SOLO, MettaNEWS – SD Muhammadiyah 1 Surakarta mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran Pendidikan Islam, termasuk tahfiz Al-Qur’an dan Bahasa Arab.
Inovasi ini diinisiasi oleh guru sekaligus Humas sekolah, Dwi Jatmiko, melalui pemanfaatan prompt AI sebagai bagian dari strategi pembelajaran modern.
Menurut Dwi Jatmiko, penerapan AI dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Teknologi ini dinilai mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, personal, interaktif, dan menyenangkan bagi siswa.
“AI memungkinkan pembelajaran menjadi lebih variatif dan menggembirakan bagi siswa,” ujanya, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, prompt merupakan perintah atau instruksi yang diberikan kepada sistem AI agar menghasilkan respons tertentu. Dalam praktiknya, guru dapat menyusun kalimat atau pertanyaan yang kemudian diproses oleh AI untuk menghasilkan materi pembelajaran sesuai kebutuhan.
Contohnya, dalam pembelajaran kelas III, siswa dapat diberikan tugas dengan prompt seperti, “Tuliskan iman kepada kitab-kitab Allah, menjadi anak yang mencintai Al-Qur’an.” Sistem AI kemudian akan merespons sesuai instruksi tersebut sehingga membantu proses pembelajaran lebih interaktif.
Jatmiko menegaskan bahwa kemampuan menyusun prompt yang tepat menjadi kunci penting dalam mengoptimalkan teknologi AI di ruang kelas. Hal ini sejalan dengan arahan Kepala Sekolah, Sri Sayekti, yang menekankan konsep pembelajaran joyful, mindful, and meaningful learning serta penguatan kelas cerdas berkeadaban melalui media interaktif.
“Dengan memahami cara menyusun prompt yang baik, guru PAI dapat mengoptimalkan teknologi untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa AI dalam pembelajaran PAI tetap harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru. Tujuan utama pendidikan Islam, yaitu pembentukan iman, takwa, dan akhlak mulia, tetap menjadi prioritas utama.
“AI harus menjadi pendukung yang memperkuat peran guru, bukan menggantikannya. Harapannya, inovasi ini tetap seimbang antara teknologi dan nilai-nilai keislaman,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu siswa kelas 3C, Fahru Ganendra Putra Prihandono, mengaku antusias dengan metode pembelajaran berbasis teknologi tersebut. Ia menyampaikan rasa senangnya karena dapat menggunakan perangkat digital dalam proses belajar.
“Alhamdulillah, saya sangat senang dan antusias mengikuti pembelajaran Al Islam dan Bahasa Arab menggunakan game di Canva AI,” ungkapnya.
Penerapan AI di SD Muhammadiyah 1 Solo ini menjadi salah satu langkah inovatif dalam menghadirkan pembelajaran agama yang relevan dengan perkembangan era digital, tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual yang menjadi dasar pendidikan Islam.








