SOLO, MettaNEWS – Branding tidak lagi sekadar membangun citra, tetapi harus mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut menjadi benang merah dalam talkshow SMG Economic Insight 2026 bertajuk “Branding Bukan Sekadar Citra: Membaca Konteks 2026 dari Persepsi ke Dampak Nyata”, yang dirangkai dengan launching Literaworks, Jumat (30/1/2026).
Talkshow yang berlangsung di Multifuction Hall Radya Litera Griya Solopos ini menghadirkan narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri yang mengulas strategi branding di tengah perubahan perilaku publik, dinamika politik, serta tantangan ekonomi digital.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menegaskan bahwa perubahan zaman membuat pemerintah harus semakin adaptif dan membaur dengan masyarakat. Menurutnya, paradigma pembangunan juga telah bergeser. Jika sebelumnya infrastruktur menjadi tolok ukur utama kepuasan publik, kini pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan pelaku usaha menjadi kunci.
“Game-nya sudah berubah. Politik berubah, ekonomi berubah, semuanya berubah. Pemerintah harus lebih adaptif dan dekat dengan masyarakat sesuai segmen yang ada sekarang,” kata Respati.
Ia mencontohkan pengembangan konsep ekonomi kreatif di Kota Surakarta, salah satunya melalui rencana penataan kawasan Jalan Yos Sudarso. Konsep tersebut sempat diuji coba dengan melempar wacana ke media sosial, yang ternyata mendapat respons cukup besar, meski didominasi tanggapan negatif.
“Sekitar 65 persen responnya negatif. Tapi setelah turun langsung, bertemu dan ngobrol dengan warga serta pelaku usaha, ternyata ada potensi ekonomi yang luar biasa,” tuturnya.
Respati menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menghilangkan fungsi kawasan grosir yang sudah ada. Namun, ia ingin menghidupkan ekonomi kreatif pada malam hari tanpa mengganggu aktivitas perdagangan di siang hari. Respati mengungkapkan Solo sebagai kota perdagangan dan jasa perlu membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru.
Ia juga memaparkan rencana integrasi kawasan-kawasan strategis di Solo, mulai dari Kauman hingga Paragon dan Manahan, yang nantinya akan dikembangkan sebagai kawasan ramah pejalan kaki dan terklaster. Konsep tersebut, kata Respati, dipelajari dari praktik kota-kota dunia seperti Jakarta dan Tailan.
Respati menyoroti demografi Kota Surakarta, di mana kelompok usia 18–35 tahun, khususnya perempuan, menjadi tulang punggung konsumen.
Hal ini membuka peluang besar di sektor ekonomi kreatif, termasuk bisnis ritel dan kosmetik. Reapati menyebut, masyarakat kini semakin cerdas dan memahami bahwa branding bukan lagi soal pencitraan semata.
“Orang sekarang lebih percaya pada kejujuran dan keaslian. Branding yang dibutuhkan hari ini adalah apa adanya, bukan yang dibuat-buat,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pakar Branding Universitas Prasetiya Mulya, Prof. Agus W. Soehadi, Ph.D., memaparkan materi bertajuk Political Cinematic Brand Aura. Ia menjelaskan bahwa karakter Gen Z sebagai digital natives dengan tingkat kepercayaan rendah terhadap institusi namun sensitivitas emosional tinggi, telah mengubah lanskap komunikasi politik dan branding.
“Politik hari ini tidak lagi dijelaskan, tapi dirasakan. Ia menjadi semacam micro-cinema, di mana video pendek mendominasi perhatian publik,” jelas Prof. Agus.
Prof Agus menyampaikan, meski Gen Z menyukai konten singkat, benang merah dari pesan branding tetap harus dirancang dengan kuat agar makna yang ingin disampaikan dapat diterima secara utuh.
Sementara itu, Direktur PT Asia Pacific Fibers, Dr. Antonius W. Sumarlin, menekankan bahwa kepercayaan atau trust kini telah menjadi modal strategis bagi industri. Kegagalan membangun kepercayaan di era digital, menurutnya, merupakan risiko terbesar bagi reputasi perusahaan.
“Komunikasi bukan hanya internal, tetapi juga eksternal. Dibutuhkan strategi komunikasi yang relevan, dapat dipercaya, dan kompetitif,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola komunikasi satu arah sudah tidak relevan, terutama di era Gen Z. Kebijakan dan keputusan perusahaan maupun organisasi harus dibangun melalui komunikasi dua arah agar dapat diterima dan dijalankan dengan baik.
Melalui SMG Economic Insight 2026, juga dilaunching Literaworks sebagai mitra komunikasi strategis yang mengedepankan pendekatan narasi berbasis konteks dan dampak nyata.
Ke depan, Literaworks siap menjalin kemitraan dengan berbagai kalangan untuk membangun pemahaman publik yang lebih komprehensif.
Mengusung filosofi Context First, Impact Follows, Literaworks memosisikan diri bukan sekadar sebagai agensi produksi konten, melainkan sebagai mitra strategis yang membangun pemahaman publik sekaligus memengaruhi proses pengambilan keputusan.








