Mahasiswa UMS Raih Gold Medal dan Special Award di MTE 2026 Lewat Inovasi AI Berbasis Budaya untuk Pemulihan Mental Anak

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Tim lintas program studi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Malaysia Technology Expo (MTE) 2026, sekaligus menyabet Special Award dari Chinese Innovation and Invention Society (CIIS) Taiwan.

Kompetisi bergengsi yang berlangsung di World Trade Centre Kuala Lumpur pada 9–11 April 2026 tersebut diikuti inovator dari berbagai negara. Dalam ajang ini, tim UMS mengusung inovasi bertajuk “PERMATA (Pendidikan Resiliensi Mental Anak Tangguh): Smart Resilience Ecosystem for Children From Prevention to Post-Traumatic Growth”.

Ketua tim, Taufik Imansyah, menjelaskan bahwa PERMATA merupakan platform digital yang dirancang untuk membantu pemulihan mental anak pasca-bencana. Ia menyoroti bahwa dampak bencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis seperti PTSD, kecemasan, hingga gangguan perilaku yang kerap luput dari perhatian.

“PERMATA hadir dengan pendekatan yang mengintegrasikan psikologi klinis, teknologi AI, dan kearifan lokal, sehingga mampu menjangkau anak-anak dengan cara yang lebih dekat dan relevan,” terangnya, Minggu (19/4/2026).

Salah satu fitur unggulan PERMATA adalah geo-cultural tagging yang memungkinkan sistem menyesuaikan bahasa, tampilan, serta nilai budaya sesuai lokasi pengguna. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan rasa aman dan kedekatan emosional bagi anak dalam proses pemulihan.

Selain itu, platform ini dilengkapi fitur tele-screening berbasis AI untuk deteksi dini kondisi mental, AI Mental Support Companion sebagai chatbot pendamping emosional, serta gamifikasi edukasi melalui permainan interaktif kesiapsiagaan bencana. Fitur lain seperti Pinch and Drop dan Mood and Food Analyzer juga menjadi inovasi yang membantu anak memahami situasi darurat dan hubungan antara pola makan dengan kondisi emosional.

Seluruh fitur tersebut terintegrasi dalam satu ekosistem yang mencakup deteksi, edukasi, hingga pendampingan. Konsep ini bertujuan mendorong anak tidak hanya pulih dari trauma, tetapi juga berkembang menjadi individu yang lebih tangguh.

Taufik menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut dan menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama tim yang solid. Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak takut menghadapi tantangan dan terus mengembangkan ide melalui riset dan kolaborasi.

Sementara itu, anggota tim Shandy Yusril Fadlullah menyebut capaian ini sebagai langkah awal untuk pengembangan PERMATA ke tahap yang lebih luas, baik sebagai platform edukasi maupun solusi digital yang dapat diimplementasikan secara nasional.

Tim PERMATA terdiri dari mahasiswa lintas disiplin, yakni Taufik Imansyah, Yuanda Eka Saputra, Asterika Indah Nuraini, Mutiah Hanif Nur Afifah, Shandy Yusril Fadlullah, dan Muhammad Farid Romadhoni Alqodr, di bawah bimbingan Wisnu Sri Hertinjung, S.Psi., M.Psi. Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga memiliki pendekatan psikologis dan sosial yang komprehensif.