SOLO, MettaNEWS – Rencana penutupan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Jebres Solo pada Jumat (1/7/2022) dibatalkan. Alasannya, banyaknya pengujung di masa libur sekolah menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penutupan. Diketahui masa libur sekolah wilayah Solo baru akan berakhir pada 9 Juli.
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan penutupan TSTJ akan mundur satu bulan yakni pada Agustus mendatang. Namun untuk revitalisasi tetap dilakukan di bulan Juli dengan menerapkan dua fase. Pihaknya menyayangkan penutupan TSTJ di momen libur sekolah di akhir Juni hingga pekan awal Juli ini.
“Jurug penutupan mundur sebulan tapi pengerjaan tetap Juli, soale pekerjaan awal nggak perlu menutup kebun binatang soale eman (sayang) banget kalau ditutup pas libur sekolah tapi tetap on schedule,” kata Gibran saat ditemui di Balai Kota Solo, Kamis (30/6/2022).
Menyayangkan banyaknya pengunjung yang datang, pihaknya tak ingin menutup total saat revitalisasi berlangsung. Gibran mengatakan TSTJ pada Jumat esok masih buka seperti biasa.
“Kita tidak jadi menutup total karena akhir Juni dan awal Juli kan waktu liburan sekolah, ini jadi pertimbangan untuk menunda penutupan TSTJ. Ini sekaligus pemberitahuan pada masyarakat jika Solo Zoo besok Jumat tetap buka seperti biasanya. Sayang kalau rekreasi langsung ditutup, aktivitas rekreasi juga tidak mengganggu pekerjaan revitalisasi,” kata dia Kamis (30/6).
Terbagi menjadi dua fase, di fase pertama pengerjaan aktivitas kebun binatang tetap beroperasi sehingga pengunjung dapat tetap melihat-lihat koleksi hewan di TSTJ secara bebas. Menurut Gibran, aktivitas rekreasi tak mengganggu proses pekerjaan awal. Pihaknya menyebut revitalisasi fase satu tidak terlalu berantakan atau melakukan pembongkaran sekala besar.
“Pekerjaan awal revalisasi tidak ada pembongkaran sekala besar. Jadi pengunjung masih bebas melihat koleksi hewan,” katanya.
Gibran janjikan revitalisasi tetap on schedule (sesuai jadwal) dimulainya pada Juli dan akan selesai pada Desember 2022. Hal ini ia pastikan setelah kedatangannya ke kantor Taman Safari Indonesia Jakarta beberapa waktu yang lalu untuk koordinasi.
“Kan habis Rakornas Para games saya langsung ke kantornya Taman Safari, semua on time Desember tetap bisa buka,” katanya.
Hasil koordinasi dengan investor Solo Zoo itu pihaknya memastikan proses revitalisasi fase pertama tetap dimulai awal Juli ini. Penundaan itu tidak akan mengganggu persiapan revitalisasi ini
Untuk fase 1 pekerjaan awal revitalisasi akan mengerjakan tempat parkir, loket dan panggung pertunjukkan satwa. Saat ini air di danau di TSTJ sudah disedot untuk mengetahui volume lumpur yang harus dikeruk.
“Fase 1 garap parkiran tampak depan yang loket, kita bikin panggung untuk pertunjukkan hewan, ini dananunya wis sat sudah keringkan nanti dibersihkan airnya,” tambahnya.
Sementara, di fase 2 revitalisasi mulai mengerjakan restoran apung dan pating zoo. Meski penutupan TSTJ mundur, pihaknya memastikan tak akan mempengaruhi proses pengerjaan.
“Restoran apung pating zoo yang anak-anak bisa kasih makan nanti fase 2 ada tambahan-tambahan lagi. Penutupan 1 Agustus besok baru RUPS biar Pak Bimo saja yang mengumumkan tapi tetap on schedule,” katanya.
Selama kunjungannya ke Jakarta beberapa waktu lalu, Gibran juga menyempatkan diri melihat Jakarta Aquarium dan melihat satwa yang berasal dari Solo.
“Kemarin saya menyempatkan diri lihat Jakarta Aquarium punyanya Taman Safari banyak mengadopsi binatang-binatang yang dari Solo semua on time nggak masalah,” tutupnya.
Ditempat terpisah, Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu Widodo mengatakan libur sekolah tahun ini membuat taman wisata tersebut ramai lantaran pandemi sudah melandai.
“Jadi setelah 2 tahun tidak bisa kemana-mana ini menjadi momen yang bagus untuk berwisata, kami kan termasuk 3 in 1 ini, lembaga konservasi, edukasi dan rekreasi, pengunjung datang kesini memanfaatkan momen itu,” katanya saat di temui MettaNEWS, Kamis (30/6/22).
Bimo memprediksi keramaian ini akan bertahan hingga bulan Juli lantaran mengikuti jadwal masuk sekolah anak-anak.
“Prediksi kami sampai Juli nanti akan 2000 pengunjung rata-rata perhari. Kalau hari sabtu bisa 3000 pengunjung kalau hari minggu bisa lebih lagi sekitar 4500 pengunjung,” katanya.
Dari data yang diberikan komposisi pengunjung pada TSTJ ini 40% anak-anak, 40% orang tua yang bawa anak-anaknya dan 20% kelompok edukasi.
“Pasar kami memang berada pada anak-anak usia 4-5 tahun dan siswa SD kebawah, nah di sini mereka bisa pengenalan satwa, tumbuhan dan lingkungan yang di tanamkan sejak dini dan diharapkan mereka dapat mencinta flora dan fauna , nah itu core atau intinya di sana,” jelas Bimo.
Bimo menambahkan pada kesempatan itu anak-anak bisa diedukasi bagaimana menambah komunikasi antara anak-anak dan satwa.
“Dengan melihat, memberi makan, mengelus satwa yang diperbolehkan itu akan menjadi pengalaman tersendiri untuk anak-anak,” pungkasnya.








