Ketua ORARI Solo Sumartono Hadinoto Kenang PB XIII: Raja yang Dekat dengan Komunitas Radio Amatir

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS– Ucapan duka cita atas wafatnya Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII, Raja Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta, terus mengalir dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Sumartono Hadinoto, tokoh masyarakat Solo yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Plh Ketua PMI Surakarta, dan Ketua Orari Solo.

Dengan suara penuh haru, Sumartono mengenang sosok Sinuhun PB XIII bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai sahabat dekat yang rendah hati dan mudah bergaul.

“Kami, keluarga besar Perkumpulan Masyarakat Surakarta dan Palang Merah Indonesia Surakarta, ikut berbela sungkawa atas kepergian Sinuhun. Kami mendoakan semoga beliau diterima di sisi-Nya. Ya, kami benar-benar kehilangan,” ungkap Sumartono, Minggu (2/11/2025).

Sumartono menceritakan, pada masa muda sekitar tahun 1970-an, ia dan Sinuhun aktif bersama dalam organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari). Dari sanalah, persahabatan mereka terjalin erat.

“Beliau itu orangnya sangat bersahaja, sangat merakyat, dan luar biasa rendah hati. Saat kami bergaul di Orari, Sinuhun tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Kami sering duduk bareng di bawah, bercakap dengan bahasa Jawa sehari-hari,” kenang Sumartono.

Ia bahkan masih sangat mengingat satu momen sederhana yang begitu membekas dalam ingatannya — sebuah gambaran nyata tentang kerendahan hati seorang raja.

“Saya masih ingat betul, saat itu kami sedang mempersiapkan acara Orari di Sriwedari. Malam itu gelap sekali, kami berdua duduk di bak pick up, membawa petromak untuk penerangan acara keesokan harinya. Sinuhun ikut memanggul dan menyalakan lampu itu sendiri. Itu momen yang tak akan pernah saya lupakan,” tuturnya.

Selain dikenal sebagai pribadi yang hangat, Sinuhun PB XIII juga dikenal dekat dengan komunitas Orari Solo. Ia kerap memberi ruang dan dukungan bagi kegiatan para anggota, termasuk menyediakan tempat di Keraton Kasunanan maupun Pura Mangkunegaran.

“Beliau dan juga Gusti Jiwo sama-sama mencintai Orari. Kalau kami mengadakan acara, selalu diberi tempat, entah di Keraton Kasunanan atau di Mangkunegaran. Beberapa festival Orari di Solo juga digelar di sana. Itu bentuk perhatian beliau kepada komunitas kami,” jelas Sumartono.

Bagi Sumartono, kepergian Sinuhun PB XIII bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Keraton Surakarta, tetapi juga bagi masyarakat Solo dan seluruh sahabat yang pernah mengenal kedekatan dan ketulusan beliau.

“Beliau bukan hanya seorang raja, tapi juga sahabat yang rendah hati. Sosok seperti beliau akan selalu dikenang,” pungkasnya.