SOLO, MettaNEWS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tak kehabisan ide untuk menghibur warga Solo maupun pendatang saat libur Lebaran nanti.
Salah satunya dengan menggelar pentas wayang kulit di Balai Kota Solo pada Senin (24/4/2023). Dengan menggandeng sanggar wayang Darmasuta.
Sutradara pentas wayang kulit, Agung Kusumo Widagdo menuturkan pentas wayang kulit tahun ini mengambil cerita Mahabarata.
“Kalau biasanya Ramayana sejak 2015 sampai 2019, 2020 Covid. Sejak 2022 kami mencoba Mahabarata tahun ini juga, yang membedakannya tahun ini semua memakai Bahasa Indonesia,” beber Agung ketika jumpa pers, Rabu (13/4/2023).
Penggunaan bahasa Indonesia ini bertujuan untuk memudahkan kaum milenial memahami pentas wayang kulit yang biasanya dibawakan dengan Bahasa Jawa.
“Kami harapkan untuk anak-anak muda yang milenial bisa lebih mengerti dengan Bahasa Indonesia. Kostumnya kita tidak seperti biasanya kita garap nuansanya tetap tradisi dan tidak meninggalkan aslinya,” terang dia.
Pentas wayang kulit libur Lebaran ini melibatkan 100 orang penari dan pemain musik. Mengusung konsep yang cukup berbeda dari tahun sebelumnya.
“Untuk harapannya ini beda memang prosedurnya beda, dengan tari dan musiknya lebih sedikit,” kata dia.
Sensasi Libur Lebaran Berbeda
Genre musik pentas wayang kulit ini juga dibuat sedemikian rupa berbeda. Yakni dengan menggabungkan genre musik Jawa dari berbagai daerah.
“Music mengambil dari beberapa genre Solo dan Banyumas, Magelangan, Sulawesi, Banyuwangi Jawa Timur agar penonton tidak jenuh, memang biar bervariasi,” ujar Agung.
“Karena yang ditonton untuk umum butuh penghayatan butuh entertaint tapi tidak meninggalkan passionnya tersebut,” sambung dia.
Untuk menggarap event pentas wayang kulit ini membutuhkan penghayatan. Salah satunya dalam tarian pentas wayang tersebut.
“Tarinya ada beberapa segmen yang berbeda tidak murni jadi ada penghayatan kontemporer pokoknya kali ini mudah-mudahan bisa berhasil,” terangnya.
Agung berharap gelaran pentas wayang kulit tahun ini dapat menyedot penonton jauh lebih banyak tinimbang saat menggunakan Benteng Vastenburg.
“Karena selama ini kan Ramayana selalu berhasil dengan penonton yang mencapai 4 ribu waktu di Benteng, mudah-mudahan nanti di Balai Kota bisa menyedot penonton,” harap dia.
Selama 2 jam pertunjukkan penonton akan ia manjakan dengan suguhan apik dalam sebuah pentas wayang kulit.
“Untuk panggung masih di lapangan, tapi di belakang topengan, nanti ada screen untuk mempertebal suasana untuk adegan tujuannya untuk manjakan penonton,” tukasnya.








