SOLO, MettaNEWS – Wajah baru Ngarsapura hingga jalan Gatot Subroto (Gatsu) membuat destinasi wisata baru di Kota Solo. Hal itu membuat kawasan yang berada di depan Pura Mangkunegaran itu semakin ramai wisatawan.
Ramainya wisatawan di wajah baru Ngarsapura ini berdampak juga pada pasar barang antik Triwindu yang berada dalam kawasan tersebut. Namun para pedagang malah mengeluhkan banyaknya wisatawan tidak sejajar dengan transaksi jual beli atau perputaran ekonominya.
Ketua Paguyuban Pasar Triwindu, Yuliana Kusumaningtyas (51) mengaku pengunjung ke Pasar Triwindu meningkat sejak proyek jalur pedestrian terlihat. Namun tujuan para pengunjung tidak untuk belanja.
“Pengunjung Alhamdulillah banyak, tapi hanya untuk foto-foto saja. Kalau untuk transaksi lebih parah daripada pandemi COVID-19,” kata Yuliana, Kamis (21/1/2023).
Ia mengungkapkan saat pandemi perputaran ekonomi masih berjalan melalui transaksi online meski pengunjung menurun drastis.
Ketika PPKM usai ini jumlah pengunjung meningkat pesat namun tidak berdampak pada penjualan. Pedagang malah harus extra hati-hati mengawasi barang jualannya.
“Kalau rata-rata kenaikan pengunjung bisa sampai 85 persen. tapi kalau transaksi itu 50 persen masih sulit,” katanya.
Paguyuban pedagang Triwindu pun menyepakati untuk meminta donasi pada pengunjung yang ingin berfoto, lebih khusu untuk yang foto berkepentingan seperti prewedding.
“Kita patok Rp 125 ribu untuk yang berkepentingan seperti prewedding. Kalau untuk pengunjung biasa atau pelajar, mahasiswa yang buat tugas itu sukarela. Uang ini untuk kas paguyuban dan perawatan pasar,” tungkasnya.
Tanggapan Dinas Perdagangan Terkait Penarikan Donasi Foto

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Solo, Heru Sunardi mengatakan, belum mengetahui soal donasi foto tersebut. Ia akan melakukan koordinasi dengan paguyuban terkait hal ini. Sebab, pihaknya tidak membuat aturan seperti itu.
Untuk foto yang berkepentingan seperti prewedding Heru mengungkapkan, masyarakat bisa melakukannya dengan bersurat ke dinas. Pihak dinas akan memberi izin selama aktivitas itu tidak mengganggu jual-beli, menjaga kebersihan, koordinasi dengan pengelola.
“Kalau perawatan sudah dari Dinas. Kalau untuk operasional paguyuban, saya kurang tahu,” kata Heru, Rabu (1/2/2023).
Selain itu Heru juga mengatakan kepada pedagang tidak perlu mempermasalahkan banyaknya pengunjung yang berfoto. Sebab, hal itu secara tidak langsung ikut mempromosikan Pasar.









