SOLO, MettaNEWS – Kota Surakarta berhasil masuk 20 besar kota/kabupaten berkinerja terbaik dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting tahun 2025.
Capaian ini menjadi bukti efektivitas intervensi lintas sektor yang dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Data terbaru mencatat penurunan stunting di Surakarta dari sekitar 1.543 kasus pada 2024 menjadi sekitar 1.100 kasus di awal 2025. Prevalensi kini berada di angka 7,59%, termasuk salah satu yang terendah di Jawa Tengah. Pemerintah Kota Surakarta juga mengalokasikan tambahan anggaran Rp 15 miliar untuk mempercepat penghapusan kasus stunting tahun ini.
Wakil Wali Kota Astrid Widayani menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka stunting merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak.
“Intervensi harus dilakukan secara keroyokan. Semua pihak bergerak bersama—pemerintah, puskesmas, kader posyandu hingga masyarakat. Hanya dengan sinergi total, kita bisa memastikan anak-anak Solo tumbuh sehat,” tegasnya saat melakukan pemantauan lapangan.
Astrid juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas kader posyandu, mulai dari edukasi gizi, pendampingan 1000 HPK, hingga pemantauan tumbuh kembang balita.
Pemkot Surakarta mengembangkan sejumlah program unggulan yang terbukti efektif, antara lain:
-
Program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting)
Melibatkan filantropi dan masyarakat, Astrid bahkan mengadopsi satu anak untuk didampingi perkembangannya. -
Baby Spa & Posyandu Plus
Layanan pemantauan tumbuh kembang yang lebih komprehensif. -
Kampanye Gizi & Edukasi Keluarga
Menguatkan praktik ASI eksklusif, MPASI bergizi, sanitasi, dan pola asuh. -
Penguatan layanan 1000 HPK melalui puskesmas dan kelurahan.
Program-program ini menunjukkan dampak besar, terutama di kawasan berisiko tinggi.
Sebagai intervensi gizi terpadu, Pemkot Surakarta menjalankan Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang menyediakan asupan bergizi untuk ibu hamil berisiko dan balita.
Di beberapa kelurahan seperti Karangasem dan Tipes, kegiatan DASHAT berjalan hingga 180 hari, melayani 30 penerima per hari. Program ini memanfaatkan pangan lokal dan memberdayakan kader posyandu.
Dalam kunjungannya, Astrid memberikan apresiasi kepada kader.
“Program seperti DASHAT tidak akan berhasil tanpa dukungan kader dan partisipasi warga. Kita ingin memastikan setiap makanan bergizi yang dibagikan berdampak nyata pada kesehatan ibu dan anak,” ujarnya.
Tak hanya intervensi gizi, Pemkot juga memperbaiki faktor lingkungan melalui revitalisasi 75 rumah tidak layak huni (RTLH). Perbaikan mencakup struktur bangunan, sanitasi, dan kualitas ruang untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi balita.
Astrid menegaskan bahwa stunting perlu ditangani secara menyeluruh.
“Intervensi stunting tidak hanya soal makanan bergizi, tetapi juga lingkungan rumah dan sanitasi. Anak harus tumbuh di lingkungan yang sehat,” tuturnya.
Pemerintah Kota Surakarta menargetkan “Surakarta New Zero Stunting”, yaitu tidak ada kasus baru serta penyelesaian kasus aktif melalui intervensi yang terukur dan menyeluruh.
“Tidak boleh ada anak di Solo yang tumbuh tidak optimal hanya karena kurang gizi. Ini tugas kemanusiaan dan masa depan kota,” tegas Astrid.
Dengan capaian yang membawa Solo masuk 20 besar nasional, Pemkot berharap model penanganan stunting berbasis gotong royong ini dapat direplikasi di daerah lain. Program ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.







