SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengajak generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai sejarah sebagai bagian penting dalam membentuk karakter, identitas, dan budaya bangsa.
Pesan tersebut disampaikan saat mengunjungi SMP Warga Surakarta dalam kegiatan Program GEMAS (Gerakan Cinta Sejarah Masuk Sekolah), Jumat (29/5/2026).
Program yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta itu mengusung tema “Kenali Sejarahnya, Cintai Budayanya” sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya lokal sejak usia sekolah.
Dalam kesempatan tersebut, Astrid memberikan motivasi kepada para siswa mengenai pentingnya memahami sejarah sebagai fondasi dalam membangun jati diri dan masa depan bangsa.
Kota Solo lanjutnya, memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat besar sehingga perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh masyarakat, terutama generasi muda.
“Solo memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Karena itu kami ingin memastikan seluruh masyarakat, khususnya anak-anak muda, ikut mengenal, menjaga, dan melestarikan budaya Jawa sebagai bagian dari identitas Kota Surakarta,” terangnya.
Astrid mengaku bangga melihat antusiasme para siswa dalam mengikuti kegiatan GEMAS. Menurutnya, semangat pelajar untuk mempelajari sejarah menjadi modal penting dalam membangun generasi yang memahami akar budaya dan identitas daerahnya.
“Saya melihat anak-anak sangat antusias mengikuti Program GEMAS ini. Ini menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, budaya, dan berbagai peristiwa masa lalu yang membentuk Kota Solo hingga sekarang,” katanya.
Ia menegaskan, sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjadi sarana memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Pembelajaran sejarah juga dinilai mampu melatih pola pikir kritis, menumbuhkan rasa menghargai perjuangan bangsa, serta menjadi inspirasi dalam menghadapi tantangan masa depan.
Di sisi lain, Astrid menyoroti tantangan pembelajaran sejarah di era digital. Salah satunya adalah anggapan bahwa sejarah merupakan pelajaran yang membosankan karena identik dengan hafalan dan metode pembelajaran yang kurang menarik. Selain itu, maraknya disinformasi dan hoaks di media sosial juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga pemahaman sejarah yang benar.
Karena itu, Pemerintah Kota Surakarta terus mendorong pendekatan pembelajaran sejarah yang lebih interaktif, komunikatif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi.
“Pembelajaran sejarah sekarang harus dikemas lebih menarik dan multiplatform. Anak-anak sekarang sudah sangat memahami teknologi, sehingga pendekatan pembelajaran juga harus mengikuti perkembangan zaman agar materi sejarah lebih mudah diterima dan dipahami,” jelasnya.
Menurut Astrid, belajar sejarah tidak harus melalui buku semata, tetapi juga dapat memanfaatkan berbagai platform digital dan teknologi yang dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Program GEMAS sendiri merupakan salah satu program edukasi sejarah yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. Pada tahun 2026, program ini menyasar 20 sekolah di Kota Solo yang terdiri atas 13 SMP negeri dan 7 SMP swasta dengan target sekitar 5.450 siswa.
Pelaksanaan program berlangsung mulai April hingga Oktober 2026 dengan melibatkan narasumber dari Universitas Sebelas Maret, khususnya dari Fakultas Ilmu Budaya.
Melalui program tersebut, Astrid berharap para pelajar tidak hanya memahami sejarah dan budaya daerahnya, tetapi juga memiliki semangat untuk berkontribusi dalam pembangunan Kota Solo di masa depan.
“Melalui sejarah, generasi muda dapat memahami jati diri bangsa sekaligus memiliki semangat untuk membangun masa depan Kota Solo yang lebih baik,” pungkasnya.








