650 Peserta Ramaikan Soeharso Inclusive Run 2026, Semangat Kesetaraan Bergema di HUT ke-75 RSO Soeharso

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Semangat inklusivitas dan kebersamaan mewarnai perayaan HUT ke-75 Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Soeharso Surakarta. Sebanyak 654 peserta mengikuti Soeharso Inclusive Run 2026 yang digelar di lingkungan RSO Soeharso Surakarta, Minggu (30/8/2026).

Kegiatan yang dimulai dengan flag off pukul 05.30 WIB tersebut menjadi salah satu rangkaian puncak peringatan 75 tahun perjalanan RSO Soeharso. Event lari ini mengusung semangat kesetaraan, kebersamaan, gaya hidup sehat, sekaligus memberikan ruang partisipasi bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang dan kemampuan.

Ketua Panitia HUT ke-75 RSO Soeharso, dr. Kshanti Adhitya, Sp.EM, MM, mengatakan Soeharso Inclusive Run merupakan bagian dari rangkaian panjang kegiatan peringatan HUT ke-75 yang telah dipersiapkan sejak awal tahun.

“Sebagai rangkaian puncak HUT RSO Soeharso ke-75, hari ini sudah dilaksanakan rangkaian event running dengan penuh semangat kebersamaan dan sukacita,” kata Kshanti.

Menurutnya, rangkaian HUT ke-75 RSO Soeharso tidak hanya berupa kegiatan olahraga. Sebelumnya, berbagai agenda telah digelar, mulai dari kegiatan ilmiah, seminar, Hospital Fair, Soeharso Award, hingga program transformasi hospitality dan berbagai perlombaan.

Rangkaian kegiatan tersebut masih akan berlanjut hingga akhir tahun dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional.

Ada Kategori Lari Inklusif, Peserta Disabilitas Ikut Berlari

Kshanti menegaskan, Soeharso Inclusive Run 2026 secara khusus dirancang untuk memperkuat semangat inklusivitas, kesetaraan, kebersamaan, dan gaya hidup sehat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa setiap individu dengan berbagai kemampuan dan keberagamannya mempunyai ruang yang sama untuk berpartisipasi, bergerak dan mengukir prestasi,” ujarnya.

Sebanyak 654 peserta terbagi dalam tiga kategori. Kategori 7,5K diikuti 91 peserta, sedangkan kategori 3K umum diikuti 274 peserta.

Sementara itu, kategori 3K inklusif diikuti peserta dari berbagai kelompok disabilitas. Kategori ini menjadi salah satu bagian penting dalam perhelatan Soeharso Inclusive Run karena memberikan ruang yang sama bagi peserta dengan beragam kemampuan untuk ikut beraktivitas dan merayakan keberagaman.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai komunitas disabilitas. Peserta di antaranya berasal dari kelompok disabilitas netra, rungu, serta intelektual.

“Selebrasi keberagaman ini menjadi bukti bahwa semangat inklusivitas bukan hanya slogan, tetapi diwujudkan secara nyata melalui ruang partisipasi terbuka bagi semua,” tutur Kshanti.

Sebelum kegiatan lari dimulai, RSO Soeharso juga menggelar seminar edukasi. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya inklusivitas.

“Mari kita tumbuhkan kesadaran bersama bahwa inklusivitas adalah kesadaran bersama. Mari kita bergerak bersama, melangkah bersama dan tumbuh bersama dalam semangat inklusivitas,” katanya.

HUT ke-75 RSO Soeharso Usung Tema Legacy, Innovation, Humanity

Direktur Utama RSO Soeharso, Dr. dr. Tito Sumarwoto, Sp.OT (K), M.Kes, MH, MARS, mengatakan peringatan HUT ke-75 menjadi momentum untuk melanjutkan warisan perjuangan dr. Soeharso.

Menurutnya, legacy dr. Soeharso bukan hanya tentang sejarah pelayanan kepada korban perang, tetapi terus berkembang melalui inovasi dan pelayanan kemanusiaan.

