SOLO, MettaNEWS – Tangan terampil Larry Allen Santoso (Tan Ge Yang), dalang cilik keturunan Tionghoa memainkan wayang kulit memukau tamu undangan perayaan Cap Go Meh Tahun Baru Imlek di Balai Kota Solo, Selasa (3/3/2026) malam.
Pemandangan ini jadi tak biasa. Karena untuk pertama kalinya puncak perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo diwarnai dengan gelaran wayang kulit.
Larry, dalang cilik asal Solo ini membawakan lakon (cerita-red) Bratasena Meguru di perayaan Cap Go Meh malam ini. Di hadapan 800 tamu undangan dan tokoh-tokoh penting, Larry mulai memainkan lakon Bratasena Meguru selama 20 menit.
Meski ia merupakan keturunan Tionghoa yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia, Larry begitu fasih membawakan lakon wayang dalam Bahasa Jawa. Kelihaian Larry dalam mendalang rupanya buah dari ketekunannya belajar sejak ia masih berusia 7 tahun.
Sang ibunda, Olivia Kristanti menuturkan, Larry aktif berlatih di dua sanggar sekaligus untuk mengasah keterampilannya dalam dunia pewayangan.
Untuk tampil maksimal di perayaan Cap Go Meh, Larry menambah sesi latihan bersama tim gamelan lebih banyak ketimbang biasanya.
“Larry sudah dari TK (suka wayang) sebetulnya, tapi mulai serius ikut di sanggar sama ikut les privat itu kelas 1 SD. Larry memang secara regular sudah ikut les di dua sanggar, sanggar dalang dan juga private di rumah untuk rutinnya. Tapi untuk persiapan lebih dalam untuk perform di acara Cap Go Meh 2026 tahun Kuda Api ini lebih diperbanyak latihannya, dimatangkan. bersama juga dengan tim gamelannya,” ujarnya.
Olivia sangat senang saat Larry didapuk tampil pertama kalinya di puncak perayaan Tahun Baru Imlek Kota Solo 2026. Sebagai seorang ibu, Olivia tahu betul bagaiamana Larry begitu mencintai dunia dalang. Kecintaan ini membawa buah hatinya dikenal sebagai dalang cilik berdarah Tionghoa yang aktif melestarikan budaya klasik.
“Saya sangat senang karena Larry mewakili dari salah satu Tionghoa Indonesia yang sangat mencintai budaya klasik Indonesia yang terlebih spesifik yaitu Javanese culture di pewayangan,” terangnya.
Tanpa Latar Belakang Keluarga Dalang, Sindrom Asperger Bukan Halangan

Larry tidak lahir dari keluarga yang mempunyai latar belakang dalang sedikitpun. Tanpa dorongan dari siapapun, kecintaanya dalam dunia wayang tumbuh saat ia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).
Kini Larry telah menginjak usia 16 tahun. Sindrom Asperger yang ia derita bukanlah sebuah halangan. Larry kian piawai, ia terus menekuni hobinya di dunia dalang hingga akhirnya undangan-undangan acara besar mulai berdatangan. Salah satunya, Larry juga dipercaya tampil di Cap Go Meh Pura Mangkunegaran.
“Larry ini sebetulnya ada Asperger Spectrum, tapi dia memiliki kelebihan di perwayangan, di dunia seni, terutama di kejawen. Bukan karena dorongan dari mana-mana, tapi memang keinginannya sendiri. Memang sangat dia mencintai wayang. Jadi di keluarga Chinese, kami di keluarga Tionghoa, dia termasuk unik. Tapi kita sekeluarga jadi bangga dan men-support, karena ini adalah salah satu budaya yang sangat luar biasa,” terangnya.
Sebagai anak yang lahir dari keluarga Chinese, profesi dalang yang disukai Larry terbilang cukup langka. Olivia berharap Larry dapat mendorong minat anak-anak muda untuk ikut melestarikan budaya Jawa.
“Semoga ini juga dilestarikan, juga meng-encourage (mendorong-red) untuk orang-orang di luar Solo juga dan yang lainnya untuk juga mencintai budaya asli Jawa juga,” tukasnya.
Guru dalang private Larry, Kukuh Ridho Laksono menjelaskan, lakon Bratasena Meguru ini bercerita tentang perjalanan Bratasena mencari Tuhan-Nya dan hakikat hidup. Lakon ini dipilih sebagai pengingat akan perjalanan spiritual bagi manusia.
“Mengisahkan perjalanan spiritual Bratasena muda mencari jati diri dan ngelmu kasampurnan (ilmu kesempurnaan hidup-red) atas perintah gurunya, Begawan Durna hingga akhirnya bertemu Dewa Ruci yang mengajarkan hakikat hidup sejati,” terangnya.










