SEMARANG, MettaNEWS – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin memberikan perhatian khusus kepada korban bullying di Kebumen, siswa SMK Ma’arif berinisial K (16). Selain memberikan semangat, Gus Yasin juga membelikan sepeda agar korban dapat kembali bersekolah tanpa harus menggunakan sepeda motor.
Gus Yasin melakukan video call dengan korban pada Selasa (18/8/2026) dari ruang kerjanya. Dalam percakapan tersebut, Wagub Jateng menanyakan kondisi korban sekaligus memberikan dukungan agar tetap semangat menjalani sekolah dan memulihkan diri dari trauma.
“Ini jadi pembelajaran hidup ya. Tetap semangat. Nanti sekolahnya naik sepeda ontel aja. Bapak Sadimin nanti (tolong) belikan sepeda, dari saya ya,” ujar Gus Yasin saat video call dengan korban.
Gus Yasin juga mengingatkan korban yang masih berusia 16 tahun agar tidak menggunakan sepeda motor untuk pergi ke sekolah karena belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
“Jarak sekolahnya berapa kilo?” tanya Gus Yasin.
Saat korban menjawab sekitar satu kilometer, Gus Yasin kemudian menyampaikan pesan agar korban menggunakan sepeda.
“Ya sudah nanti sekolahnya pakai sepeda ya, jangan pakai motor, belum punya SIM, motornya biar buat bapaknya aja buat kerja, ya sudah semangat ya dek belajar,” pesan Gus Yasin.
Berawal dari Perintah Gubernur Ahmad Luthfi
Perhatian Pemprov Jateng terhadap korban bullying tersebut bermula setelah kasusnya viral di media sosial dan mendapat perhatian masyarakat luas.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi kemudian meminta Gus Yasin mengambil langkah untuk memastikan kondisi korban. Atas arahan tersebut, Gus Yasin meminta Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Sadimin mengunjungi korban di rumahnya.
Setelah menerima laporan dari kunjungan tersebut, Gus Yasin kemudian meminta kesempatan untuk berbicara langsung dengan korban melalui video call.
Dalam percakapan itu, korban mengaku masih memiliki semangat untuk melanjutkan sekolah. Gus Yasin pun memberikan dukungan agar korban tidak kehilangan motivasi akibat peristiwa yang dialaminya.
Selain memberikan dukungan mental, Pemprov Jateng melalui Dinas Pendidikan juga memfasilitasi korban untuk pindah sekolah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan psikologis sekaligus memberikan suasana baru bagi korban.
Hingga kini, korban belum berani kembali berangkat sekolah. Untuk membantu proses pemulihan trauma, korban diperbolehkan beristirahat terlebih dahulu di rumah.
Korban Dibully Saat Antre MBG
Kasus bullying tersebut terjadi di SMK Ma’arif 7 Kutowinangun, Kebumen, pada Jumat (7/8/2026). Peristiwa bermula ketika korban bersama sejumlah siswa lain sedang mengantre program Makan Bergizi Gratis (MBG) di area belakang sekolah.
Korban yang merupakan adik kelas diduga diseret, dipukul, hingga dibanting oleh pelaku. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami sejumlah luka fisik, antara lain pada bagian kepala dan lebam, serta merasakan sakit pada bagian perut.
Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma psikologis. Kondisi tersebut membuat korban lebih banyak diam dan merasa takut untuk kembali ke sekolah.
Kasus tersebut kemudian viral di media sosial dan mendapat perhatian luas dari masyarakat serta pemerintah daerah.
Dipicu Kecemburuan
Berdasarkan informasi yang disampaikan, perundungan diduga dipicu rasa cemburu pelaku terhadap korban. Pelaku disebut melihat pesan singkat di akun Instagram mantan pacarnya yang berkomunikasi dengan korban.
Padahal, komunikasi antara korban dengan mantan pacar pelaku disebut hanya sebatas tegur sapa biasa. Namun, hal tersebut membuat pelaku tersulut emosi hingga melakukan perundungan terhadap korban.
Pelaku kemudian diamankan oleh polisi dan mendapatkan sanksi skorsing dari sekolah.
Karena pelaku masih berusia di bawah umur, proses hukum terhadapnya mengacu pada ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) dan Undang-Undang Perlindungan Anak.
Dalam ketentuan tersebut, pelaku yang masih berusia anak disebut sebagai Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH).
Perhatian langsung dari Pemprov Jateng diharapkan tidak hanya membantu pemulihan korban bullying di Kebumen, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.








