Sedulur.id Pasar Online UMKM Kevikepan Surakarta, Solusi Jangkau Pasar Global

oleh
pameran UMKM
Pameran produk UMKM di Hartono Trade Center yang ada di sedulur.id, aplikasi market place UMKM Kevikepan Surakarta, Sabtu (14/5/2022) | Metta News / Dinda Wardani

SOLO, Metta NEWS – Roda tuntutan zaman yang sangat cepat, terus berubah dan persaingan pasar yang semakin besar membuat kita mesti mengikuti perkembangan dan perubahan tersebut bila tidak ingin tergilas dan mati. 

Melihat pengalaman selama pandemi pemasaran online menjadi salah satu jalan keluar yang cukup mumpuni. Melihat latar belakang tersebut, Kevikepan Surakarta melaunching market place  sedulur.id yang berlangsung di Hartono Trade Center (HTC), selama 3 hari dari Sabtu hingga Senin (14/5/2022).

Ditemui pada Gala Dinner Launching aplikasi pasar online Kevikepan Surakarta, Sedulur.id di Hartono Trade Center, Sabtu (14/5/2022) Ketua Komisi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PSE) Kevikepan Solo Romo Ag. Nunung Wuryantoko, Pr. menjelaskan aplikasi sedulur.id merupakan pasar atau toko online bagi pelaku UMKM di Kevikepan Surakarta. 

“Latar belakang sedulur.id adalah kami itu di kevikepan surakarta ada sekira 572 UMKM dan mereka adalah UMKM offline yang selama ini belum menggunakan aplikasi online. Sedangkan tuntutan zaman kita sudah menuntut adanya aplikasi online. Maka kita buatkan marketplace atau toko online dan kita buatkan pasar online,” ungkap Romo Nunung. 

Romo Nunung mengatakan, sedulur.id adalah aplikasi market place yang di create khusus untuk mewadahi pelaku UMKM para umat Katolik. 

“Sebenarnya kita mau memindah pasar tradisional itu ke online. Karena latar belakangnya sudah ada jejaring, penjualan secara offline,” tutur Romo Nunung. 

Sebelum ada aplikasi market place sedulur.id, Romo Nunung mengungkapkan sebanyak 570 an UMKM ini berjalan sendiri, tanpa ada jejaring, tanpa koordinasi sehingga berkesan hidup segan mati tak mau.

“Kami memulai dengan data, sebanyak 570 an UMKM ini berjalan sendiri. Mereka mengelola UMKM dengan konsep tradisional. Kemudian kami mengadakan analisa, penelitian dan pendataan masalah apa yang menjadi keprihatinan para UMKM ini,” tandas Romo Nunung. 

Dari pendataan tersebut, lanjut Romo Nunung, kendala terbanyak berkaitan dengan jaringan untuk jualan, persoalan modal, juga masalah pemasaran. 

“Dari kendala tersebut akhirnya kami membuat ini menjadi asosiasi agar mereka dijembatani untuk pemasaran, permodalan dan kita bangun bersama,” terang Romo Nunung. 

Market place sedulur.id diperuntukkan khusus bagi warga pelaku UMKM yang beragama Katolik. 

“Bagi yang ingin gabung di sedulur.id salah satu verifikasinya adalah usaha tersebut harus dikelola oleh orang Katolik karena konsep dasar kita adalah membangun ekonomi berbasis komunitas. 

Sebelum launching sedulur.id, sudah diadakan pelatihan berkaitan dengan beberapa hal meningkatkan produk dan kualitas UMKM. Pelatihan seperti packaging hasil produk agar lebih menarik, pelatihan mengelola literasi keuangan dan pelatihan bagaimana mengelola keuangan serta pelatihan bagaimana memposting produk supaya menjadi postingan yang menarik. 

“Setiap paroki mempunyai dua amin yang selalu mendampingi pelaku UMKM tersebut. Kalau yang sudah tergabung di sedulur.id paling banyak adalah makanan, kerajinan dan jasa,” ujarnya. 

Vikjen Keuskupan Agung Semarang (KAS) Romo YR Edy Purwanto Pr. menambahkan, aplikasi sedulur.id ini sudah siap. 

“Dan saya pribadi sangat mendukung kegiatan ini. Karena membangun UMKM sama dengan membangun kemandirian dan kedaulatan ekonomi pada mereka yang kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan,

Romo Edy menyebut, pemerintah juga mempunyai niatan baik dengan hal sama. Ketika ini berpadu antara gereja, pemerintah dan stakeholder Romo Edy berharap pelaku usaha UMKM ini bisa memanfaatkan sedulur.id dengan maksimal. 

“Ini wadah bagi para UMKM dan ini sangat bagus. Kedepan ini harus terus berlanjut. Memang mendampingi usaha-usaha kecil seperti ini butuh kesetiaan, ketekunan dan butuh kesabaran. Yang namanya pemberdayaan itu banyak tantangannya, tidak bisa instan,” tegas Romo Edy. 

Menurut Romo Edy, dunia digital masih belum menjadi budaya di masyarakat bagi beberapa kalangan. 

“Mungkin kalangan milenial okelah, tapi untuk kalangan pelaku UMKM yang berjualan secara tradisional itu sangat tidak gampang, tapi kita harus terus mendorong langkah ini. Selama ditekuni, saya rasa ini akan berdampak positif. Tetapi kalau sekali lagi kita hanya gebyar sesaat saya rasa tidak banyak dampaknya. Yang tidak mudah itu setia, tekun dan sabar,” pungkas Romo Edy.