SOLO, MettaNEWS – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surakarta menggelar simulasi proses pencoblosan seperti aslinya.
Simulasi hari pencoblosan ini berlangsung di TPS 3 Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Selasa (26/12/2023).
Peserta dalam simulasi ini benar-benar riil seperti yang akan berlangsung pada Rabu, 14 Februari 2023.
Ketua KPU Surakarta Bambang Christanto menjelaskan semua petugas hingga peserta pada simulasi ini adalah riil. Sesuai dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) dan petugasnya.
“Simulasi hari ini adalah tindak lanjut surat KPU RI nomor 1447. Berkaitan dengan KPU Kota Kabupatem di seluruh satuan kerja (satker) harus melaksanakan simulasi. Kita adakan di TPS 3 Baluwarti, dengan jumlah peserta sesuai DPT,” ujar Bambang, Selasa (26/12/2023).
Bambang mengatakan untuk TPS 3 Baluwarti ada 233 DPT. Dengan 7 petugas KPPS dan 2 petugas keamanan, tata tertib ketertiban.
“Petugasnya ini juga riil. Mereka yang sudah mendaftar menjadi calon KPPS yang akan kita lantik bulan Januari nanti,” tuturnya.
Untuk TPS 3 Baluwarti lanjut Bambang, ada 4 pemilih penyandang disabilitas.
“Dari 233 DPT ini ada 4 pemilih yang diasbilitas. Tiga penyandang tuna netra dan 1 disabilitas intelensia. Tapi mereka mendapat hak yang sama yakni 5 kertas suara,” ujarnya.
Lima kertas suara tersebut adalah kertas suara pasangan presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPR kabupaten/kota dan DPD.
“Simulasi ini juga untuk mengukur kesiapan PPS dan PPK yang sudah mengikuti bimbingan teknis. Bagaimana mereka mampu teknik penghitungan surat suara, merekap. Kemudian juga<span;> berkaitan dengan alokasi waktu bagaimana mereka menerapkan aturan sesuai yang ada di PKPU,” terang Bambang.

Bambang mengungkapkan pemilihan TPS 3 Baluwarti dengan beberapa pertimbangan. Seperti adanya pendapa yang beratap dan tidak bocor, tempat parkir yang memadai, musala, toilet dan akses yang mudah bagi warga.
“Dengan adanya simulasi seperti riil nya ini kami berharap semua petugas siap sesuai alur. Bagaimana menyiapkan set lokasi TPS, tempat pencoblosan, tempat penghitungan suara dan lainnya. Simulasi hari ini juga yang akan kita bawa untuk bahan petugas KPPS,” pungkasnya.
Pada simulasi tersebut, Samiyem (75) penyandang disabilitas tuna netra mengaku lancar saat mencoblos.
Seorang tetangganya, Sri Handayani menjadi pendamping dan menuntun nya menuju bilik suara.
“Ndak ada kendala, lancar karena ada yang mendampingi. Kalau ndak ya susah karena banyak banget kertas suaranya. Tidak seperti dulu yang cuma sedikit yang harus di coblos,” ujarnya.
Samiyem menunjuk tetangganya Sri Handayani untuk menemani dan mengarahkan dalam bilik suara.
“Bu Samiyem memilih saya karena anak-anaknya di luar kota semua,” imbuh Sri Handayani.










