SOLO, MettaNEWS – Diperlukan persiapan matang untuk mengikuti event olahraga lari dengan jarak hingga puluhan kilometer. Tak hanya butuh stamina yang kuat, berbagai hal penting patutnya harus diperhatikan sebelum mengikuti event olahraga yang satu ini.
Seperti halnya event Surakarta Half Marathon (SHM) yang akan digelar pada Agustus mendatang. Memiliki ketegori tertinggi yakni 21 kilometer, meski jarak ini cukup panjang bagi para pelari, namun bukan sebuah hal yang mustahil untuk ditaklukkan.
Sebelum memutuskan untuk mendaftar di SHM, Anda patut menyimak obrolan Live From Location (LFL) Radio Metta Solo FM bareng Kinanthi, KSL relawan PMI Solo yang telah MettaNEWS rangkum, di Solo Car Free Day (CFD), Minggu (26/6/2022).
Kinanthi yang kerap terlibat di event marathon membagikan tips sederhana yang bisa dilakukan untuk mengatasi kejadian tak menyenangkan, cedera. Seperti yang diketahui, cedera menjadi hal yang kerapkali terjadi di tengah-tengah aktivitas berlari, agar tak mengalami hal ini, berikut tips dari Kinanthi.
“Tips sebelum ikut marathon persiapan fisik ada training dulu kemudian dari persiapan endurance daya tahan persiapan kardio. Karena marathon jaraknya panjang banget jadi dilatihnya lebih banyak, dalam artian latihan kecil tapi dalam jangka waktu yang lama berkala,” terang Kinanthi.
Melakukan stretching sebelum lari juga sangat penting agar tak terjadi cedera.
“Sebelum marathon sudah pemanasan dulu, ada stretching di otot-otot kaki, badannya semua. Dan dipastikan sehat nggak ada keluhan misal flu atau yang lainnya yang bisa mempengaruhi performa si pelari,” jelasnya.
Nah khusus pelari yang mengalami cedera, berikut cara yang bisa dilakukan.
“Penanganan cedera akibat kaki kram atau hamstring paha belakang saat lari di half marathon ini bisa lewat berbagai cara. Salah satunya kalau belum di check point bisa stretching ototnya diulur biar rileks diulang beberapa kali repetisi. Sampai dia enak lagi segera ke check point biar dapat pertolongan bisa lanjut ke lari,” terang Kinanthi.
Agar cedera tak semakin parah, penanaganan mandiri ini dapat dilakukan sebelum sampai di check point.
“Adapun penanganan di check point tergantung dari cideranya, tim medis yang sudah siap segala persiapannya akan sigap memberikan pertolongan lanjutan atau bahkan pertolongan pertama bagi pelari yang mengalami cidera,” tambahnya.
Dibutuhkan penanganan tim medis yang sesuai, pelari yang mengalami cedera harus menyampaikan semua keluhan. Meskipun bukan cedera berat, ternyata iritasi kerap dialami para pelari marathon.
“Semua keluhan harus disampaikan ke tim medis biar penangannya bisa tepat, kebanyakan yang sering ditemui pas marathon gini iritasi karena sepatu. Langkah pertama tim media membersihkan lukanya disterilkan kalau misal kram penanganan seperti tadi, ada juga penanganan yang pakai es dikompres es dulu dirileks kan biar ada penurunan nyeri,” jelas Kinanthi.
Kinanthi menyebut terdapat berbagai macam cidera yang ditemui. Terlebih penanganan yang salah seringkali menambah masalah bagi pelari yang mengalami cidera, sehingga pihaknya berharap penjelasan teknis pertolongan pertama yang benar darinya dapat diperhatikan oleh para pelari.
“Terkadang karena belum sampai check point ditangani sendiri jadi ada penanganan yang salah terus ditambah dia udah ngerasa nggak enak tapi dipaksakan hal itu bisa jadi cidernya makin parah nambah masalah ke dia. Yang sebenarnya masalahnya cuma dikit jadi tambah berat lagi,” tutupnya.







