Tak Melulu Merepotkan, Bagi Kolektor, Vespa Klasik Adalah Bentuk Mencintai Apa Adanya

oleh
Vespa
Topa Sudiro salah satu kolektor vespa tampil necis di acara Surakarta Mods Squad dengan vespa PX 150 sport-nya, Sabtu (28/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Sejak tahun 1950-an kehadiran Vespa menjadi primadona bagi para pecinta skuter, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Hingga kini pesona skuter asal Italia ini masih memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya generasi tua, pecinta vespa saat ini lebih didominasi oleh kaum muda. Perkembangan zaman dan teknologi pun telah melahirkan inovasi produk secara berkala.

Banyak perusahaan yang merancang skuter keluarannya dengan mesin yang lebih bertenaga. Sehingga jika dibandingkan dengan Vespa klasik pasti jauh berbeda. Anggapan tentang Vespa identik dengan skuter klasik yang merepotkan mungkin sudah tak asing lagi. Tapi jangan salah, bagi para pecintanya, Vespa klasik merupakan representasi dari mencintai apa adanya.

Seolah-olah lahirnya skuter modern dengan kecanggihannya itu dirasa belum mampu menggeser popularitas Vespa di hati para pecinta. Dari tahun ke tahun keberadaan Vespa klasik malah semakin banyak yang melirik. Seperti salah satunya Topa Sudiro. Pria asal Colomadu Karanganyar telah jatuh hati pada skuter yang satu ini sejak 2010 silam.

Menanggapi santai soal skuter Vespa klasik yang identik dengan mogok. Baginya semua kendaraan bergantung pada perawatan dan cara pemakaian.

“Mogok itu kalau di Vespa udah nama tengahnya. Tapi kalau merawatnya bagus makainya juga santai,  insyaAllah aman. Ini dari 2017 baru ganti busi sekali saja. Sudah nggak ada trouble lain-lainnya. Padahal sering buat touring main ke mana saja normal,” ucap Topa Sudiro saat ditemui MettaNEWS, beberapa waktu lalu.

Topa menyebut cara perawatan Vespa klasik berpengaruh terhadap kondisi mesin. Sama dengan motor baru, dengan rutin mengganti oli dengan cara pemakaian yang standar membuat Vespa klasik akan menjadi kendaraan nyaman untuk digunakan.

“Perawatannya sama saja dengan motor baru rutin ganti oli sama pemakaiannya yang standar nggak usah digalak-galakin. Cara merawat dan mengendarai memang harus pakai hati,” bebernya.

Tingginya minat orang terhadap Vespa, membuat harganya membumbung tinggi. Topa mengisahkan, salah satu koleksinya Vespa PX 150 sport keluaran 1983, dulu ia beli Rp 1 juta. Saat ini, harga pasarannya telah melonjak menjadi Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.

Permasalahan yang kerap ditemui para pengguna vespa ialah di bagian busi.

“Trouble vespa itu di busi klomoh (basah) dibersihin dilepas nyala lagi. Nggak usah takut pakai Vespa, mogok tetep disamperin, solidaritas,” tambahnya.

Memiliki 7 vespa, Tora mengaku tak banyak merombak gaya skuter miliknya. Senada dengan komunitas yang ia ikuti, Surakarta Mods Squad ia memilih vespa PD 150 sport miliknya menggunakan gaya ektis agar sesuai dengan tema mods.

“Ini memakai gaya ektis kalau di Vespa mods modern itu namanya ektis dari standaran dipakaikan aksesoris. Di depan itu ada gordon belakang pakai back rack (diikat di belakang) dan spoiler pakai cuma ditambahin aksesoris. Nggak ada yang diubah tapi ditambahin aksesoris dengan gaya ektis,” jelas Topa.

Memasuki era serba matic tahun 2000-an, kini Vespa banyak dijumpai di Indonesia. Namun bagi Topa, Vespa klasik memiliki seni dalam mengoperasikan kendaraan yang satu ini.

“Sebenarnya Vespa modern atau klasik sama saja. Sama-sama kalau dipakai itu tetep kelihatan klasik. Tapi kalau dari kesenangan udah seneng yang tua pakai matic kan enak tu tinggal gas kalau ini ada seninya. Gigi pakai tangan kiri oper pakai tangan kiri kopling pakai tangan kiri, rem di kaki,” terangnya.

Topa yang sudah bergabung dengan komunitas Surakarta Mods Squad sekitar tahun 2016 hingga 2017 mengaku telah menggunakan skuter miliknya untuk touring ke berbagai wilayah seperti Jawa Sumatera hingga Bali, Tora berkeinginan untuk kembali touring ke Kalimantan dan juga Papua.

Pada awal memiliki vespa, dia kerap menjual koleksi miliknya. Namun sejak tahun 2014 ia mengaku kapok dan sudah tak lagi menjual vespa-vespa miliknya untuk kemudian dijadikan kendaraan pribadi yang ia gunakan secara bergantian.

“Di rumah Alhamdulillah ada beberapa unit. Dulu belinya murah bisa seleksi. Kalau mahal dijual lihat-lihat pasarnya. 2014 atau 2015 dulu malah lebih murah. PTS yang kecil harganya Rp 500 ribu sekarang lakunya Rp 50 juta. Udah kapok jual vespa. Sekarang tinggal 7, yang lainnya sudah laku. Semua buat harian. Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu ganti vespa,” tutupnya.

Hal yang sama juga diungkapkan salah satu kolektor vespa klasik, Krisna Bon. Krisna sapaan akrabnya merasa tak kerepotan dengan kebiasaan mesin vespa yang acapkali mogok. Baginya mogok merupakan masalah yang bisa ia perbaiki dengan mudah karena sudah terbiasa.

“Nggak (kerepotan) awalnya saya sempet mikir motor kok mogak mogok sih. Akhirnya karena saya pakai terus kan tahu ini troublenya apa. Paling sering di busi tergantung juga kalau vespanya dirawat kaya pacar. Akhirnya vespa juga nggak pernah mogok sebenarnya. Maklum kalau vespa mogok entah itu trouble apa pasti bisa benerin,” ucap Krisna.

Memiliki arti khusus, baginya vespa adalah sebuah nyawa. Tak hanya sebagai transportasi, tak jarang ia juga menggunakan vespanya sebagai media bercerita keluh kesah perihal hati.

“Akhirnya saya buat curhat. Curhat dalam arti aku booring (jenuh) pengin motoran lah akhirnya sama vespa. Banyak temen karena vespa akhirnya punya event juga karena vespa. Jadi menurut ku vespa itu segalanya,” pungkas Krisna.