SOLO, MettaNEWS – Warisan seni pedalangan Ki Anom Suroto terus berlanjut. Putra sang maestro wayang kulit gagrak Surakarta, Ki Jatmiko Anom Saputro, menegaskan komitmennya menjaga api tradisi melalui dua pagelaran wayang kulit yang akan digelar pada 25 Juli 2026 di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, dan 26 Juli 2026 di Kabupaten Semarang.
Pementasan di Selogiri memiliki makna yang sangat emosional bagi Ki Jatmiko. Pasalnya, lokasi tersebut merupakan tempat terakhir almarhum Ki Anom Suroto tampil mendalang pada Juli 2025. Tepat setahun setelah penampilan terakhir sang maestro, kini giliran putranya yang melanjutkan estafet seni pedalangan di panggung yang sama.
“Terakhir bapak mendalang bulan Juli 2025 di situ. Jadi besok saya yang meneruskan. Saya masih tahap belajar,” ujar Ki Jatmiko Anom Saputro.
Ki Jatmiko mengaku perjalanan menjadi dalang bukan sesuatu yang instan. Ia mulai belajar pedalangan sejak usia 15 tahun langsung dari ayahnya, Ki Anom Suroto, setelah sebelumnya memperdalam dasar-dasar pedalangan dari Ki Warsena Slenk.
“Mulai belajar dalang umur 15 tahun. Belajar dari dasar dengan bapak. Saat bapak sedha saya diperkenankan untuk memakai nama bapak,” katanya.
Meski menyandang nama besar Ki Anom Suroto, Jatmiko mengaku tidak ingin terburu-buru mengejar popularitas. Baginya, yang terpenting adalah menjaga kualitas pementasan dan terus belajar mengembangkan diri.
“Walau nama belum sebeken dalang lainnya, tapi alhamdulillah tiap bulan bisa tiga kali pentas. Masyarakat juga bisa menerima saya,” ungkapnya.
Ia mengenang semasa ayahnya masih hidup, setiap selesai pentas selalu mendapat evaluasi dan kritik yang menjadi bekal berharga dalam mengasah kemampuan mendalang.
“Setiap habis pentas saya ada kritikan dari bapak. Masukan-masukan dari bapak yang mengembangkan saya,” tuturnya.
Menurut Ki Jatmiko, ciri khas pedalangan yang terus ia pertahankan adalah kekuatan alur cerita agar penonton benar-benar larut dalam kisah pewayangan sekaligus menangkap pesan moral yang ingin disampaikan.
“Khas saya adalah kuat di alur, sehingga penonton mendalami cerita. Alur cerita yang kuat membuat pesan bisa tersampaikan,” jelasnya.
Pagelaran pertama akan berlangsung pada Sabtu Pon, 25 Juli 2026 di Gedung Serba Guna Dusun Ngelo, Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Wonogiri dalam rangka Bersih Desa. Pada kesempatan tersebut Ki Jatmiko akan membawakan lakon “Wahyu Cakraningrat”, sebuah kisah yang mengangkat nilai kepemimpinan, amanah, kebijaksanaan, dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam menyejahterakan rakyat. Pertunjukan juga akan dimeriahkan penyanyi Uut Salsabila sebagai bintang tamu.
Sehari berselang, Minggu Wage, 26 Juli 2026, Ki Jatmiko akan kembali tampil di Dusun Ngasinan, Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang dalam resepsi pernikahan Egi Astuti dan Agung Indra Sulistyono. Pada kesempatan tersebut ia membawakan lakon “Wisanggeni Kromo”, yang juga sarat pesan moral mengenai pengabdian, keberanian, dan tanggung jawab.
Kedua pementasan berada di bawah naungan JAS (Jatmiko Anom Saputro) Manajemen dan akan diiringi Sembodo Grup Karawitan, menghadirkan sajian gending-gending Jawa khas gagrak Surakarta.
Sebagai putra maestro pedalangan, Ki Jatmiko menyadari amanah besar yang diwariskan ayahnya. Sebelum wafat, Ki Anom Suroto berpesan agar wayang tetap dijaga sebagai tuntunan hidup, bukan sekadar hiburan.
Pesan tersebut kini menjadi pegangan Ki Jatmiko dalam setiap pementasan. Baginya, wayang harus terus hadir sebagai media pendidikan karakter yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
“Wayang adalah warisan budaya yang mengajarkan nilai kehidupan. Melalui setiap pagelaran, kami ingin menghadirkan hiburan yang berkualitas sekaligus mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya bangsa,” tegasnya.
Lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga pedalangan, Ki Jatmiko juga mendapat tempaan dari sang kakek, Ki Sadiyun Hardjodarsono, serta menempuh pendidikan di Pasionan Dalang Mangkunegaran Surakarta dan Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA). Debutnya sebagai dalang dimulai pada 2004 lewat lakon Bima Suci.
Di balik perjalanan itu, tersimpan kisah menarik. Sebelum memilih menjadi dalang, Ki Jatmiko ternyata pernah bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun, panggilan untuk meneruskan perjuangan sang ayah akhirnya membawanya tetap berada di dunia pedalangan.
Kini, melalui berbagai pementasan di berbagai daerah, Ki Jatmiko Anom Saputro berupaya memastikan estafet wayang gagrak Surakarta tetap menyala. Dengan tetap berpijak pada pakem, namun terbuka terhadap perkembangan zaman, ia berharap semakin banyak generasi muda yang mencintai wayang sebagai identitas budaya bangsa sekaligus sumber nilai kehidupan.








