MERIAH, Grebeg Syawal 2025 di Solo Safari, Cucu PB XIII Perankan Joko Tingkir

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Kolaborasi tradisi, edukasi dan pariwisata, ribuan pengunjung penuhi gelaran tahunan Grebeg Syawal Solo Safari, Minggu (6/4/2025). Event ini merupakan Grebeg Syawal ketiga sejak tahun 2023 yang terwujud atas adanya kolaborasi antara Keraton Kasunanan Surakarta dengan Solo Safari.

Acara Grebeg Syawal ini dimulai pukul 10.30 dari Lobby dengan arak-arakan atau iring-iringan sosok Joko Tingkir yang menyeberangi danau Solo Safari hingga Panggung Terbuka dan diakhiri dengan puncak acara berbagi Gunungan Ketupat yang memiliki makna mendalam.

Sosok Joko Tingkir dalam Grebeg Syawal 2025 ini diperankan oleh BRM. Yudhistira Rachmat Saputro, cucu dari Pakubuwono XIII.
Arak-arakan Joko Tingkir
Salah satu momen yang sangat dinantikan adalah arak-arakan atau iring-iringan Joko Tingkir, yang merupakan sosok simbol pemimpin masa depan. Joko Tingkir mengendarai kuda, didampingi oleh enam pasukan Bregada atau Prajurit Karaton, yang terdiri dari Tamtama, Soro Geni, Prawiro Anom, Jayeng Astra, Doropati, dan Joyosuro. Arak-arakan ini diawali di Lobby dan menyusuri jalur Solo Safari hingga tibalah sosok Joko Tingkir di pinggir danau Solo Safari.

Joko Tingkir Menyusuri Danau Solo Safari dengan “Gethek”

Legenda Joko Tingkir sering mengarungi Sungai Bengawan Solo bersama sahabat-sahabatnya dan menerjang rintangan saat menyusuri Sungai Bengawan Solo diceritakan kembali dengan sosok Joko Tingkir yang mengarungi danau di Solo Safari, dimana danau di Solo Safari ini merupakan tempat muara dari aliran Sungai Bengawan Solo.

“Gethek” bambu rakit yang menjadi alat transportasi Joko Tingkir, melambangkan kemampuan untuk mengatasi segala rintangan dan bahaya dalam mengarungi kehidupan. Hal ini tercermin dalam tembang Mijil “Sigra Milir Sang Gethek Sinangga Bajul,” yang berarti Joko Tingkir yang naik Gethek mampu mengatasi segala rintangan.

Juga ditampilkan tarian penyambut Joko Tingkir, yang melambangkan penyambutan dan rasa syukur setelah perjuangan panjang Joko Tingkir mengarungi Sungai Bengawan Solo dengan menggunakan “Gethek” (perahu tradisional).

Berbagi Ketupat “Ngaku Lepat”

Filosofi Ketupat yang memiliki makna “Ngaku Lepat” atau “Mengakui Kesalahan”. Filosofi ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan manusia, tidak ada yang luput dari kesalahan dan kekurangan. Ketupat yang dibagikan kepada pengunjung Solo Safari memiliki makna kesadaran diri atas kesalahan dan kekurangan selama kehidupan serta kemudian mengakui hingga memperbaiki kesalahan tersebut, mengingatkan untuk selalu intropeksi diri. Masyarakat Jawa percaya bahwa berbagi ketupat melambangkan keberhasilan dalam meraih kemenangan dan kebaikan setelah berpuasa, serta memperoleh kebaikan dan mempererat tali silaturahmi antar sesama di Hari Raya.

Grebeg Syawal yang digelar dengan penuh kemeriahan merupakan bagian dari tradisi yang telah dilestarikan selama bertahun-tahun. Grebeg Syawal Solo Safari juga merupakan wujud syukur atas Hari Kemenangan atau Hari Idul Fitri yang dikemas dalam atraksi budaya, sehingga masyarakat luas dapat mengenal dan menikmati budaya Keraton Kasunanan Surakarta lebih dekat.

“Kami merasa terhormat dapat kembali menggelar Grebeg Syawal bersama Keraton Kasunanan Surakarta. Acara ini bukan hanya sekadar tradisi yang turun-temurun, namun juga bentuk kolaborasi antara tradisi dan pariwisata, serta sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal kepada masyarakat khususnya pengunjung Solo Safari.” ujar General Manager Solo Safari, Yustinus Sutrisno.

KGPH Dipokusumo menambahkan, Grebeg Syawal adalah ungkapan syukur dan kegembiraan setelah menjalankan ibadah puasa dan merayakan Hari Kemenangan Idul Fitri yang dikemas dalam unsur tradisi dan budaya.

“Kami berharap melalui acara ini, masyarakat dapat lebih memahami filosofi di balik tradisi ini dan menikmati serta semakin mencintai budaya Karaton Kasunanan Surakarta lebih dekat,” jelas Gusti Dipo.