Penetrasi Jamu Sasar Milenial Lewat Nona Kalani Tembus 70%

oleh
oleh
Jamu
Seorang pengunjung mencoba racikan kunyit asam di stand pameran jamu, Kamis (9/6/2022) | Metta News / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Masyarakat Indonesia sangat dekat dengan obat-obatan tradisional yang biasanya kita sebut jamu. Pemakaian herbal sebagai obat-obatan tradisional telah diterima luas di negara-negara maju maupun berkembang sejak dahulu kala, bahkan dalam 20 tahun terakhir perhatian dunia terhadap obat-obatan tradisional meningkat, baik di negara yang sedang berkembang maupun negara-negara maju. 

World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa hingga 65% dari penduduk negara maju menggunakan pengobatan tradisional dan obat-obat dari bahan alami.

Terlebih saat pandemi, hampir semua masyarakat kembali memilih produk herbal untuk menjaga kondisi tubuhnya. Tidak hanya kalangan tua, bahkan generasi milenial semakin mengenal peranan obat herbal alami dari jamu. 

Saat pandemi peningkatan penjualan jamu di kalangan anak muda tembus 70%. Hal tersebut disampaikan Representatif The Jamu Bar dan Jaya Mitra Kemilau Vanessa Kalani Ong, pada kegiatan Pencanangan Jamu, OHT (obat herbal terstandar), Fitofarmaka dan Sumber Pangan Lokal, bertempat di RS. Bung Karno, Kamis (9/6/2022). 

Di bawah bendera PT Jaya Mitra Kemilau (JMK), generasi keempat Nyonya Meneer ini berusaha melestarikan dan menjaga ramuan leluhur lewat produk herbal alaminya. 

“Sebagai generasi ke 4 Nyonya Meneer meskipun di bawah bendera Jaya Mitra Kemilau, pelestarian jamu-jamu seperti kunyit asam, jahe, temulawak, dengan resep nenek moyang saya yang dari 100 tahun yang lalu tetap kami formulasikan,” tutur Vanesa si sela-sela pameran produk jamu. 

Cicit Lauw Ping Nio pendiri perusahaan jamu legendaris Nyonya Meneer ini menyebut terjadi peningkatan pengenalan jamu pada anak muda yang tercatat sejak pandemi. 

“Sebelum pandemi kami ada cafe jamu bar di Jakarta namun pas pandemi hingga sekarang kami belum berani aktif lagi. Meskipun vakum peningkatan permintaan terlihat dari online. Dari tiga tahun yang lalu anak muda yang kenal jamu paling hanya 30% saja sekarang atau paska pandemi ini semakin banyak jadi 70%,” terang Vanesa. 

Untuk masuk ke pasar anak muda hingga menembus ekspor, Vanesa dan adiknya meramu jamu dengan citarasa sesuai lidah anak muda dan pasar internasional. 

“Saya dan adik menciptakan minuman serbuk, jamu instan, packagingnya kita ganti. Lewat produk Nona Kalani ini jamu yang mungkin terasa aneh di lidah anak muda kita buat lebih bisa diterima sama generasi milenial. Tapi resep dan manfaat jamunya tetap sama dari resep nenek moyang kita dulu,” ujar Vanesa. 

Vanesa mengatakan saat ini anak-anak muda kisaran 20 hingga 40 tahun sudah mengenal dan mengerti sejarah, manfaat jamu. Menurut Vanesa anak milenial sekarang lebih memilih herbal daripada obat-obat di counter farmasi,” tuturnya. 

“Pasar anak muda ini mempunyai produk andalan sendiri. Kalau untuk cowok rata-rata suka STMJ atau yang ada rasa coklat dan kopi, kan kita ada kopi jamu juga. Tapi kalau untuk wanita produk jamu perawatan dan kecantikan seperti kunyit asam, jahe wangi itu yang paling disukai”, ungkapnya.

Vanesa mengungkapkan pasar jamu tradisional juga perlu untuk mengikuti perkembangan zaman. 

“Saat ini kita lebih main ke ekspor. Dengan tujuan diantaranya Jepang, Amerika, Malaysia itu lumayan pasarnya sangat menarik. Luar negeri itu kebanyakan sari asam atau tamarin juga kunyit asam. Tapi bukan herbal yang basah tapi serbuk karena mereka maunya instan, cepat dibikinnya dan bisa langsung diminum,” jelas Vanesa. 

Peningkatan penjualan jamu juga terlihat selama pandemi. Menurut Vanesa sejak ada sosialisasi yang dilakukan pemerintah untuk mencoba kembali ke produk herbal atau minum jamu penjualan naik drastis. 

“Saat pandemi penjualan kita meningkat 120%. Terutama lewat online. Kami sampai kewalahan untuk suplai produk. Terutama jamu sehat paru dan sakit lambung,” kata Vanesa.

Berbicara soal bahan baku, Vanesa mengatakan Jawa Tengah banyak menghasilkan bahan alami untuk jamu. 

“Kalau market kita tersebar di seluruh Indonesia dari Jateng, Jakarta, Medan hingga Bali. Bali banyak menyerap produk perawatan alami seperti lulur dan mangir,” pungkasnya ramah.