Tito Bagas Harjendro Terpilih Pimpin HSB 2026-2028, Siap Perkuat Solidaritas dan Literasi Visual Kota Solo

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS — Himpunan Senifoto Bengawan (HSB) memasuki babak baru setelah Tito Bagas Harjendro terpilih sebagai Ketua HSB periode 2026-2028 dalam pemilihan yang digelar Kamis (18/6/2026). Organisasi fotografi yang berdiri sejak 19 Juli 1990 itu berkomitmen terus menjadi ruang tumbuh, belajar, dan berbagi bagi para pecinta fotografi lintas generasi di Kota Solo.

Usai terpilih, Tito Bagas Harjendro menegaskan visinya untuk menghimpun para fotografer di Kota Solo dalam satu wadah bersama demi memajukan dan mengembangkan dunia fotografi dengan semangat berkarya melalui hati.

“Menghimpun fotografer di Kota Solo dalam satu wadah dengan tujuan memajukan dan mengembangkan dunia fotografi dengan dasar berkarya melalui hati,” ujar Tito Bagas Harjendro.

Dalam kepemimpinannya, Tito menyiapkan sejumlah program untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan anggota. Salah satunya melalui kegiatan berbagi ilmu antara fotografer senior dan anggota muda yang ingin mendalami dunia fotografi.

“Sharing session fotografer senior untuk para anggota junior yang ingin mendalami dunia fotografi,” katanya.

Selain itu, HSB juga akan membuat buletin atau katalog digital tahunan yang memuat karya foto seluruh anggota sebagai bentuk apresiasi sekaligus dokumentasi perkembangan fotografi di Solo.

“Membuat buletin atau katalog digital tahunan yang memuat karya foto setiap anggota,” lanjutnya.

Untuk mempererat solidaritas antaranggota, Tito berencana menggelar pertemuan rutin setiap satu hingga dua bulan sekali. Kegiatan tersebut akan diisi dengan diskusi, hunting foto bersama hingga sekadar berkumpul santai.

“Mengadakan pertemuan rutin satu bulan atau dua bulan dengan sharing session, hunting bersama atau sekadar nongkrong bersama,” jelas Tito.

Menurut dia, perkembangan teknologi dan tren fotografi digital saat ini harus direspons dengan keterbukaan serta kolaborasi lintas komunitas agar anggota HSB tidak tertinggal perkembangan zaman.

“Sering melakukan kegiatan kolaborasi antar lintas komunitas untuk mengetahui tren fotografi seperti apa yang berkembang di zaman sekarang ini,” ujarnya.

Tito berharap HSB dapat menjadi wadah yang memberikan manfaat nyata bagi anggota maupun masyarakat luas. Tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga membuka relasi profesional dan meningkatkan kemampuan fotografi setiap anggota.

“Harapannya anggota dapat mendapat manfaat dari wadah komunitas HSB seperti mendapat teman baru yang asik, relasi pekerjaan untuk kebutuhan profesional dan lebih utamanya mengembangkan skill fotografi dari masing-masing anggota,” kata Tito.

Ia juga menilai fotografi memiliki nilai historis penting sebagai penanda perjalanan zaman yang dapat menjadi literasi visual bagi masyarakat.

“Fotografi itu sebagai penanda di tiap zamannya, terdapat nilai historis yang sangat berharga dari tiap waktu yang telah berlalu dan tidak bisa ulang kembali,” ungkapnya.

Menurut Tito, karya fotografi juga dapat menjadi sarana promosi budaya dan wisata, khususnya di Kota Solo.

“Serta bisa menjadi pengenal visual yang baik seperti memajukan wisata dan kebudayaan terutama di Kota Solo,” imbuhnya.

Sebagai program kerja 100 hari pertama, Tito memastikan kepengurusan baru akan segera merealisasikan pembuatan katalog digital tahunan karya anggota HSB.

