OJK Targetkan Indeks Literasi Keuangan Capai 53 Persen Tahun Ini

oleh
oleh

YOGYAKARTA, MettaNEWS – Literasi keuangan masyarakat Indonesia masih jauh dari target. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga tahun 2022 indeks literasi keuangan di Indonesia mencapai 49,68 persen. Sedangkan untuk indeks inklusi mencapai 85,10 persen. Tahun 2023 ini OJK menargetkan literasi keuangan mencapai angka 53 persen.

Deputi Direktur Pada Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK Rose Dian Sundari menjelaskan angka tersebut menunjukan banyak masyarakat yang sudah menggunakan produk-produk keuangan. Namun belum tahu secara detail produk yang mereka beli.

“Jadi masyarakat ini sudah mempunyai produk-produk. Tetapi mereka tidak paham itu mau bagaimana. Ibaratnya bisa beli tapi setelah itu dibiarkan saja karena tidak paham dengan produknya,” jelasnya pada Journalist Class Angkatan 6 di Yogyakarta, Selasa (27/6/2023).

Rose Dian menyebut capaian angka literasi masih rendah karena beberapa aspek. Seperti perbedaan kultur daerah, ketersediaan jaringan internet, kondisi geografis, demografi dan lainnya.

“Ini menjadi tantangan kita bersama. Bukan hanya OJK tetapi juga pelaku jasa keuangan, baik terkait literasi maupun inklusi. Langkah kita saat ini pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga pelajar menjadi target literasi inklusi. Posisinya saat ini banyak pelajar yang belum mempunyai rekening,” ujarnya.

Rose Dian mengungkapkan saat ini masih banyak pelajar yang belum mempunyai rekening. Selain UMKM dan pelajar, sasaran lain prioritas literasi inklusi keuangan tahun 2023 yakni masyarakat yang tinggal di daerah 3T dan penyandang disabilitas.

Dalam literasi dan inklusi keuangan, Rose menyebut OJK mengenalkan pada masyarakat mengenai manajemen keuangan.

Manajemen keuangan ini menurut Rose penting untuk pelaku UMKM.

“Biasanya kan UMKM itu yang penting jalan. Tidak tahu rencana kedepan seperti apa. Kalau mau mengajukan modal juga bank menolak. Sehingga kami beri pemahaman agar bankable,” tuturnya.

Terkait capaian angka literasi dan inklusi sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas agar pada tahun 2024 bisa mencapai 90 persen.

“Hingga akhir tahun ini, target capaian indeks inklusi bisa mencapai 88 persen, sedangkan indeks literasi keuangan hingga akhir tahun ini targetnya 53 persen,” katanya.

Ia mengatakan pentingnya masyarakat paham literasi agar punya pengetahuan sehingga tidak keliru dalam membuat keputusan dalam menggunakan uangnya.

“Jangan baru bisa nabung tapi sudah pakai kartu kredit. Rendahnya tingkat literasi ini membuat tingginya tingkat pengaduan,” tandasnya.

Rose menyebut jika literasi keuangan rendah dapat berakibat pada tingginya tingkat pengaduan di sektor jasa keuangan.

“Juga pengunaan produk keuangan yang tidak sesuai, pengelolaan asset yang tidak optimal, dan banyaknya masyarakat yang terjebak investasi ilegal,” jelasnya.