SOLO, MettaNEWS – Maraknya media-media baru yang menghadirkan beragam konten dan disiarkan melalui channel Youtube mengancam media mainstream yang eksis saat ini. Terlebih dengan adanya perbedaan pengawasan antar media terestrial dengan media baru tersebut yang dianggap tidak adil.
Hal ini muncul dalam diskusi KPI dengan tema Mewujudkan Tayangan Berkualitas dan Bermartabat, Sabtu (25/6/2022) di Solo.
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi yang digelar secara daring dan luring ini adalah Wakil Ketua Komisi I DPR RI H. Abdul Kharis, Direktur Pengelolaan Media Publik Kominfo RI Norsodik Gunarjo, perwakilan dari ATVNI Alexander Wibisono, sutradara sekaligus aktor Deddy Mizwar. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua KPI Pusat Agung Suprio dan Wakil Ketua KPI Pusat Mulyo Hadi Purnomo, jajaran komisioner KPI Pusat dan Daerah serta seluruh perwakilan radio dan televisi di Solo dan sekitarnya.
Pada diskusi tersebut Abdul Kharis menggarisbawahi adanya ketimpangan atau ketidakadilan pengawasan antara media terestrial dan media baru (streaming).
“Kami sebagai pembuat undang-undang memandang perlu adanya kesetaraan posisi obyek yang diawasi harus sama. Jangan sampai terjadi ketidakadilan. Yang terstrial diawasi penuh bahkan disemprit bila melanggar tapi media baru los dol tanpa rem dan pengawasan sama sekali. Tentunya ini tidak adil,” tandas Abdul Kharis.
Abdul Kharis mengatakan untuk melakukan pengawasan pada media baru ini perlu alat tidak hanya pengawasan manual.
“Alatnya bukan manual atau manusia tapi lebih ke teknologi jadi mengawasi cooding, kata kuncinya, jadi yang mlanggar otomatis ada peringatan. Saya belum tahu bagaimana teknisnya tapi beberapa negara sudah melakukan ini,” tuturnya.
Menurutnya pengawasan ini lebih pada teknis kata kuci tertentu yang mengarah pada sesuatu yang dilarang sehingga secara otomatis tidak bisa tayang atau diberi peringatan.
“Ini atmosfir baru di KPI. Tayangan-tayangan yang meresahkan melalui produk-produk over to talk itu bisa diminimalisir erornya. Sehingga masyarakat mendapatkan tayangan yang berkualitas dan bermanfaat,” ujarnya.
Nursodik menambahkan lembaga penyiaran adalah penjaga NKRI. Namun melihat kondisi penyiaran saat ini, media terestrial harus berbenah untuk mengejar perubahan teknologi zaman.
“Jangan sampai kalah dengan media baru ini. Caraya ya menghadirkan konten yang mendidik, harus kenal audience dan harus tahu apa yang sidukai oleh audience. Yang utama adalah kualitas dan kualitas,” imbuhnya secara daring.
Sementara itu, aktor Deddy Mizwar yang juga menyampaikan materinya secara daring melihat fenomena yang terjadi di era 4.0 ini,
“Masunya era digital secara teknis audience menuntun gambar dan suara yang lebih baik. Ini akan mempengaruhi para pembuat konten. Sementara tuntutan itu belum dipenuhi, media sosial sudah lebih dulu diburu oleh audeince,” tandasnya.
Menurut Deddy saat ini terjadi proses pendangkalan selera masyarakat akan tontonan televisi. Dan suatu kreativitas disebut Deddy saat ini bisa menjadi rejeki.
“Ini fenomena yang tengah terjadi di masyarakat dewasa ini. Program bagus belum tentu laku, program laku belum tentu bagus. Sehingga banyak melakukan manipulasi kreatif dan terjadi proses pedangkalan selera masyarakat,” pungkasnya.







