Wali Kota Respati di Forum Sister City Xi’an, Paparkan Strategi Solo Lestarikan Budaya dan Kembangkan Kota Cerdas

oleh
oleh

CHINA, MettaNEWS – Wali Kota Surakarta Respati Ardi tampil sebagai pembicara dalam forum Sister City Dialogue di Xingqing Park, Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, China, Kamis (22/10/2026). Dalam forum internasional tersebut, Respati memaparkan strategi Kota Solo dalam melestarikan warisan budaya sekaligus mengembangkan tata kelola kota cerdas (smart governance).

Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman dan gagasan pembangunan berkelanjutan yang diikuti berbagai pihak dari sejumlah negara yang menjalin hubungan kerja sama kota kembar atau sister city dengan Xi’an.

Dalam kesempatan itu, Respati menjelaskan bahwa Solo memiliki kesamaan dengan Xi’an sebagai kota bersejarah yang berupaya mempertahankan identitas budaya di tengah perkembangan modernisasi.

Menurutnya, pembangunan perkotaan perlu dilakukan dengan tetap menjaga warisan sejarah dan karakter budaya yang menjadi ciri khas suatu daerah.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menerapkan pendekatan cultural-led urban development atau pembangunan perkotaan berbasis budaya. Pendekatan ini menempatkan warisan budaya sebagai bagian penting dari perencanaan dan pengembangan kota.

“Di Surakarta, warisan budaya seperti keraton, pasar-pasar tradisional, dan kampung-kampung bersejarah merupakan jiwa dari identitas kami. Untuk mendorong pembangunan kota sekaligus melindungi budaya tradisional secara kuat, kami berpegang pada filosofi Pembangunan Perkotaan Berbasis Budaya,” ujarnya.

Pelestarian Budaya Jadi Penggerak Ekonomi

Respati menjelaskan, pelestarian budaya tidak berarti menghentikan pembangunan. Sebaliknya, pengembangan kota harus mampu mengintegrasikan warisan sejarah dengan kebutuhan masyarakat modern tanpa menghilangkan identitas dan karakter lokal.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah merevitalisasi kawasan bersejarah dengan mempertahankan bangunan lama, kemudian mengintegrasikannya dengan ruang publik modern. Penataan kawasan cagar budaya juga perlu memperhatikan kesesuaian arsitektur dan lanskap budaya.

Menurut Respati, warisan budaya bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama melalui pengembangan pariwisata sejarah dan budaya.

Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan bersejarah dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Pasar tradisional, kampung bersejarah, dan kawasan budaya dapat berkembang sebagai ruang aktivitas ekonomi tanpa kehilangan karakter aslinya.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian identitas kota, peningkatan kualitas ruang publik, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dorong Kerja Sama Konkret Solo-Xi’an

Dalam forum tersebut, Respati juga mendorong agar hubungan sister city antara Solo dan Xi’an dikembangkan melalui program kerja sama yang lebih konkret dan berorientasi pada hasil.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah pembentukan kelompok kerja sektoral yang berfokus pada teknologi konservasi cagar budaya, pengelolaan kota digital, serta pengembangan solusi energi hijau.

Kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi tantangan pembangunan perkotaan, mulai dari perlindungan bangunan bersejarah hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Selain bidang teknologi dan tata kelola kota, Respati mendorong penguatan hubungan ekonomi dan antarmasyarakat melalui pengembangan pariwisata, pertukaran pelajar, serta kolaborasi perdagangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurutnya, keterlibatan pelaku usaha dan masyarakat penting agar hubungan antarkota tidak hanya berlangsung pada tingkat pemerintahan, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial secara lebih luas.

Respati turut mengusulkan penyelenggaraan forum berbagi pengetahuan secara berkala yang melibatkan perencana kota, pakar teknologi, dan pelestari budaya dari kedua kota.

Forum tersebut dapat menjadi wadah untuk bertukar pengalaman, membahas persoalan bersama, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing kota.

“Melangkah ke depan, sebagai sister city, kerja sama ini harus berkembang melampaui hubungan seremonial menuju kemitraan yang berorientasi pada aksi nyata dan pragmatis,” imbuhnya.

Melalui partisipasi dalam forum di Xi’an, Pemkot Solo berharap hubungan kerja sama internasional dapat membuka peluang pengembangan kota yang lebih inovatif, berkelanjutan, dan tetap berakar pada identitas budaya.

Kolaborasi di bidang pelestarian warisan sejarah, tata kelola digital, energi hijau, pendidikan, dan UMKM diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat hubungan Solo-Xi’an sekaligus mendukung pembangunan perkotaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.