SEMARANG, MettaNEWS – Pagi hari, Ray Aditya Setyaningrum menjalankan tugasnya sebagai guru olahraga di sekolah. Namun, ketika aktivitas mengajar selesai, perjuangannya belum berakhir. Perempuan berusia 34 tahun itu masih harus meluangkan waktu untuk melatih anak-anak sebelum akhirnya berlatih selam di kolam renang pada malam hari.
Rutinitas tersebut dijalani Ray di tengah tanggung jawabnya sebagai pendidik sekaligus atlet selam. Kerja kerasnya pun berbuah manis pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. Mewakili kontingen Kota Solo, Ray berhasil menyumbangkan dua medali perak dari cabang olahraga (cabor) selam kolam.
Dua medali tersebut diraih dari nomor surface 50 meter putri dengan catatan waktu 20,90 detik dan apnea 50 meter putri dengan waktu 19,88 detik.
Bagi Ray, capaian tersebut menjadi buah dari latihan panjang yang dijalaninya selama setahun terakhir. Meski belum berhasil meraih medali emas, ia tetap bersyukur bisa kembali berdiri di podium setelah sempat melewati masa sulit dalam kariernya.
“Senang banget pastinya dan bersyukur banget. Latihan yang satu tahun ini ternyata enggak sia-sia. Walaupun belum bisa mendapatkan medali emas, tetap bersyukur atas apa yang sudah didapat hari ini,” ucap Ray, Jumat (23/10/2026) malam.
Berawal dari Renang, Jatuh Hati pada Olahraga Selam
Perjalanan Ray di dunia olahraga bermula dari renang. Ketertarikannya terhadap olahraga selam muncul pada 2012, ketika ia melihat teman-temannya mengikuti aktivitas diving.
Penggunaan fin atau sirip serta monofin menjadi salah satu hal yang membuat Ray tertarik menekuni olahraga tersebut. Sejak saat itu, ia mulai serius mengembangkan kemampuannya hingga menjadikan selam sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Bakat Ray mulai terlihat ketika tampil di Porprov Jawa Tengah 2013. Pada ajang tersebut, ia langsung menorehkan prestasi dengan meraih satu medali emas dan dua medali perak.
Prestasi itu menjadi awal dari perjalanan panjangnya sebagai atlet selam. Pada Porprov Jateng 2018, Ray kembali memperkuat kontingen Kota Solo di nomor selam kolam dan berhasil membawa pulang satu medali perak.
Namun, perjalanan seorang atlet tidak selalu berjalan mulus. Saat berlaga di Porprov Pati Raya 2023, Ray harus menerima kenyataan gagal meraih medali.
Kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia tetap menjalani latihan dan berusaha memperbaiki kemampuan hingga akhirnya kembali meraih prestasi pada Porprov Jateng 2026 dengan dua medali perak.
“Porprov Jateng tahun ini baru dapat medali lagi. Dua medali perak saya persembahkan yang jelas untuk orang tua, kemudian untuk Kota Solo yang selalu support dan teman-teman lainnya,” ungkapnya.
Selain berlaga di tingkat provinsi, Ray juga pernah merasakan persaingan di tingkat nasional melalui Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 dan sejumlah kejuaraan nasional (kejurnas). Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk terus mengasah kemampuan setelah lebih dari satu dekade menekuni olahraga selam.
Membagi Waktu antara Mengajar dan Berlatih
Di luar arena pertandingan, Ray memiliki tanggung jawab sebagai guru olahraga di SD Negeri Pabelan 1, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Ia juga telah berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sejak 2019.
Rutinitas hariannya menuntut kedisiplinan dalam membagi waktu. Setelah mengajar di sekolah, Ray melatih anak-anak pada sore hari. Sementara latihan selam rutin dilakukannya pada malam hari.
Kesibukan tersebut tidak menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun. Sebaliknya, Ray berupaya menjaga keseimbangan antara profesi sebagai guru dan tanggung jawabnya sebagai atlet.
Menurut Ray, jadwal latihan pada malam hari tidak mengganggu aktivitasnya di sekolah. Kedisiplinan dalam mengatur waktu menjadi salah satu kunci agar kedua tanggung jawab tersebut dapat berjalan beriringan.
“Nggak mengganggu aktivitas mengajar sebagai guru olahraga. Karena latihan selam itu setiap malam. Pesan saya untuk para atlet muda jangan pantang menyerah, walaupun nggak setiap waktu menjadi juara,” tandasnya.
Dua medali perak yang diraih Ray di Porprov Jateng 2026 bukan sekadar tambahan koleksi prestasi. Capaian itu juga menjadi bukti bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan seorang atlet.
Di tengah kesibukan mengajar dan melatih, Ray menunjukkan bahwa konsistensi, disiplin, dan kemauan untuk bangkit dapat membuka jalan menuju prestasi. Bagi para atlet muda, kisahnya menjadi pengingat bahwa proses panjang dan kerja keras tetap berarti, bahkan ketika kemenangan belum selalu berpihak.








