UMS Kirim Relawan Psikososial ke Aceh Tamiang untuk Dampingi Korban Banjir Bandang

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS– Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengirim empat relawan psikososial untuk bertugas di wilayah terdampak banjir bandang di Kota Lintang, Aceh Tamiang, Sumatera. Pelepasan relawan tersebut berlangsung di Ruang Sidang Rektorat Lantai 6 Gedung Siti Walidah UMS, Senin (2/2/2026).

Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dedikasi para relawan yang akan menjalankan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana.

“Atas nama universitas, kami sangat berterima kasih atas dedikasi adik-adik relawan yang akan berangkat membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ujarnya.

Rektor berpesan agar para relawan mengedepankan pendekatan yang kontekstual, humanis, dan komunal dalam menjalankan pendampingan di lapangan. Ia juga menegaskan bahwa UMS mendukung penuh kegiatan tersebut karena merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

“Universitas akan sedikit membantu karena ini adalah kegiatan kemanusiaan, dan juga dapat dikonversi sebagai bentuk pengabdian yang menjadi bagian dari tugas akhir masa kuliah,” jelasnya.

Relawan yang diberangkatkan terdiri dari tiga psikolog dan satu koordinator tim, yakni Berlianti Husna Pradina, S.Psi., Shafiyatul Baridah, S.Psi., Alvanindya Nafik Ardani, S.Psi., serta Bramantyo Wijaya Kusuma sebagai koordinator.

Bramantyo menjelaskan bahwa keberangkatan tim dilandasi oleh panggilan kemanusiaan serta semangat ke-Muhammadiyahan. Menurutnya, Muhammadiyah tidak hanya berperan di bidang pendidikan dan keagamaan, tetapi juga aktif dalam aksi kemanusiaan melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

“Ini murni panggilan kemanusiaan. Sebagai manusia dan sebagai muslim, kami merasa punya tanggung jawab untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan mendesak di lokasi bencana saat ini masih berkaitan dengan ketersediaan air bersih serta pemulihan trauma psikososial masyarakat. Oleh karena itu, tim telah melakukan berbagai persiapan sebelum keberangkatan.

“Kami sudah mempelajari demografi masyarakat dan lingkungan budaya setempat agar intervensi yang diberikan sesuai dengan budaya dan tradisi di sana,” katanya.

Selain itu, aspek keamanan, keselamatan, alat pelindung diri, dan logistik juga telah dipersiapkan secara matang. Masa penugasan direncanakan berlangsung selama kurang lebih 16 hari, dengan fokus pendampingan di wilayah Kota Lintang.

Sementara itu, Alvanindya Nafik Ardani, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa bentuk pendampingan psikososial akan disesuaikan dengan hasil asesmen lapangan.

“Kami masih perlu melakukan asesmen awal. Namun sebelumnya sudah ada tim psikososial yang turun dan memberikan rekomendasi, itu yang akan kami jadikan pertimbangan,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa kegiatan pendampingan akan meliputi psikoedukasi, konseling, serta aktivitas bermain bersama anak-anak sebagai bagian dari pemulihan trauma.

“Pendampingan psikososial ini ibaratnya membantu mengalihkan sementara dari fase kedukaan, agar warga, terutama anak-anak, bisa kembali merasa aman dan tersenyum,” ujarnya.

Aktivitas bermain direncanakan menggunakan permainan tradisional sebagai media distraksi yang edukatif.

“Kami ingin mengenalkan permainan sederhana seperti lompat tali dan permainan tradisional lainnya, agar anak-anak bisa kembali ceria,” tambahnya.

Alvanindya menegaskan bahwa seluruh program akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Ia berharap, pendampingan yang diberikan dapat membawa manfaat nyata bagi warga terdampak.

“Harapannya, apa yang kami lakukan melalui pendampingan psikososial ini benar-benar bermanfaat bagi mereka dan bernilai amal bagi kami semua,” pungkasnya.