Nyala Lilin Surakartans untuk Ratusan Nyawa yang Berpulang di Kanjuruhan

oleh
Bola
Aksi solidaritas suporter Persis Solo, Surakartans menyalakan lilin dan doa bersama atas tragedi berdarah Stadion Kanjuruhan Malang, Minggu (2/10/2022) di Stadion Manahan Solo | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Tidak ada sepak bola yang seharga nyawa. Mungkin itulah ungkapan yang tepat atas tragedi memilukan di Stadion Kanjuruhan Malang usai Liga 1 Arema FC vs Persebaya Surabaya selesai digelar pada Sabtu (1/10/2022) malam. 

Setidaknya 153 orang dilaporkan meninggal dunia dan 180 lebih diantaranya mengalami luka-luka. Banyaknya korban jiwa yang terus berjatuhan itu membuat para pecinta bola Tanah Air bersimpati. Salah satunya suporter Persis Solo, Surakartans.

Berlokasi di area parkir Stadion Manahan Solo, aksi solidaritas Surakartans dimulai tepat pada pukul 19.23 WIB, Minggu (2/10/2022). Selaras dengan tahun Laskar Sambernyawa ini lahir. Di aksi itu ribuan suporter Laskar Sambernyawa hadir untuk memberikan doa pada mereka yang telah berpulang. 

Pembentangan spanduk bertuliskan “Duka Malang Duka Kita Semua” jadi latar belakang ribuan suporter berpakaian serba hitam yang duduk bersila sambil membawa lilin yang menyala. 

“Sepak bola yang seharusnya menjadi hiburan rakyat, maupun juga dapat dinikmati setiap golongan dengan suka cita, malam tadi menimbulkan korban jiwa, sekurang-kurangnya ada sekitar 125 orang meregang nyawa,” kata perwakilan aksi, Bogdanov.

Aksi ini merupakan bentuk peringatan kepada semua elemen sepak bola agar tragedi Kanjuruhan tak terulang. 

“Seharusnya mereka yang berangkat ke stadion menyaksikan klub kebanggannya berlaga dapat kembali pulang. Bukan pulang tinggal nama. Tak pernah terbayang ada tragedi mengerikan seperti ini. Malam ini kawan-kawan, kita satukan suara, tak peduli dari kelompok mana, kemanusiaan hendaknya menyatukan kita semua,” terangnya. 

Tragedi Kanjuruhan menjadi duka mendalam  bagi Tanah Air bahkan dunia. Bagaimana tidak, dalam sejarah sepak bola dunia tragedi Kanjuruhan menempati posisi kedua sebagai kerusuhan paling tragis dan mematikan. 

Kejadian serupa dengan korban lebih banyak pernah terjadi di Stadion Nasional Peru pada 2 Mei 1964 yang menelan korban jiwa sebanyak 318 orang. Tragedi lainnya, kerusuhan di Ghana (9/5/2001) dengan korban jiwa 126, tragedi Hillsborough Inggris (15/4/1989) dengan korban jiwa 96 dan kerusuhan Port Said Mesir, (1/2/2012) dengan korban jiwa 79 orang.