 Surakarta untuk mendukung pendidikan pemilih di lingkungan sekolah.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SMKN 7 Surakarta, Drs. Y. Sugeng Prihanto, M.Pd. Ia menyampaikan bahwa pemilihan Ketua OSIS merupakan sarana pembelajaran kepemimpinan sekaligus pengenalan demokrasi bagi siswa.
Sugeng juga mengapresiasi kehadiran KPU Kota Surakarta yang memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran demokrasi di sekolah.
Dalam kesempatan tersebut, Yustinus Arya Artheswara mengingatkan para siswa agar tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan popularitas atau siapa yang paling dikenal. Menurutnya, pemilih perlu memahami visi, misi, dan program kerja setiap kandidat sebelum menentukan pilihan.
“Adik-adik harus menjadi pemilih yang cerdas. Kenali visi dan misi masing-masing calon, pahami program yang mereka tawarkan, kemudian tentukan pilihan dengan pertimbangan yang matang. Pilihan kalian akan ikut menentukan arah dan kemajuan OSIS di sekolah ini,” ujar Arya.
Ia menegaskan, pemilihan Ketua OSIS dapat menjadi pengalaman awal bagi siswa untuk memahami proses demokrasi secara langsung, termasuk pentingnya mempertimbangkan gagasan dan program calon pemimpin.
Perbedaan Pilihan Harus Tetap Dihargai
Selain mengajak siswa menjadi pemilih yang cerdas, Arya juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan.
Menurutnya, demokrasi bukan hanya tentang menentukan siapa yang menang, melainkan juga bagaimana setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya dan tetap menghormati keputusan bersama.
“Siapa pun yang terpilih, mari kita dukung bersama. Perbedaan pilihan tidak boleh membuat kita terpecah, karena tujuan akhirnya tetap sama, yaitu membawa SMKN 7 Surakarta menjadi lebih baik,” tambahnya.
Bagi para siswa, pemilihan Ketua OSIS menjadi kesempatan untuk merasakan secara langsung proses demokrasi yang selama ini lebih sering mereka saksikan dalam pemilihan umum.
Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar bahwa memilih pemimpin membutuhkan pertimbangan matang, bukan sekadar mengikuti pilihan teman. Mereka juga diajak memahami bahwa setiap suara memiliki arti dalam menentukan arah organisasi.
Salah seorang siswa peserta pemilihan mengaku senang dapat terlibat langsung dalam menentukan pemimpin OSIS. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus menambah pemahamannya tentang demokrasi.
“Seru karena kami bisa ikut menentukan siapa yang akan menjadi Ketua OSIS. Kami juga belajar untuk tidak asal memilih, tetapi melihat visi, misi, dan program setiap calon. Walaupun pilihan kami berbeda, kami tetap harus saling menghargai,” ungkapnya.
Sekolah Jadi Ruang Pendidikan Demokrasi
KPU Kota Surakarta terus mendorong kolaborasi dengan sekolah dan berbagai elemen masyarakat untuk mendekatkan pendidikan pemilih kepada generasi muda.
Lingkungan sekolah dinilai menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis, keberanian menentukan pilihan, serta tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.
Melalui pemilihan Ketua OSIS, siswa tidak hanya belajar mengenai tata cara pemungutan suara, tetapi juga memahami nilai-nilai demokrasi, seperti menghargai perbedaan, menerima hasil pemilihan, dan mendukung pemimpin terpilih.
Kegiatan ini diharapkan menjadi bekal bagi para siswa ketika kelak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum. Dengan pemahaman yang diperoleh sejak bangku sekolah, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pemilih yang cerdas, mandiri, dan berintegritas.
Bagi KPU Kota Surakarta, pendidikan demokrasi sejak dini merupakan bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai arti suara dan tanggung jawab dalam menentukan pemimpin.
Demokrasi yang kuat tidak hanya dibangun saat pemilihan umum berlangsung, tetapi juga melalui proses pembelajaran dan pembiasaan menghargai pilihan sejak lingkungan sekolah.








