Dari Wayang hingga Hidroponik, Kampung Seni Kentingan Tunjukkan Wajah Kreatif Masyarakat Jebres

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengapresiasi kreativitas warga Kampung Seni Kentingan UMKM Asri di RW 10 dan RW 11, Kelurahan Jebres. Kawasan tersebut dinilai berhasil memadukan pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, serta inovasi lingkungan melalui program urban farming.

Apresiasi itu disampaikan Astrid saat mengunjungi Kampung Seni Kentingan UMKM Asri, Minggu (5/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari latihan seni tradisional hingga pengembangan ekonomi berbasis komunitas.

Astrid menyaksikan latihan tari anak-anak Sanggar Wayang Gogon di halaman SD Negeri Tugu Jebres. Selain itu, ia juga melihat latihan pedalangan dan karawitan, meninjau mural bertema wayang yang menghiasi gang-gang kampung, serta mengunjungi kawasan hidroponik yang dikelola warga untuk memanfaatkan lahan terbatas.

Astrid mengungkapkan, Kampung Seni Kentingan memiliki kekuatan karena mampu menjaga nilai budaya sekaligus menciptakan ruang produktif bagi masyarakat.

“Saya senang berkunjung ke Kampung Seni Kentingan UMKM Asri. Di sini saya melihat anak-anak berlatih tari, dalang, dan karawitan dengan penuh semangat. Kampung ini memang sudah dikenal sebagai kampung seni yang sering mengadakan berbagai kegiatan kebudayaan,” jelas Astrid.

Kampung Seni Kentingan UMKM Asri berkembang dari keberadaan Sanggar Wayang Gogon yang kemudian menjadi pusat pembelajaran berbagai bidang seni, seperti tari, pedalangan, karawitan, dan seni rupa. Kawasan tersebut juga terus mendorong pertumbuhan UMKM serta penghijauan lingkungan melalui keterlibatan aktif warga.

Berbagai capaian telah diraih kampung tersebut. Pada April 2026, Kampung Seni Kentingan berhasil menggelar Festival Dalang Cilik dan Tari yang meraih Rekor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) melalui pagelaran kolosal dalang cilik dan tari dengan jumlah peserta terbanyak.

Sebelumnya, pada peringatan Hari Tari Dunia, 29 April 2026, masyarakat setempat juga menggelar kegiatan Jebres Menari yang melibatkan ratusan penari sebagai bentuk pelestarian seni tradisional.

Astrid menilai berbagai kegiatan tersebut menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga warisan budaya.

“Kemarin ada pentas dalang cilik terbanyak hingga mendapat rekor. Ada juga Jebres Menari yang menjadi bagian dari peringatan Hari Tari Dunia. Ini membuktikan masyarakat di sini sangat guyup dalam melestarikan budaya,” katanya.

Selain seni budaya, Astrid juga menyoroti keberhasilan warga dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, Kampung Seni Kentingan tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas masyarakat.

“Kampung ini tidak hanya menghidupkan seni, tetapi juga menghidupkan UMKM. Di sisi lain, ibu-ibu juga memanfaatkan lahan yang terbatas melalui inovasi tanaman hidroponik. Ini benar-benar menunjukkan bahwa Kampung Seni Kentingan adalah kampung yang asri, produktif, dan kreatif,” jelasnya.

Astrid juga memberikan apresiasi terhadap keberadaan mural bertema wayang yang menghiasi lorong-lorong kampung. Menurutnya, mural tersebut menjadi media edukasi budaya yang menarik bagi generasi muda.

“Kita lihat gang-gang sudah dihias dengan mural bertema wayang. Ini sangat positif karena menjadi sarana mengajarkan anak-anak tentang seni, cerita wayang, sejarah Kota Solo, dan berbagai nilai budaya lainnya,” ujarnya.

Astrid berharap identitas Kampung Seni Kentingan terus diperkuat sehingga dapat menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di Kota Surakarta dalam mengembangkan potensi lokal berbasis budaya dan kreativitas masyarakat.

“Ini bisa menjadi contoh bahwa satu kampung mampu menjaga budaya secara kolektif. Adanya sanggar wayang ini juga semoga menjadi sarana melestarikan budaya, terutama bagi generasi penerus kita. Harapan saya, identitas yang sudah dimiliki Kampung Seni Kentingan terus ditingkatkan agar semakin dikenal dan semakin berkembang,” pungkasnya.