“Ini adalah puncak HUT RS Soeharso ke-75. Ini merupakan legacy dari dr. Soeharso yang kita pertahankan sampai sekarang,” kata Tito.

Ia menjelaskan, RSO Soeharso pernah dikenal sebagai salah satu rumah sakit ortopedi terbaik dan efisien di Asia Tenggara. Semangat tersebut menjadi pijakan bagi rumah sakit untuk terus melakukan inovasi.

Tito mengatakan RSO Soeharso dalam waktu mendatang juga akan melakukan pengembangan dan perluasan rumah sakit sehingga cakupan pelayanan kepada masyarakat semakin luas.

“Kita terus selalu melakukan inovasi-inovasi. Sebentar lagi kita akan memperluas rumah sakit ini sehingga cakupannya lebih luas lagi. Kita juga akan melayani di luar hospital, selalu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, tetapi meskipun kita tetap berinovasi, kita tetap selalu melayani pasien dengan humanity,” ujarnya.

Dewan Pengawas: Legacy Soeharso Bukan Sekadar Gedung

Ketua Dewan Pengawas RSO Soeharso, Ghotama Airlangga, S.K.M., M.K.M, menilai perjalanan 75 tahun RSO Soeharso tidak dapat dilepaskan dari perjuangan, pengabdian, inovasi, dan nilai kemanusiaan yang dibangun seluruh insan rumah sakit.

Ia menegaskan bahwa warisan RSO Soeharso bukan sekadar bangunan atau fasilitas, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, integritas, serta semangat pengabdian yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kalau kita cerita legacy, warisannya Soeharso bukan cuma gedung, bukan cuma Joglo ini, tapi ada gedung yang lain, ada fasilitas teknologi, termasuk capaian kerja yang teman-teman sudah buat,” ujar Ghotama.

Menurutnya, RSO Soeharso juga memiliki warisan keilmuan yang kuat melalui berbagai jurnal dan pengalaman yang dimiliki para tenaga kesehatan maupun senior rumah sakit.

Ia berharap seluruh jajaran RSO Soeharso mampu menjaga legacy tersebut agar terus berkembang dan kualitas pelayanan semakin baik.

“Yang paling penting adalah ternyata Soeharso ini juga punya jurnal banyak. Warisan ilmunya banyak. Pengalamannya juga banyak, termasuk integritasnya,” katanya.

Ghotama juga menekankan pentingnya menempatkan pasien sebagai manusia yang membutuhkan pelayanan secara utuh. Menurutnya, pelayanan rumah sakit tidak semata-mata diukur melalui angka, target, atau indikator, tetapi juga dari bagaimana pasien dan keluarganya mendapatkan perhatian serta pelayanan yang manusiawi.

“Bagaimana kita Rumah Sakit berkembang membuat pasien kita itu benar-benar bukan hanya sekadar pasien, tetapi benar-benar harus kita jaga sebagai selayaknya manusia yang memang membutuhkan pelayanan yang jauh lebih baik dari kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, perhatian juga perlu diberikan kepada keluarga pasien yang mendampingi selama menjalani perawatan.

“Setelah cerita pasien, kita enggak cuma cerita pasiennya, kita cerita tentang keluarganya juga. Jadi bagaimana caranya kita bisa menjaga supaya keluarga-keluarga yang menunggu pasien itu juga jangan sakit,” tutur Ghotama.

Menurutnya, harapan keluarga agar pasien dapat kembali pulang bersama mereka merupakan bagian penting dari pelayanan yang harus dijaga.

Ghotama meyakini RSO Soeharso masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, lahan yang tersedia, rencana pembangunan fasilitas baru, serta komitmen jajaran direksi dan seluruh pegawai, RSO Soeharso diharapkan semakin unggul dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Tujuh puluh lima tahun mengabdi, 75 tahun menjaga kemanusiaan, 75 tahun terus berinovasi. Mari kita lanjutkan perjalanan ini dengan semangat from legacy,” pungkasnya.