SOLO, MetaNEWS – Stadion Sriwedari Solo terpilih sebagai venue latihan Piala Dunia U-20 Mei mendatang. Sebagai salah satu dari 4 venue ajang sepakbola bergengsi dunia di Solo. Stadion Sriwedari miliki keunikan tersendiri.
Selain menjadi stadion pertama Indonesia yang pembangunannya berlangsung pada era Paku Buwana X pada 1932. Stadion Sriwedari rupanya memiliki keunikan berupa tribune yang terbuat dari batu.
Berbeda dengan stadion-stadion lain yang telah berubah dan menyesuaikan perkembangan zaman. Baik dari segi bangunan hingga material. Stadion ini tetap mempertahankan konsep bangunan yang sama dengan awal pembangunan.
Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir pun sempat terkagum-kagum dengan tribune batu ini. Ia bahkan mengklaim tribune batu Stadion Sriwedari merupakan satu-satunya yang ada di dunia.
“Ini salah satu tempat bersejarah untuk sepakbola Indonesia. Yang mana ini sudah menjadi cagar budaya tempat duduknya saja masih batu. Saya rasa tempat lain nggak ada, cuma ada di Indonesia,” ujar Erick saat meninjau venue Piala Dunia U-20 Stadion Sriwedari, Minggu (12/3/2023).
Stadion Sriwedari merupakan situs Cagar Budaya Nasional Jawa Tengah. Stadion ini juga merupakan tempat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama. Itulah sebabnya stadion ini miliki sejarah penting bagi dunia persepakbolaan Tanah Air.
“Karena itu kita punya sejarah panjang untuk sepakbola. Ayo kita bangun sepakbola yang bersih berprestasi,” ujar Erick.
Sejarah Stadion Sriwedari
Mengutip dari laman cagarbudaya.kemdikbud.go.id, tahun 1932, Sri Susuhunan Pakubuwana X dari Keraton Surakarta berinisiatif untuk membangun sebuah stadion untuk kegiatan olahraga kerabat Karaton dan kalangan pribumi. Stadion ini merupakan stadion pertama yang pembangunanya oleh bangsa Indonesia. Sedangkan stadion-stadion lain saat itu dibangun oleh orang Belanda.
Sedangkan khusus di Surakarta saat itu, atlet sepak bola bumiputra hanya boleh bermain di lapangan alun-alun kidul, tanpa alas kaki. Melihat perlakuan yang tidak adil tersebut membuat R.M.T Wongsanegoro mengusulkan kepada Raja Surakarta untuk membangun Stadion khusus menampung atlet bumiputra.
Kemudian raja yang berkuasa sejak tahun bedirinya klub Rood-Wit itu langsung setuju, orang nomor satu yang terkenal sangat menaruh perhatian terhadap sepak bola ini memberikan lokasi di Kebun Suwung (Kelurahan Sriwedari).
Perencana stadion menghabiskan biaya sebesar 30000 gulden. R. Ng. Tjondrodiprojo beserta 100 pekerjanya selama 8 bulan melakukan pembangunan stadion ini. Stadion yang berbentuk oval dan dengan trek untuk bermain atletik dan lampu sorot setiap sudut ini selesai pada tahun 1933.
Peresmian Stadion Sriwedari dilakukan oleh G.P.H Hargopalar atas nama Sri Susuhunan. Bangsa Belanda meminta agar bisa menggunakan stadion megah tersebut. Akhirnya terpaksa Persis Solo dan anggotanya hanya bisa menggunakan stadion tersebut pagi dan sore dan malam menjadi hak Voetbal Bond Soerakarta (Klub Sepak bola Belanda).
Untuk selanjutnya, stadion tersebut pada tanggal 9-12 September 1948 juga dijadikan sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama. Dan sampai sekarang setiap tanggal 9 September juga dijadikan sebagai hari olahraga Indonesia. Pada masa pemerintahan Orde Baru, stadion ini juga dijadikan sebagai monumen PON Pertama.








