SOLO, MettaNEWS – Apa yang pertama kali terlintas dari telinga Anda ketika mendengar istilah “Merapah dan Doze Club”?. Tidak banyak lintasan bayangan barangkali.
Namun, dalam sedikitnya bayangan dan angan-angan itulah muncul rasa untuk beranjak dari tempat yang sama. Isi diskografi yang memang itu-itu saja dengan isi kepala yang selalu ada-ada saja.
Lagu “Merapah” pertama kali ditiupkan ruhnya pada pertengahan 2025 ketika tangan Ican mulai mengguratkan penanya. Kemudian, tulisan yang belum memiliki nasib itu disempurnakan oleh Muh Syaifullah dan Nathan Jonathan sebagai komponis.
Lagu ini sekaligus menggenapi single Doze Club yang dirilis tepat satu tahun lalu. Sebagai band rock malas tipis-tipis sekaligus sebagai gen Z yang taat.
“Kami selalu memberi afirmasi positif kepada diri sendiri. Tidak apa-apa yaa satu tahun satu lagu. Toh, pepatah lama bilang sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,” tulis keterangan Doze Club yang Mettanews terima.
“Entah bukit apa yang nantinya akan kami bangun, mungkin bukit berbunga, mungkin bukit berbatu, atau mungkin bukit berisi tumpukan mimpi yang belum sempat kami wujudkan. Namun, satu hal yang pasti, kami hanya tidak ingin terjebak dalam zona yoman (zona nyaman-red). Kami hanya ingin melangkah, seperti halnya judul lagu ini, “Merapah”, yang berarti ‘menjelajah’,”.
Dalam penjelajahan ini, Doze Club berbekal ajaran dari Putu Wijaya, seorang sastrawan yang bukan kepalang produktifnya. Kata-kata Putu Wijaya yang masih sangat diingat, “Dari 0 menuju berapa pun.”
“Dalam tubuh pemuda yang telah disesaki banyaknya kegagalan, kami masih menyimpan ruang kecil untuk cahaya bernama harapan. Masa muda adalah waktu yang paling tepat untuk berharap. Masa muda adalah waktu yang paling tepat untuk tersesat,”.
“Karena dari kesesatan itu, kita belajar mengeja arah. Dari arah yang salah, kita lantas merumuskan jalan pulang atau justru jalan baru yang lebih menantang,”.
Berbagai tantangan, harapan, dan ketersesatan itu Doze Club coba rangkum dalam nuansa high school rock.
“Melodi, lirik, hingga choir yang kami mampatkan akan membuat kawan-kawan menemukan masa-masa sekolahnya dulu, ketika mimpi belum terasa mahal,”
Secara musikal, “Merapah” masih mengandung aroma khas Doze Club: gitar yang berdenting seperti gumam tengah malam, vokal yang dibiarkan sedikit lelah tapi jujur, serta drum yang tak pernah ingin menjadi pahlawan.
“Lagu ini tidak diciptakan untuk memotivasi siapa pun, tapi jika setelah mendengarnya kawan-kawan merasa ingin beranjak dari tempat dudukmu, mungkin itu pertanda baik. Mungkin kamu juga sedang merapah, seperti kami,”.








