SOLO, Metta NEWS – Dinas Perhubungan Kota Solo memasang Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) untuk antisipasi pengalihan rute underpass Makamhaji. APILL tersebut terpasang di titik terdampak, seperti di Kleco, Faroka, Kerten, Purwosari dan Gendengan serta Sabar Motor. Titik ini menjadi rute pengalihan arus favorit masyarakat.
Kabid Lalu Lintas Dishub Solo, Ari Wibowo menuturkan beban arus lalu lintas yang masuk ke Kota Solo pada jam-jam tertentu sangatlah padat. Menjadi catatan, hal ini tidak bisa dilancarkan secara langsung. Intervensi dilakukan dengan tidak hanya melihat satu titik antrean kepadatan dengan tidak hanya melihat satu titik yg menjadi dampak antrean kepadatan, melainkan juga harus melihat dari semua titik.
“Misalkan Gendengan padat antreannya, nanti ditahan dari barat di Purwosari, Purwosari dari barat juga padat, Kerten dari barat juga kita tahan, dari arah barat Faroka juga kita tahan. Terakhir di Kleco juga kita tahan dari barat dan memang termasuk banyak sekali aduan masyarakat menyampaikan dan menanyakan mengapa Kleco dari arah barat antreannya sangat panjang,” ungkap Ari Wibowo saat dikonfirmasi melalui telepon pada Selasa (22/02).
Ari Wibowo mengungkapkan kemacetan tengah kota dapat terjadi apabila arus jalan dilancarkan langsung. Dishub juga akan mengontrol traffic light sesuai dengan kebutuhan oleh petugas sentra control room Dishub Solo. Patroli kota akan disiagakan di Sabar Motor dan Jongke.
Untuk menghalau bus ataupun truk yang nekat, Dishub Solo lakukan penutupan jalur Rajiman menuju ke dr. Wahidin, ke Gendengan dan Purwosari, maupun ke arah Jongke.
“Kalaupun ada yang lolos harus tetap lurus ke jalan Rajiman dan berbelok kiri di APILL Tugu Lilin Pajang, atau Makamhaji belok kiri ke arah Gentan dan menuju rute yang seharusnya di kawasan Baki, Pakis,” tambah Ari Wibowo.
Ari menambahkan, masyarakat juga dihimbau untuk menerapkan manajemen rute perjalanan dengan menghindari rute kemacetan, seperti di Kleco, Faroka, Kerten, Purwosari. Manajemen waktu perjalanan juga dibutuhkan dengan menghindari jam waktu sibuk, pagi siang maupun sore. Pengguna jalan dapat berputar sedikit lebih jauh melalui tol ataupun Colomadu dan Jl. Adi Sucipto.
“Menerapkan manajemen moda transportasi juga bisa dijalankan dengan memilih kendaraan dimensi lebih kecil seperti sepeda atau sepeda motor bisa menjadi pilihan jika pergi di kawasan terdekat,” tuturnya.
Selain itu, Ari mengungkapkan jika masyarakat menggunakan bus atau angkutan umum massal BST akan lebih nyaman pada kondisi semacam ini.