Pendiri sekaligus Penasehat HSB, Aris Liem, menilai peran komunitas fotografi di era digital mengalami perubahan dibanding masa lalu. Menurut dia, dahulu komunitas fotografi menjadi tempat belajar teknik dan mencari informasi lomba maupun perkembangan dunia fotografi.

“Sekarang di era digital ini perkumpulan fotografer yang hobi kebanyakan mereka sudah mengetahui tentang teknik-teknik fotografi, tentang perkembangan fotografi di luar negeri dari internet,” ujar Aris Liem.

Meski demikian, Aris menilai komunitas tetap penting sebagai ruang silaturahmi dan berbagi informasi yang tidak selalu ditemukan di media sosial maupun internet.

“Ketika menghadiri pertemuan rutin yang diadakan oleh perkumpulan biasanya kita hanya saling bersilaturahmi bertukar informasi sesama anggota dan saling tukar informasi yang di internet mungkin tidak ada,” katanya.

Ia menegaskan keterbukaan menjadi kunci utama menjaga kekompakan komunitas fotografi. Baik anggota senior maupun junior harus bisa saling membaur tanpa sekat senioritas.

“Untuk kekompakan saya kira keterbukaan yang harus kita utamakan, keterbukaan sesama anggota,” tegas Aris.

Aris juga menilai organisasi masih sangat dibutuhkan, terutama bagi anggota baru, untuk membangun jaringan profesional serta berbagi peluang pekerjaan maupun informasi lomba fotografi.

“Untuk networking di perkumpulan fotografer untuk hobi ini sangat penting. Jadi kita bisa saling membantu, saling memberi informasi,” jelasnya.

Menurut Aris, HSB memiliki sejarah panjang dalam mendokumentasikan berbagai peristiwa penting di Kota Solo. Salah satunya saat membantu dokumentasi untuk buku tentang Keraton Kasunanan Surakarta.

“Tanpa kontribusi dari teman-teman HSB buku tersebut tidak akan komplit karena banyak kegiatan keraton yang waktu itu banyak anggota HSB yang mendokumentasikan,” ungkapnya.

Ke depan, Aris berharap HSB terus aktif mendokumentasikan perkembangan Kota Solo agar hasil karya fotografer dapat bermanfaat bagi masyarakat maupun berbagai instansi.

“HSB bisa berkontribusi untuk masyarakat Surakarta pada umumnya,” katanya.
Sebagai pendiri HSB, Aris berharap kepengurusan baru mampu menjaga kekompakan organisasi dan menghadirkan program-program yang bermanfaat.

“Semoga kepengurusan yang baru ini bisa menjaga kekompakan para anggota dari perkumpulan HSB ini. Semoga kepengurusan ini bermanfaat dan sukses selalu,” tegasnya.

Sementara itu, Penasehat HSB, Sumartono Hadinoto melihat perkembangan HSB sebagai organisasi foto tertua khususnya di Solo berkembang cukup bagus, baik mengenai jumlah anggota maupun berbagai kemampuan dari para anggotanya.

“Ini tentunya semua tergantung kepada kepengurusan HSB. Kita berharap kepengurusan yang sekarang ini akan lebih dapat meluangkan waktu untuk membawa organisasi menjadi lebih bermanfaat terutama kepada anggota maupun kepada masyarakat Solo pada khususnya dan tetap berprestasi di kancah nasional maupun internasional,” imbuh Martono.

Tidak memungkiri, Martono juga menambahkan jalannya suatu organisasi hobi membutuhkan pendanaan yang tak sedikit.

“Jer basuki mawa bea semua membutuhkan biaya. Sedangkan kalau kita melihat sebagai organisasi amatir dan hobi tentunya pemasukan ini sangat kecil kalau dari iuran anggota. Jadi berharap kepengurusan sekarang maupun yang akan datang terus berinovasi membuat banyak kegiatan baik yang bermanfaat bagi anggota dan masyarakat tapi juga ada kegiatan yang bisa mendatangkan pemasukkan ke kas organisasi. Yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang menambah wawasan, pengetahuan, kemampuan terutama di era digitalisasi ini,” pungkasnya.