Ketua Kadin Solo, Ferry Septha Ingatkan Dualisme Keraton Surakarta Mengancam Stabilitas dan Ekonomi Solo Raya

oleh
oleh
Ketua Kadin Solo, Ferry Septha Indrianto menegaskan konflik keraton dapat berpengaruh pada geliat perekonomian Kota Solo | MettaNEWS / dok. pribadi

SOLO, MettaNEWS – Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Solo, Ferry Septha Indrianto, berharap dualisme yang terjadi di internal Keraton Kasunanan Surakarta segera menemukan titik penyelesaian. Ferry melihat konflik berkepanjangan tidak hanya berdampak pada stabilitas internal keraton, tetapi juga berpotensi mengganggu iklim ekonomi di Kota Solo dan kawasan Solo Raya.

“Ya kepastian adalah modal utama pembangunan,” tegas Ferry pada Senin (24/11/2025).

Ia menekankan bahwa soliditas internal keraton menjadi fondasi terciptanya kepastian.

“Ketika kepastian terbangun, lanjutnya, kepercayaan publik tumbuh, hukum menjadi lebih jelas, investasi mengalir, dan roda perekonomian bergerak,” tegasnya.

Ferry menilai bahwa Keraton Surakarta hanya dapat menjalankan peran strategisnya apabila seluruh unsur di dalamnya kembali menyatukan langkah. Konsolidasi dan harmoni internal keluarga besar keraton, menurutnya, akan membawa manfaat luas bagi masyarakat, pelaku usaha, sektor pariwisata, serta pemerintah daerah hingga pusat.

Ia menyebut dualisme keraton sebagai ruang kebijaksanaan yang seharusnya mampu menghimpun semua pihak tanpa ada yang tertinggal.

Namun Ferry mengingatkan bahwa persoalan keraton bukanlah isu publik yang diserahkan begitu saja kepada masyarakat. Keraton, kata dia, merupakan lembaga adat yang berdiri di atas paugeran atau aturan adat yang harus dihormati sebagai dasar penyelesaian konflik.

“Mengembalikan urusan keraton kepada masyarakat tanpa merujuk paugeran justru berpotensi menimbulkan kebingungan dan ketidaktepatan arah,” ujarnya.

Ferry menambahkan, masyarakat justru berharap pemerintah hadir dan ikut menjaga paugeran tersebut, bukan melepaskan diri dari tanggung jawab.

Menurut Ferry, sejarah peradaban Jawa tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta. Dalam masa awal kemerdekaan, keraton memiliki peran penting, termasuk dalam memberikan legitimasi kepada Republik Indonesia. Keraton, tegasnya, bukan sekadar simbol budaya, tetapi aset strategis dalam struktur sosial, budaya, dan ekonomi Kota Surakarta.

Ia meyakini bahwa masa keemasan keraton dapat kembali terwujud apabila stabilitas dan soliditas internal dipulihkan. Menurutnya, keraton terbukti mampu menggerakkan ekonomi, terutama sektor budaya dan pariwisata, sehingga jika ketidakstabilan terus berlangsung, dikhawatirkan akan berdampak negatif pada perekonomian Solo.

Ferry menegaskan perlunya penguatan tata kelola keraton secara profesional dan akuntabel agar perannya semakin maksimal.

“Keraton itu menguatkan perekonomian, pariwisata, dan marwah kota. Dan dari sanalah Surakarta dapat menapaki kembali kejayaannya,” kata Ferry.

Ia menutup pernyataannya dengan menyebut bahwa setiap masa kejayaan Surakarta—baik pada era PB II, PB IV–V, PB X, maupun masa awal republik—selalu diawali oleh peran dan eksistensi keraton yang kuat.