SOLO, MettaNEWS – Di sudut Pasar Depok yang penuh hiruk-pikuk, aroma khas pakan burung bercampur dengan suara kokok ayam dan kicauan burung memenuhi udara. Hapsari Tin Hidayati, yang akrab disapa Sari, tersenyum lebar saat melangkah masuk. Tempat ini bukan hanya pasar baginya, melainkan ruang penuh kenangan yang menumbuhkan kecintaannya terhadap satwa.
Sari, istri calon Wakil Wali Kota Surakarta Bambang Gage Nugroho dari Paslon 01, mengenang masa kecilnya dengan penuh semangat.
“Dulu, ayah saya sering memelihara burung, dan setiap akhir pekan kami ke Pasar Depok untuk membeli pakan. Saya kecil sangat menikmati setiap kunjungan itu,” tuturnya, sambil sesekali menyapa pedagang yang ia kenal.
Momen-momen sederhana itu, seperti melihat ayam warna-warni atau menyaksikan burung burung kecil berlenggok lucu, membangun hubungan emosional Sari dengan satwa. Ia tumbuh bersama berbagai jenis hewan yang dipelihara keluarganya seperti burung, ayam, merak, dan kucing. Bahkan hingga kini, kecintaannya terhadap satwa terus ia rawat.
“Di rumah ada dua kucing blasteran Persia yang sudah beranak pinak. Saya rawat dengan penuh kasih, dan jika jumlahnya terlalu banyak, saya berikan ke orang lain yang mau memelihara,” katanya.
Menularkan Cinta Satwa ke Generasi Berikutnya
Sari tak ingin kecintaan itu berhenti padanya. Kini, ia meneruskan kebiasaan berkunjung ke Pasar Depok kepada anaknya. Meski hanya untuk membeli pakan burung atau melihat ayam hias, Sari percaya bahwa interaksi sederhana ini bisa menumbuhkan rasa peduli pada satwa sejak dini.
“Anak saya sering diajak eyangnya ke sini. Saya lihat dia juga menikmati suasana pasar ini, seperti saya dulu,” ucapnya sambil melirik kerumunan anak-anak yang asyik bermain di sekitar lapak ayam warna-warni.
Namun, kunjungan ke Pasar Depok kali ini juga membuka matanya terhadap tantangan yang dihadapi pasar hewan tradisional ini. Kebersihan, menurutnya, masih menjadi masalah utama yang perlu perhatian serius.
“Dengan kebersihan yang lebih baik, pasar ini bisa jadi tempat yang lebih nyaman untuk semua. Penambahan petugas kebersihan akan sangat membantu,” ujarnya penuh harap.
Ia juga menyoroti pentingnya memisahkan lokasi makan dari area penjualan hewan. Menurutnya, jarak yang ideal akan memastikan makanan tetap higienis tanpa menghilangkan nuansa pasar yang khas.
Bagi Sari, Pasar Depok bukan sekadar tempat berbelanja. Di balik keriuhan dan aktivitas jual beli, ada warisan nilai yang bisa ditanamkan kepada generasi muda: cinta pada satwa dan penghargaan terhadap kehidupan.
Pasar Depok menjadi saksi perjalanan hidup Sari, dari seorang anak kecil yang kagum pada burung-burung hias, hingga seorang ibu yang ingin menanamkan cinta pada satwa kepada anaknya. Kini, ia berharap semangat ini bisa terus menyala dan membawa perubahan nyata, tak hanya untuk keluarganya, tapi juga bagi masyarakat Solo.
“Mungkin sederhana, tapi kunjungan ke pasar seperti ini punya dampak besar. Di sinilah saya belajar mencintai satwa, dan saya ingin anak-anak saya merasakan hal yang sama,” katanya sambil melangkah keluar, membawa harapan akan masa depan Pasar Depok yang lebih baik.








