SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, resmi menutup AI&Me Solo Road Safety Festival yang digelar Transportologi di SMP Khusus Olahraga (SKO) Kota Surakarta, Sabtu (10/10/2026) malam. Festival ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran keselamatan berlalu lintas sekaligus melibatkan generasi muda dalam menciptakan lingkungan jalan yang lebih aman.
Pentingnya edukasi keselamatan jalan menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut. Berdasarkan data Satlantas Polresta Surakarta yang dipaparkan dalam rangkaian publikasi menjelang festival, sebanyak 51 persen korban kecelakaan lalu lintas di Kota Solo pada 2025 merupakan kelompok usia muda.
Tak hanya itu, kelompok usia muda juga tercatat mencakup 55 persen pelaku kecelakaan, dengan angka yang meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan perlunya penguatan edukasi, peningkatan keterampilan berkendara, serta penyediaan infrastruktur yang lebih aman bagi generasi muda.
Astrid mengapresiasi inisiatif Transportologi yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat edukasi serta kajian keselamatan transportasi.
Menurutnya, keselamatan berlalu lintas harus menjadi perhatian bersama agar masyarakat tidak hanya menikmati kenyamanan Kota Solo, tetapi juga merasa aman ketika beraktivitas di jalan raya.
“Saya kira penting terus kita gaungkan dan kita jaga bersama, bagaimana masyarakat tidak hanya menikmati Solo yang nyaman, tetapi Solo yang aman. Amannya ini tidak hanya sekadar dalam konteks ketertiban umum, tetapi juga ketertiban di jalan raya,” ujar Astrid.
Infrastruktur Jalan Aman Jadi Perhatian
Astrid menegaskan, upaya mewujudkan keselamatan berlalu lintas tidak cukup hanya dengan mengimbau masyarakat agar tertib di jalan. Dukungan sarana dan prasarana transportasi yang memadai juga menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Sejumlah fasilitas yang perlu mendapat perhatian antara lain tempat penyeberangan yang aman, trotoar yang layak, jalur sepeda, hingga akses transportasi publik yang nyaman bagi masyarakat.
Selain itu, penyampaian data dan fakta mengenai kecelakaan lalu lintas dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko di jalan raya.
Dengan informasi yang tepat, masyarakat diharapkan semakin menyadari pentingnya disiplin berlalu lintas, baik untuk melindungi diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Astrid juga menilai kolaborasi antara pemerintah, komunitas, sekolah, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar edukasi keselamatan jalan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi perubahan perilaku dan perbaikan nyata.
Libatkan Pelajar Petakan Titik Rawan Kecelakaan
AI&Me Solo Road Safety Festival mengusung tema “Nothing About Youth Without Youth”, yang menekankan pentingnya melibatkan anak muda dalam setiap upaya peningkatan keselamatan jalan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
Melalui program AI&Me, Transportologi mendorong pelajar untuk berperan aktif mengidentifikasi potensi bahaya di sekitar sekolah. Pemetaan dilakukan secara partisipatif menggunakan Youth Engagement Application (YEA).
Melalui aplikasi tersebut, para pelajar dapat memetakan titik-titik yang berpotensi membahayakan perjalanan mereka, sehingga pengalaman langsung pengguna jalan muda dapat menjadi masukan dalam penyusunan rekomendasi perbaikan.
Hasil pemetaan tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah merancang kebijakan dan meningkatkan infrastruktur keselamatan jalan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Program AI&Me sebelumnya telah melibatkan tiga sekolah percontohan di Surakarta, yakni SMAN 4 Surakarta, SMA Regina Pacis Surakarta, dan SMPN 12 Surakarta.
Sebanyak 300 siswa dan 15 guru telah mendapatkan pelatihan untuk mengidentifikasi serta memetakan potensi bahaya di jalan. Pelibatan tersebut diharapkan dapat membangun pemahaman pelajar mengenai risiko perjalanan sekaligus mendorong mereka berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Anak Muda Bukan Sekadar Pengguna Jalan
Menurut Astrid, generasi muda tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai pengguna jalan yang menjadi sasaran edukasi. Mereka juga memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Keterlibatan pelajar dalam pemetaan risiko jalan dinilai dapat membantu pemerintah memahami persoalan keselamatan dari sudut pandang mereka yang setiap hari beraktivitas di lingkungan tersebut.
Dengan demikian, rekomendasi yang dihasilkan diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna jalan, khususnya anak-anak dan remaja.
Astrid berharap kegiatan Road Safety Festival dapat mendorong tumbuhnya budaya berlalu lintas yang aman dan tertib di Kota Surakarta.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Transportologi dan seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam penyelenggaraan festival tersebut sebelum secara resmi menutup kegiatan.
Melalui kolaborasi dan partisipasi aktif generasi muda, Kota Surakarta diharapkan mampu membangun sistem transportasi yang semakin aman, inklusif, dan ramah bagi seluruh pengguna jalan.








