SOLO, MettaNEWS — Perayaan Hari Raya Trisuci Waisak 2570 TB/2026 di Kota Solo bakal berlangsung meriah selama hampir satu bulan penuh.
Rangkaian kegiatan spiritual, budaya, sosial, hingga kebangsaan disiapkan umat Buddha Kota Solo dengan melibatkan masyarakat lintas agama serta ribuan peserta dari berbagai daerah.
Perayaan Waisak tahun ini mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri” yang menegaskan bahwa nilai luhur Buddha Dharma tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Juru bicara Panitia Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026, Pandita Mettasiri Sutrisno, mengatakan perayaan Waisak di Solo diharapkan menjadi momentum memperkuat persaudaraan, toleransi, dan harmoni kebangsaan.
“Perayaan ini diharapkan menjadi simbol penguatan toleransi dan harmoni kebangsaan melalui pendekatan spiritual, budaya, dan kemanusiaan,” kata Sutrisno kepada wartawan saat pers conference di kantor Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Selasa (12/5/2026).
Puncak Waisak akan diperingati pada Minggu, 31 Mei 2026, dengan detik-detik Waisak jatuh pada pukul 15.44.44 WIB.
Salah satu yang paling menyita perhatian dalam perayaan tahun ini adalah pemasangan instalasi ornamen Buddhis dan lampion di kawasan Gladag hingga Balai Kota Surakarta mulai 19 Mei hingga 19 Juni 2026.
Berbagai dekorasi tematik Waisak akan menghiasi kawasan kota, mulai dari gapura stupa, lampion Waisak, pilar Raja Asoka, penjor, stupa koridor kota, hingga ornamen hewan Jataka yang menjadi pembeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau tahun kemarin temanya banyak teratai, tahun ini kami mengambil tema tentang hewan Jataka,” ujar Sutrisno.
Ia menjelaskan, Jataka merupakan kumpulan kisah kehidupan masa lalu Sang Buddha sebelum mencapai pencerahan sempurna. Ornamen yang dipasang berupa berbagai hewan simbolik seperti gajah hingga ular naga.
“Yang paling unik adalah nanti di jembatan kawasan Pasar Gede itu ada ular naga yang cukup besar menghadap ke Balai Kota Solo,” ungkapnya.
Tak hanya itu, di Plaza Balai Kota Surakarta juga akan dipasang Rupang Buddha Maha Parinibbana atau Buddha Berbaring yang diapit ornamen bunga teratai emas.
Menurut Sutrisno, pemasangan ornamen dan instalasi lampion bertujuan menambah nuansa spiritual dan budaya Waisak sekaligus mempercantik kawasan kota serta menjadi daya tarik wisata masyarakat.
Rangkaian acara Waisakha Raya juga akan diwarnai kedatangan Bhikkhu Thudong pada Sabtu, 23 Mei 2026. Sebanyak 55 Bhikkhu Thudong bersama dua bhikkhu Indonesia dan dua samanera akan disambut di Vihara Dhamma Sundara sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pura Mangkunegaran dan mengikuti Kirab Waisak menuju Balai Kota Surakarta.
Prosesi kirab akan dimulai pukul 18.00 WIB dengan rute Loji Gandrung menuju Balai Kota Surakarta dan diikuti sekitar 1.500 peserta.
Kirab menghadirkan Bhikkhu Sangha, pemerintah daerah, organisasi Buddhis, pemuda lintas agama, seni budaya nusantara, hingga kereta kirab Waisak “Kereta Kencana Mahājāti” yang melambangkan kelahiran agung Siddhartha Gautama.
Di akhir kirab akan dilaksanakan Prosesi Pemandian Rupang Bodhisattva Siddhartha di Plaza Balai Kota. Prosesi tersebut melambangkan penyucian batin dan pengembangan kebijaksanaan.
Kegiatan sosial juga menjadi bagian penting dalam rangkaian Waisak tahun ini. Pada Minggu, 24 Mei 2026, akan digelar kegiatan Sangha Dana bersama Bhikkhu Thudong di Vihara Dhamma Sundara serta pelepasan Bhikkhu Thudong dan Pindapata di Balai Kota Surakarta yang diperkirakan diikuti sekitar 1.000 peserta.
Selain itu, panitia juga menggelar donor darah di Pendhapi Gedhe Balai Kota sebagai bentuk kepedulian sosial umat Buddha kepada masyarakat luas.
Memasuki akhir rangkaian acara, masyarakat akan disuguhi Pentas Seni Hari Trisuci Waisak pada Sabtu, 30 Mei 2026 di Plaza Balai Kota Surakarta. Acara itu menampilkan tari tradisional, musik religi, pertunjukan budaya nusantara, serta kolaborasi lintas komunitas.
Pada malam hari usai detik-detik Waisak, Minggu 31 Mei 2026, masyarakat juga diajak mengikuti meditasi umum bersama bhikkhu di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta.
Sementara itu, puncak acara Waisakha Raya 2570 TB/2026 akan digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta dengan menghadirkan pesan Waisak oleh Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera, doa bersama, pesan kebangsaan, pentas budaya, serta kebersamaan lintas umat.
Tak hanya bernuansa spiritual, perayaan Waisak tahun ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM dan wisata budaya-religi.
Panitia menyiapkan stan kuliner Solo pada empat periode pelaksanaan, yakni 22-24 Mei, 29-31 Mei, 5-7 Juni, dan 12-14 Juni 2026. Pengunjung juga akan dihibur atraksi barongsai setiap Jumat serta berbagai kesenian tradisional daerah di kawasan Gladag dan Balai Kota Surakarta.
Ketua Umum PMS, Sumartono Hadinoto, menambahkan pihaknya mendukung penuh penyelenggaraan Waisak sebagai bagian dari upaya menjaga toleransi dan kerukunan di Kota Solo.
“PMS selalu terlibat dalam acara yang berkaitan dengan menjaga toleransi saat perayaan hari raya keagamaan di Kota Solo. Kami mengapresiasi acara Waisak kembali diselenggarakan tahun ini,” kata Sumartono.
Melalui rangkaian Waisakha Raya 2570 TB/2026, Kota Solo kembali menunjukkan diri sebagai kota budaya yang menjunjung tinggi keberagaman, toleransi, dan harmoni antarumat beragama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.








