SOLO, MettaNEWS – Sempoa SIP Kiddo House dan Sempoa SIP Solo Baru di Solo, Minggu (17/12/2023) pagi ini mengerahkan 62 siswa-siswinya untuk mengikuti kompetisi serentak yang berlangsung di seluruh wilayah Indonesia. Kompetisi yang melibatkan lebih dari 11.000 anak di ajang Sempoa SIP Nasional (Komsipnas) ini bertujuan memecahkan rekor dunia yang akan dicatat oleh lembaga dunia Guinness World Records
“Lomba ini digelar secara online mulai jam 6.30 s/d jam 18.30 dalam rangka anniversary Sempoa SIP Indonesia yang ke-25.
Sebelumnya, kami juga sudah pernah terlibat dalam pemecahan rekor nasional 3x oleh MURI.
Dan sekarang untuk rekor dunia Kami sudah bersiap sejak lima bulan kemarin,” tutur Nunik Herawati selaku owner Sempoa SIP Kiddo House.
Persiapan lomba cukup rumit, karena melibatkan anak-anak dari berbagai usia dan level. Juga digelar di wilayah yang terbagi menjadi beberapa zona waktu. Nunik memaparkan, Sempoa SIP Kiddo House berada di zona Waktu Indonesia Bagian barat, terpaksa harus mengawali lomba pukul 6.30. Sedangkan saat itu peserta lomba di Papua sudah jam 8.30.
“Penyesuaiannya harus kami antisipasi, karena anak-anak tentu masih mengantuk. Tapi kami sangat optimistis, bisa mengikuti kompetisi ini dengan hasil bagus,” ujarnya.
“Saya sangat bangga kepada anak-anak kami yang sudah mau berjuang dan berlatih selama 5 bulan untuk ikut mengukir prestasi Indonesia di kancah dunia,” tambahnya
Proses lomba terbagi dalam beberapa sesi. Setiap sesi, peserta menggunakan 2 device. 1 device yaitu telpon seluler untuk pengerjaan dan device yang lain untuk zoom karena anak harus tetap terlihat di layar. Setiap anak akan mengerjakan soal sesuai dengan levelnya dalam waktu 3 menit untuk pengerjaan soal tanpa menggunakan sempoa (bayang).
Dalam salah satu uji coba sebelumnya, seorang peserta lomba, Shuneal (7th) pelajar kelas 1 SD, berhasil mengerjakan 70 soal hitung bayang tersebut dalam waktu 3 menit. Skor yang dia capai, ada 2 jawaban salah, yang langsung terlihat dari warna merah di monitor pengawas di tangan guru.
Sempoa SIP, menurut Nunik, bukanlah kursus untuk belajar matematika, melainkan tempat pelatihan otak anak. Jadi berhitung cepat hanya bonusnya saja.
Tujuan utama dari Sempoa SIP adalah untuk memperkuat daya konsentrasi anak. Jadi ketika konsentrasi sudah terbangun dengan sangat baik, maka belajar apapun jadi lebih mudah. Oleh karena itu moto dari Sempoa SIP adalah BASIC FOR ALL LEARNING.
“Tidak ada otak yang bodoh, yang ada adalah otak yang terlatih dan yang tidak terlatih. Seperti juga otot, hanya bisa kuat dengan latihan. Sempoa SIP memiliki sistem edukasi melatih otak secara optimal dengan menerapkan 3 gaya belajar yaitu auditori, visual dan kinestetik. Tentunya agar optimal harus dalam rentang usia yang tepat, bisa dimulai pada usia 3 tahun, sampai kira-kira usia kelas VI SD,” tuturnya.
Kembali tentang kompetisi, Nunik menyebut banyaknya pertanyaan kenapa Sempoa SIP sering mengadakan kompetisi di berbagai level. Beliau menjawab, kompetisi bukan untuk saling menjatuhkan. Tetapi dengan adanya kompetisi, anak belajar untuk memiliki target sejak dini. Melatih kepercayaan diri dan belajar mengontrol emosinya, sehingga terbentuklah mental juara.
“Kompetisi melatih kemampuan otak. Anak yang terbiasa berkompetisi akan lebih mengenal kemampuan dirinya,” tandas Nunik. (adv)








