Dari Wedangan Jadi Komunitas, Juminten Ingin UMKM Naik Kelas

oleh
Juminten
Jumpa Minum Teh dan Niaga (Juminten) membuat popcorn untuk dibagikan di acara Life From Location (LFL) Metta Solo FM | Robert Dhimas

SOLO, MettaNEWS – Mengenal salah satu wadah UMKM di Solo, Juminten; Jumpa Minum Teh Niaga. Siapan sangka wadah ini lahir dari aktivitas wedangan teh lima tahun silam. Artinya sudah sejak 2017 lalu, Juminten ikut andil dalam pertumbuhan ekonomi di wilayah Solo dan sekitarnya.

Fenia, Ketua Juminten mengingat masa-masa itu, pinginnya komunitas ini dapat terus tumbuh dan membangun silaturahmi. Memiliki sekretariat di warung kopi tubruk Jalan Latar Ireng Nomor 42, Bumi, Laweyan, 54 anggotanya bercengkrama sesekali waktu.

“Srawung silaturahmi anggota Jumineten buat sosialisasi dari narsum menjaga silaturahmi biar eksis,” kata Fenia kepada MettaNEWS.

Miliki 4 fokus divisi; craft, fashion, kuliner dan jasa. Juminten ini berperan dalam pendistribusian produk UMKM. Produk buatan Juminten lebih banyak didominasi batik modifikasi.

“Selain produksi kita juga menjual online kerjasama dengan dinas membantu mendistribusikan kita kedepannya harus naik kelas, awal Juminten ada dari fashion sampai sekarang lebih dominan, batik modifikasi memberdayakan warga Soloraya,” ungkap Fenia.

Sania mengajak masyarakat untuk bergabung dengan komunintasnya. Tak ada persyaratan baik keterampilan, yang dibutuhkan ternyata hanya niat.

“Bergabung tidak harus punya produk UMKM pengin punya usaha kita akan bantu. Di sini kita ajari kemasannya seperti apa, produksi mereka sendiri, perizinannya kita,” jelasnya.

Komunitas independen ini memanfaatkan dana  kas Rp 50 ribu/bulan untuk kegiatan srawung. Bergerak mandiri, komunitas ini ingin UMKM naik kelas.

“Saya berharap para anggota UMKM Juminten naik kelas go internasional. Terlebih kita ada kerjasama dengan Dinkop, Dinas Pariwisata juga. Buat informasi kegiatan seperti pameran atau yang lainnya bisa cek Instagram kami, @srawungjuminten,” tutupnya.

Bantu naikkan penjualan

Sementara itu, Laila salah satu anggota yang bergabung dengan Juminten beberapa bulan lalu mengaku penjualannya meningkat. Ia pun bisa lebih percaya diri unjuk kreatifitas dibidang yang ia geluti, fashion batik dan tenun.

“Ingin ada wadah sering ada pameran, manfaat dapat banyak link orderan berkat komunitas ini. Saya pikir sudah saatnya melebarkan sayap,” kata Laila.

Laila berharap Juminten dapat lebih solid di masa mendatang.

“Sering ada event yang kita disponsori Dinkop, Pemkot, Disperindag jadi lebih besar, usaha selama pandemi kena PHK garmen terjun fashion sebelum bergabung penjualan lewat reseller ambil dagangan setelah gabung Juminten saya percaya diri bisa desain sendiri produk sendiri,” terangnya.

Hanya dibantu sang anak untuk mengurus dagangan, tak sedikit ia mendapatkan penghasilan hingga jutaan rupiah.

“Saya kerjakan sendiri sama anak-anak omzet per bulan 5-8 juta lewat Shopee IG FB, harga blouse tunik Rp 150-170 ribu, biasanya ikut Solo Art Market juga,” katanya.