KARANGANYAR, MettaNEWS – Bagi sebagian orang, mengoleksi barang-barang antik menjadi sebuah kesenangan. Mengumpulkan barang lawas dari hasil berburu ke tempat-tempat yang khusus menjualnya, atau dari rumah ke rumah sudah pasti dilakoni.
Namun nyatanya tak ada yang benar-benar menjadi kolektor sepenuhnya. Begitu sebaliknya, tak ada yang sepenuhnya menjual barang antik miliknya. Seperti halnya Stefanus (55) kolektor dan penjual barang vintage dari Yogyakarta yang kini menetap di Solo.
Stefanus tak sepenuhnya mengoleksi barang antik yang ia dapat. Sekalipun barang yang ia peroleh merupakan barang langka, ia tak ingin barang itu hanya menjadi pajangan belaka. Stefanus melihatnya sebagai peluang untuk mendapat pundi-pundi uang.
Pun jika barang yang ia dapat tak begitu memiliki nilai jual, ia menjadikannya sebagai koleksi semata. Meski begitu ia tetap menyakini ada saatnya orang akan mencari setiap barang yang ia simpan. Karena bagi pecinta barang antik, setiap barang memiliki arti dan ketertarikan tersendiri.
Untuk mendapatkan barang antik, Stefanus menyebut para kolektor harus hunting ke berbagai tempat, juga wajib menjalin komunikasi dengan sesama pecinta barang antik.
“Kalau vintage itu harusnya memang lebih lama lagi. Tapi saya kebetulan background sudah ada, jadi bisa tau dikit lah mana barang yang bisa laku, mana yang betul-betul lama, termasuk jadul-jadul itu barang yang setengah tua,” kata Stefanus saat ditemui MettaNEWS di Solo Vintage Festival, Minggu (1/8/2022).
Stefanus telah menggeluti bidang ini di tahun 2016 lalu. Baginya, rentang waktu sepanjang itu belum membuatnya menjadi kolektor dan penjual vintage ahli.
Menurutnya, menjadi kolektor barang-barang antik membutuhkan jam terbang untuk mengetahui nilai suatu barang jadul.
“Barang jadul itu belum tua tapi juga tidak terlalu muda memang sudah mulai langka seperti contohnya jam-jam gitu, jam beker, seperti itu vintage. Makanya barang jadul itu semakin langka semakin mahal,” terang Stafanus.
Berbeda dengan barang yang biasa ia bawa di event, Stefanus biasanya menjajakan barang jadul yang lebih ringkes di Pasar Elpabes.
“Kalau sehari hari di rumah, tapi kalau pagi itu saya sempatkan jualan di pasar Elpabes,” katanya.
Harga dan tingkat pemasaran barang yang dijual berbeda-beda. Bagi kolektor sepertinya untuk menentukkan harga suatu barang harus melihat dari usia dan kelangkaan.
“Kamera itu dari ratusan ribu sampai jutaan, ya nggak mesti juga, karena merk ngaruh juga yang merek-merek mahal yang bertele lebih mahal, tapi kalau yang manual ini lebih murah seperti yang pocket ini lebih murah, Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu,”
Salah satu koleksinya adalah enamel atau papan nama yang dibanderol hingga Rp 100 juta menjadi barang antik nan jadul yang paling mahal dan populer.
“Namanya enamel, papan nama itu cukup mahal, enamel itu bisa papan nama sebuah iklan rokok, iklan oli, atau sebagainya. Itu kalo semakin langka semakin mahal. Enamel ya liat besarnya, liat kelangkaan barang itu sudah bisa ditentukan, sekitar 5-100 juta bisa. Lampu-lampu itu juga cukup mahal,” sebutnya.
Baginya yang sudah kadung jatuh hati dengan barang antik memilih untuk tetap mencintai hobinya sebagai ladang penghidupan. Hobi yang jadi uang merupakan hal yang menyenangkan baginya untuk menikmati masa tuanya nanti.







