SOLO, MettaNEWS – Real Estat Indonesia Solo Raya kembali menggelar pameran perumahan tahunan REI Expo #5 2026 yang berlangsung pada 17–26 April 2026 di Solo Paragon Mall. Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, ajang ini diharapkan mampu mendongkrak penjualan properti di tengah tekanan industri yang masih terasa sejak awal tahun.
Ketua REI Komisariat Solo Raya, Oma Nuryanto, menyampaikan bahwa pameran tahun ini diikuti 30 peserta, terdiri dari 15 pengembang perumahan dan 15 sektor pendukung, mulai dari perbankan, toko material bangunan hingga biro perjalanan umrah. Penyelenggara menargetkan nilai transaksi mencapai Rp50 miliar, meningkat dari capaian tahun sebelumnya sebesar Rp30 miliar.
Menurut Oma, kondisi saat ini menjadi momentum tepat bagi masyarakat untuk membeli rumah. Ia menyebut suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang relatif rendah, berkisar 4 hingga 5 persen, menjadi daya tarik utama bagi konsumen.
“Ini sangat menarik, baik untuk KPR subsidi maupun komersial,” jelasnya saat pembukaan pameran, Jumat (17/4/2026).
Selain itu, kebijakan pemerintah berupa insentif pajak juga turut mendorong minat beli. Program pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang masih berlaku hingga akhir tahun menjadi stimulus tambahan bagi calon konsumen.
Panitia pun menghadirkan berbagai promosi agresif, termasuk hadiah umrah bagi pembelian rumah tunai senilai Rp2 miliar. Strategi ini diharapkan mampu mendorong transaksi langsung selama pameran berlangsung.
Optimisme pelaku industri juga diperkuat oleh kebijakan terbaru Otoritas Jasa Keuangan terkait pelonggaran aturan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Melalui kebijakan ini, masyarakat dengan catatan kredit kecil di bawah Rp1 juta tetap memiliki peluang untuk mengakses KPR subsidi.
“Ini menjadi angin segar, khususnya bagi segmen subsidi yang selama ini kerap terkendala,” kata Oma.
Namun demikian, industri properti masih dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural. Salah satunya adalah persoalan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang dinilai sering tumpang tindih antara kebijakan pusat dan daerah, sehingga berpotensi menghambat proyek dan memicu kredit bermasalah.
Wakil Ketua Bidang Regulasi dan Perizinan DPD REI Jawa Tengah, Bambang Sriyanto, juga menyoroti kebijakan swasembada pangan yang membutuhkan alokasi lahan besar. Ia memprediksi tren hunian ke depan akan bergeser menuju hunian vertikal.
“Dalam lima tahun ke depan, rumah tapak akan semakin terbatas. Harga tanah naik, sehingga masyarakat akan diarahkan ke hunian vertikal,” ujarnya.
Ia pun mendorong masyarakat memanfaatkan momentum saat ini untuk memiliki rumah berbasis lahan sebelum harganya semakin meningkat.
Sementara itu, sambutan Wali Kota Surakarta yang dibacakan oleh Sekretaris Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Surakarta, Bambang Yuniarto, menegaskan bahwa sektor properti memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, sektor ini tidak hanya menyediakan hunian, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor lain seperti konstruksi, industri bahan bangunan, hingga UMKM. Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen mendukung pengembangan properti yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
“Kami mendorong pengembangan hunian yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga kualitas, aksesibilitas, dan keterjangkauan bagi masyarakat,” tukasnya.
Ia juga mengapresiasi peran REI dalam penyediaan perumahan, termasuk bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sinergi antara pemerintah, pengembang, dan sektor perbankan dinilai menjadi kunci dalam memenuhi kebutuhan hunian masyarakat.
Melalui penyelenggaraan REI Expo 2026, diharapkan tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga mampu meningkatkan investasi di Kota Surakarta dan sekitarnya, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sektor properti.










