Nasib Pengecer BBM di Solo, Dilema Harga hingga Pilih Libur Jualan

oleh

SOLO, MettaNEWS – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat pengecer Pertalite di Kota Solo dilema. Terhitung sejak Sabtu (3/9) harga per liternya tembus Rp 10.000 dari semula Rp 7.650 naik hingga Rp 2.350.

Berdasarkan pantauan MettaNEWS, kenaikan harga di sejumlah lokasi tak merata. Harga Pertalite di Pertamini dijual seharga Rp 11.000/liter, sedangkan di bengkel atau warung Rp 12.000/botol ukuran 900 mililiter.

Perbedaan harga ini yang membuat Mujiono (35) pedagang Pertalite eceran di Nayu, Nusukan bingung untuk mematok harga.

“Nggak jualan gara-gara naik, Pertamini jual Rp 11.000, kalau eceran kaya warung ada yang Rp 12.000, tapi kalau saya ikut jual segitu nanti larinya pembeli ke Pertamini yang lebih murah, tapi kalau kita jual Rp 11.000 rugi,” terang Mujiono saat ditemui MettaNEWS di bengkelnya, Rabu (7/9/2022).

Jika mematok harga Rp 11.000, ia hanya dapat keuntungan Rp 1000. Sedang ia juga mempertimbangkan transport dan waktu yang ia luangkan. Sementara saat kulakan bengkel harus tutup.

“Kita hitung transportnya juga antre, panas menunggu kan nggak boleh pakai jeriken repotnya di situ, kalau boleh nggak masalah untung Rp 500,00 sampai Rp 1.000 dikalikan berapa botol, tapi ini sudah antre lama pekerjaannya ditinggal,” katanya.

Mayoritas SPBU di Kota Solo telah melarang masyarakat membeli Pertalite dengan jeriken. Namun Mujiono tak kehabisan akal, ia menggunakan motornya untuk mengisi Pertalite full kemudian disedot dan diisi ke botol.

“Nggak boleh pakai jeriken cuma pakai motor ngangsu diisi full tangki nanti disedot paling laku 1-3 hari nanti isi lagi, terakhir jualan pas Sabtu, dengar harga naik jam 3  lalu nggak saya jual buat stok sendiri tak simpen,” bebernya.

Sebelum naik ia menjual Pertalite seharga Rp 10.000/botol, dengan ngfull tangki motornya Rp 25.000 dalam sehari ia dapat menjual 15-16 botol. Kini untuk tangki full ia harus merogoh kocek Rp 35.000. Melihat hal ini ia pun memilih memantau harga di wilayahnya.

“Nanti tergantung kami nunggu teman-teman yang lain gimana kalau sama Rp 12.000 rata ya nggak apa-apa, nunggu sepekan, ini stok yang ada buat kerjaan motor,” terangnya.

Meski demikian ia optimis Pertalite eceran tetap dibutuhkan masyarakat. Terlebih di sekitarnya tak ada SPBU terdekat, sehingga masyarakat yang malas antre atau dalam keadaan darurat akan tetap memilih membeli eceran.

“Mau naik sampai harga berapa tetap laku tapi waktu buat kulakannya itu yang belum ada, ini selama nggak jualan ada yang nyari sudah langganan kok nggak ada kosong, kenaikan terlalu berat jadi pilih libur dulu,” tutupnya.