Munas XI HARPI “Melati” Digelar di Solo, Teguhkan Peran Perias Pengantin Tradisional di Era Digital

oleh
oleh
Musyawarah Nasional (Munas) XI Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) “Melati” yang berlangsung pada 10–11 Juni 2025 di Solo | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS — Kota Solo menjadi tuan rumah pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) XI Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) “Melati” yang berlangsung pada 10–11 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi organisasi yang telah berdiri sejak 1981 itu untuk melakukan evaluasi, konsolidasi, dan proyeksi program lima tahun ke depan.

Dengan tema “Melalui Citra Pengantin Nusantara Menjadikan HARPI ‘Melati’ Sebagai Organisasi yang Selaras dan Berdaya Guna di Era Digital”, Munas XI menghadirkan 22 dari 28 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar di seluruh Indonesia. Total peserta yang hadir mencapai sekitar 560 orang dari berbagai provinsi.

Ketua Umum DPP HARPI “Melati” Hj. Suyatmi Harun, MM, menjelaskan bahwa Munas ini merupakan agenda strategis untuk melaporkan kinerja organisasi periode 2019–2025 serta menetapkan Ketua Umum baru untuk periode 2025–2030.

“Kami berharap kegiatan ini dapat merumuskan program kerja yang benar-benar berdampak bagi seluruh anggota, pengurus, masyarakat, dan pemerintah,” ujar Suyatmi, Selasa (11/6/2025).

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Gala Dinner pada 10 Juni 2025 di Gedung Wanita, Solo. Acara ini diisi dengan apresiasi kepada DPD-DPD yang hadir, pagelaran tata rias pengantin dari seluruh Jawa Tengah, serta hiburan musik dan tari. Kegiatan ini dikoordinatori oleh Bapak Kannu dan Ibu Umi.

Munas XI sendiri digelar pada 11 Juni dengan agenda utama pembahasan AD/ART, laporan pertanggungjawaban program kerja lima tahun terakhir, penyusunan program kerja baru, serta pemilihan Ketua Umum.

Selain forum organisasi, HARPI “Melati” juga menggelar seminar tata rias pengantin tradisional serta lomba tata rias pengantin. Kompetisi ini menghadirkan enam kategori rias pengantin, di antaranya Paes (Yogya Jangan Menir, Solo Putri, Bugis), Non Paes (Sunda Siger, Jambi), dan kategori inovasi (gaun panjang berkerudung inovatif).

Menurut Kanas Kosasih K., SE., MHt. dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Tata Rias Pengantin, Munas ini juga menjadi ajang kompetensi untuk para perias muda.

“Ini adalah sarana edukasi dan pengembangan profesi tata rias pengantin, termasuk pengenalan upacara adat dari berbagai daerah,” ujarnya.

Kanas juga menjelaskan alasan pemilihan Kota Solo sebagai lokasi Munas.

“Solo memiliki nilai historis dan budaya tinggi, serta kuliner yang mendunia. Kota ini sangat representatif untuk mempertemukan perias pengantin dari seluruh Nusantara,” katanya.

Lebih jauh, HARPI “Melati” menegaskan komitmennya dalam mendukung program pemerintah di bidang pendidikan non-formal. Melalui pelatihan dan uji kompetensi bersertifikat, organisasi ini berkontribusi menciptakan SDM unggul di bidang tata rias pengantin.

“Kami ingin terus tumbuh sebagai organisasi yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberdayakan anggota melalui keterampilan yang kompetitif dan terstandarisasi,” tegas Kanas.

Dengan semangat kolaborasi dan adaptasi terhadap era digital, Munas XI HARPI “Melati” di Solo menjadi tonggak baru dalam peran aktif perias pengantin tradisional di panggung budaya dan industri kreatif nasional.