SISI selatan Pasar Legi, Jalan Halmahera, Stabelan, Kota Solo nampak sunyi sepi. Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari. Tak banyak aktivitas di sana selain segelintir pedagang oprokan yang mulai menata dagangan. Selepas hujan mengguyur sejak sore, dinginnya malam kala itu terasa menusuk tulang.
Namun hal ini tak dihiraukan Sri Sunani (52), pedagang oprokan sayuran yang sibuk memotong kubis untuk ia bungkus. Hanya mengenakan baju biasa tanpa jaket, Sri sapaan akrabnya sudah terbiasa bergelut dengan kondisi seperti ini.
Di jalan selebar 3 meter, Sri menaruh meja beralaskan karung putih untuk menjajakan sayuran segarnya. Tak banyak jenis sayuran yang ia jual, nampak di atas tampah berwarna coklat tua, wortel, kubis, timun dan labu siam tertata rapi.
Tak jauh dari lokasi jualannya, spanduk merah bertuliskan “PEMBERITAHUAN, mulai 18 Juni 2022 pedagang pelataran dini hari pindah ke Pasar Legi dan dilarang berjualan di kawasan ini” milik Dinas Perdagangan Pemerintah Kota Solo.
Sudah mendengar kabar relokasi, Sri sebagai orang kecil mengaku mau tak mau harus ikuti aturan. Bagi Sri, berat rasanya untuk pindah dari lokasi berjualan yang sudah ia tempati selama 35 tahun.
Menurutnya, menempati area luar pasar sebagai lokasi jualan merupakan hal yang lumrah sebagai ciri sebuah pasar. Dikatakan Sri, penataan semacam itu sudah ada sejak awal ia datang ke Pasar Legi untuk berdagang.
“Saya jual malam nanti sore pindah situ. Nggih (ya-red) di luar, tapi di situ di area pasar. Kalau malam enakan di luar, ya bakule (pedagangnya-red) ada siang dan malam, kalau siang di dalam kalau malam di luar,” ucap Sri saat ditemui MettaNEWS, Sabtu (18/6/2022) pukul 01.06 WIB.
Sri menjadi salah satu dari 527 pedagang oprokan shift tiga atau pedagang dini hari yang menempati area dalam Pasar Legi. Penjualan dini hari ini dimulai sejak 00.00 hingga 07.00 WIB pagi hari.
Berdasarkan pantauan MetttaNEWS, hiruk pikuk aktivitas pedagang dan pembeli memadati area luar Pasar Legi di hari-hari biasa. Namun lantaran dipindah, pemandangan ini tak lagi dapat ditemukan.
Sri menyebut perpindahan lokasi pedagang oprokan membuat pasaran para pedagang rusak. Terlebih lokasi Pasar Legi yang baru ini lebih tinggi dan tak memiliki akses masuk yang mudah.
“Tiap pindah gini bakulane bubrah, pembelinya bingung nyariin. Apa-apa disuruh pindah kasian wong radue (orang tidak punya-red),” terangnya.
Menjadi hari terakhir ia berjualan di lapak Jalan Halmahera, Sri akan mengemasi barang-barangnya di sore hari.
Pihaknya menyebut sejak pembangunan kembali Pasar Legi usai kebakaran di 2018 silam, tatanan pedagang mulai berubah.
“Lha kok pasar habis kebakaran dibangun malah berubah, terus jalannya ini nggak dikasih jalan, hanya sana (area dalam),” terangnya.
Selepas kebakaran, Sri yang tak berjualan di pasar darurat memilih tidak berjualan. Baru setelah pembangunan selesai, ia pindah kembali ke tempat semula, sisi selatan Pasar Legi area luar.
“Pas kebakaran pulang, nggak jualan dulu, terus pindahnya ya ke sini lagi nggak berubah,” ungkapnya.
Di hari-hari biasanya, Sri kerap tidur di pelataran toko untuk menunggu pengiriman sayur untuk ia tata. Di jam 01.00 WIB dirinya mulai meracik bahan sop-sopan untuk ia kemas menjadi beberapa plastik. Semua dagangan siap ia jual di pukul 02.00 WIB hingga pagi datang.
Pendapatan tak tentu, melalui jualan sayuran ia dapat menghidupi empat anak seorang diri lantaran sang suami telah meninggal dunia.
“Tidurnya hanya di ngemper-ngemper toko biasanya. Kalau dibanding dulu bedanya ya banyak, laris yang dulu, ini pasarnya sudah bagus malah dipindah, hess neka-neka (aneh-aneh-red) itu,” tutur Sri sembari menggerutu.
“Padahal saya kecil pasar sudah di sini malam di sini nggak berubah, kok pasarnya jadi malah berubah apa-apa kon (suruh-red) pindah,” ucapnya.
Mendengar kabar lokasi lapaknya akan dijadikan lahan parkir, ia semestinya dapat berjualan dengan aman meski di area jalan. Sri mengaku tak terganggu dengan kendaraan yang lewat.
“Ini katanya buat parkir. Mobil juga bisa, masih aman, ini malah warung-warung sudah lama di situ 40 tahun lebih dulu dari saya malah dibongkar Satpol PP,” tutupnya.
Tak menunggu dipindah Satpol PP, Sri akan mengangkut peralatan dagangnya sendiri. Dirinya pun juga menyayangkan pembongkaran warung-warung di area yang sama dengannya lantaran sudah puluhan tahun bahkan lebih awal keberadaannya ketimbang dirinya.








