Banjir Pucangsawit, Warga Kenang Peristiwa Air Bah Tahun 1966 dan 2007 Silam

oleh
Banjir
Kanan banjir Solo 1966 dok @Solozamandulu, kiri banjir Kampung Kedung Belong, Kelurahan Pucangsawit, Jebres Solo, Sabtu (22/10/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Warga Kampung Kedung Belang, Kelurahan Pucang Sawit, Kecamatan Jebres Solo kini tengah dilanda keresahan. Tak dinyana-nyana hujan deras yang mengguyur pada Jumat (21/10) sore kemarin membuat 99 rumah terendam genangan air setinggi satu meter.

Salah satu warga, Warni (67) mengatakan hujan disertai angin kencang melanda Kampung Kedung Belang sekitar pukul 15.00 WIB. Seiring hujan deras itu listrik juga mati hingga pukul 20.00 WIB.

“Hujannya dari sore jam 3-an sampai jam setengah 9-nan sudah terang (reda), kalau banjir sekitar jam 11-an malem itu sedikit demi sedikit mulai ada luapan terus barang-barang saya sebagian langsung saya tumpangkan ke atap-atap atas,” terang Warni, Sabtu (22/10/2022).

Banjir
Warung terendam banjir di Kampung Kedung Belang, RT 2 RW 7 Kelurahan Pucangsawit, Jebres Solo, Sabtu (22/10/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Menurut warga Kampung Kedung Belang tersebut biasanya hujan turun hanya menyebabkan genangan air biasa. Tidak sampai masuk rumah maupun menggenang seisi wilayah.

“Tidak sampai pinggang orang dewasa, nggak sampai masuk rumah juga ini kan masuk. Jadi karena tiba-tiba saja kok meluap terus makin tinggi airnya akhirnya saya semalam nggak tidur,” kata Warni.

Warni yang sehari-hari berjualan makanan anak-anak itu terpaksa harus menunda berdagang. Air yang meninggi sejak semalam membuatnya mengurungkan niat untuk mencari rezeki hari ini. Ia pun hanya ingin menunggu airnya surut di depan teras rumah tetangganya. Sembari berharap hujan tak lagi mengguyur Kota Solo.

“Proses evakuasi sendiri dan memilih tetap di rumah. Niatnya mau tidur di rumah tapi ya nggak bisa tidur, anak-anak di luar semua, saya nggak tahu ada tenda apa enggak ini nanti,” kata Warni.

Wanita lanjut usia tersebut kemudian mengingat kembali masa kelam di tahun 1966. Peristiwa banjir bandang terbesar sepanjang sejarah di Kota Solo. Saat itu wanita yang saat ini berusia 67 tahun tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Banjirnya seluruh Kota Solo pas 1966 sampai Pasar Gede itu saja tenggelam kok. Saya masih SD kelas 5 waktu itu, semua ngungsi bareng keluarga, kalau dulu kan banjir karena 2 tanggul jebol, Pasar Tanggul sama Beton. Kalau yang tahun 2000-an itu terakhir banjir tahun 2007, lebih besar lagi dari ini, tapi masih besar tahun 1996,” tutur Warni.

Serupa dengan Warni, Sutimin (70) mengaku terenyuh saat ingatannya kembali ke masa 1966. Menurutnya air bah kala itu sangat mengerikan.

“Tahun 1966 dua kali setelah bersih-bersih air datang lagi lebih besar, mengerikan. Kalau yang ini biasanya kalau Taman Sunan Jogo Kali banjir sini baru ikut banjir tapi ini tamannya kan enggak banjir, saya heran di sini kok bisa banjir. Terakhir hanya air luapan kota,” katanya.